Din Syamsuddin: Semangat dan Perjuangan Lukman Harun Perlu Dilanjutkan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Aula SC, UIN Online - Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin  mengatakan, melihat peran tokoh Muslim dalam memberikan sumbangsih keilmuan terhadap dunia internasional maupun dunia Islam, harus dipikirkan pula regenerasi selanjutnya. Karena itu perlu pengkaderan pemimpin baru untuk berani tampil, yang nantinya akan membawa nama baik bangsa Indonesia.

“Lukman Harun kini telah tiada, namun semangat perjuangan dan kepemimpinannya untuk bangsa ini perlu diteruskan,” kata Din dalam seminar bertema Lukman Harun, Muhammadiyah dan Dunia Islam yang diadakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Aula Student Center, Selasa (1/12).

Turut hadir dalam kesempatan itu Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat, Dekan FISIP Prof Dr Bahtiar Effendy, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Drs Hajriyanto Y Thohari MA, Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) A Riawan Amin, Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah Dr Anwar Abbas, dan perwakilan dari keluarga besar Lukman Harun.

Din menjelaskan, Lukman Harun merupakan sosok yang memiliki visi jelas dalam memajukan politik bangsa Indonesia. Menurut Din, meski terbilang pemikiran Lukman Harun pragmatis, namun kepekaannya terhadap masyarakat bawah sangat tinggi.

“Karya dan jasa Lukman Harun sangat berpengaruh perpolitikan Indonesia saat itu. Terlebih ia seorang pakar politik, diplomat ulung, dan juga memiliki kepedulian sosial,” ujar Din yang juga Guru Besar Pemikiran Politik Islam FISIP UIN. Menurut Din, Lukman Harun merupakan menteri luar negerinya Muhammadiyah.

Sementara itu Ketua Umum Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) Dr Sulastomo mengatakan, Lukman Harun telah berhasil memberi kedamaian perpolitikan dengan mendirikan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) yang diketuai oleh Mintaredja.

Setelah tidak diberi izin oleh pemerintah untuk menghidupkan kembali Partai Masyumi, dia mendirikan Parmusi yang merupakan wadah keluarga besar Bulan Bintang,” jelas Sulastomo.

Meski begitu, lanjut Sulastomo, berbagai perubahan di awal Orde Baru menyebabkan keraguan sesama Muslim, khususnya di kalangan keluarga besar Bulan-Bintang. Karena itu tidak mustahil adanya kepentingan politik, terlebih saat itu menjelang pemilihan umum pertama di era Orde Baru.

Lukman Harun lahir di Limapuluh Kota, Sumatera Barat, 6 Mei 1934. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Limbanang dan Payakumbuh, Sumatera Barat. Ia meraih gelar sarjana dari Fakultas Sosial Ekonomi dan Politik Universitas Nasional, Jakarta (1962). Karirnya dimulai dari menjadi pegawai di Kantor Pusat Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan (1952-1954).

Kemudian ia menjadi Pengatur Tata Usaha di Pusat Jawatan Pertanian Rakyat Departemen Pertanian (1954-1959). Selanjutnya menjadi Penata Agraria di Direktorat Jenderal Agraria Departemen Dalam Negeri (1959). Ia juga pernah menjadi anggota DPR GR/MPR GR. Di Muhammadiyah ia pernah menjabat sebagai Ketua Hubungan Luar Negeri/Juru Bicara Muhammadiyah.[]

Din Syamsuddin: Semangat dan Perjuangan Lukman Harun Perlu Dilanjutkan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Aula SC, UIN Online - Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin  mengatakan, melihat peran tokoh Muslim dalam memberikan sumbangsih keilmuan terhadap dunia internasional maupun dunia Islam, harus dipikirkan pula regenerasi selanjutnya. Karena itu perlu pengkaderan pemimpin baru untuk berani tampil, yang nantinya akan membawa nama baik bangsa Indonesia.

“Lukman Harun kini telah tiada, namun semangat perjuangan dan kepemimpinannya untuk bangsa ini perlu diteruskan,” kata Din dalam seminar bertema Lukman Harun, Muhammadiyah dan Dunia Islam yang diadakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Aula Student Center, Selasa (1/12).

Turut hadir dalam kesempatan itu Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat, Dekan FISIP Prof Dr Bahtiar Effendy, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Drs Hajriyanto Y Thohari MA, Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) A Riawan Amin, Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah Dr Anwar Abbas, dan perwakilan dari keluarga besar Lukman Harun.

Din menjelaskan, Lukman Harun merupakan sosok yang memiliki visi jelas dalam memajukan politik bangsa Indonesia. Menurut Din, meski terbilang pemikiran Lukman Harun pragmatis, namun kepekaannya terhadap masyarakat bawah sangat tinggi.

“Karya dan jasa Lukman Harun sangat berpengaruh perpolitikan Indonesia saat itu. Terlebih ia seorang pakar politik, diplomat ulung, dan juga memiliki kepedulian sosial,” ujar Din yang juga Guru Besar Pemikiran Politik Islam FISIP UIN. Menurut Din, Lukman Harun merupakan menteri luar negerinya Muhammadiyah.

Sementara itu Ketua Umum Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) Dr Sulastomo mengatakan, Lukman Harun telah berhasil memberi kedamaian perpolitikan dengan mendirikan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) yang diketuai oleh Mintaredja.

Setelah tidak diberi izin oleh pemerintah untuk menghidupkan kembali Partai Masyumi, dia mendirikan Parmusi yang merupakan wadah keluarga besar Bulan Bintang,” jelas Sulastomo.

Meski begitu, lanjut Sulastomo, berbagai perubahan di awal Orde Baru menyebabkan keraguan sesama Muslim, khususnya di kalangan keluarga besar Bulan-Bintang. Karena itu tidak mustahil adanya kepentingan politik, terlebih saat itu menjelang pemilihan umum pertama di era Orde Baru.

Lukman Harun lahir di Limapuluh Kota, Sumatera Barat, 6 Mei 1934. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Limbanang dan Payakumbuh, Sumatera Barat. Ia meraih gelar sarjana dari Fakultas Sosial Ekonomi dan Politik Universitas Nasional, Jakarta (1962). Karirnya dimulai dari menjadi pegawai di Kantor Pusat Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan (1952-1954).

Kemudian ia menjadi Pengatur Tata Usaha di Pusat Jawatan Pertanian Rakyat Departemen Pertanian (1954-1959). Selanjutnya menjadi Penata Agraria di Direktorat Jenderal Agraria Departemen Dalam Negeri (1959). Ia juga pernah menjadi anggota DPR GR/MPR GR. Di Muhammadiyah ia pernah menjabat sebagai Ketua Hubungan Luar Negeri/Juru Bicara Muhammadiyah.[]