Dia Itu Om atau Tante,Sih?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

SUATU hari seorang bocah bertanya kepada ibunya.”Bu,dia itu sesungguhnya om atau tante, sih?” Pertanyaan itu muncul setelah anak tadi sering menonton acara televisi dan pembawa acaranya sering berganti peran, kadang sebagai sosok laki-laki, lain kali sebagai perempuan.

 

Sekali waktu tampil gagah, pada waktu yang lain tampil cantik.Kebetulan kedua peran itu memang mengesankan sempurna, sehingga bocah tadi—dan mungkin sekali dia mewakili sekian banyak penonton lain—menjadi bingung.

 

Tidak bisa membedakan,presenter tadi laki-laki ataukah perempuan? Cerita tadi saya terima dari putri saya yang kebetulan seorang psikolog yang kini aktif di Yayasan Buah Hati bersama Ibu Elly Risman,psikolog senior yang sangat peduli dengan program pelatihan parenting berdasarkan nilainilai spiritual.

 

Dari sudut pandang psikologi, yang memprihatinkan sesungguhnya bukan saja anak yang bingung tadi, melainkan juga perkembangan kepribadian selebriti yang kerap memainkan peran ganda dan sering bertingkah laku layaknya seorang ”waria”: jenis kelamin boleh pria, bertingkah laku layaknya wanita.

 

Bahkan tingkahnya lebih kenes ketimbang umumnya wanita. Menurut nasihat psikolog, bagaimanapun sebuah peran yang diulangulang akan memengaruhi kepribadian seseorang. Jika seorang aktor atau aktris, baik sinetron maupun film sering kali berperan sebagai sosok pahlawan, misalnya, pasti akan berpengaruh ke dalam dirinya.

 

Sebab, dia dituntut untuk menjiwai alur cerita agar permainannya total dan bagus. Jadi, dalam peran itu ada proses peniruan dan identifikasi diri. Konon, ceritanya beberapa aktor kawakan kelas Hollywood seperti Antony Quinn, pribadinya berubah setelah memerankan sosok semacam Hamzah dalam film kolosal The Message.

 

Begitu pun aktor lain yang memerankan Saladin, ataupun Mahatma Gandi. Mereka menjadi lebih bijak dalam menjalani dan memaknai kehidupan. Pandangannya terhadap dunia Timur juga berubah.Mungkin sekali hal itu dipengaruhi oleh pemahaman dan penghayatan terhadap peran yang dimainkan.

 

Hiburan Cerdas dan Edukatif

 

Berdasarkan survei yang dilakukan Elly Risman di tujuh provinsi, adegan ”kebanci- banci-an” dalam acara televisi itu lama-lama bisa diterima sebagai hal yang biasa, bahkan dinikmati penonton. Acara itu menjadi tontonan keluarga.

 

Maklum, menonton televisi sudah membudaya di masyarakat, telah menjadi bagian dari agenda hidup keseharian sebagaimana makan dan tidur. Namun, pertanyaan Elly Risman, sadarkah pihak orangtua dan pengelola televisi akan akibat psikologis yang ditimbulkan oleh acara itu, khususnya terhadap perkembangan anak? Anak-anak dan orangtua akan kehilangan kepekaan gender dan moral.

 

Bahkan potensial mengganggu proses identifikasi jati diri karena bagaimanapun para selebriti itu menjadi salah satu model bagi anak-anak. Adapun terhadap ”gay” yang senang pada praktik homoseksual, di kalangan psikolog sendiri muncul sikap pro-kontra.Ada yang mengatakan hal itu disebabkan kelainan jiwa yang bersifat bawaan, sehingga keberadaan mereka pantas dikasihani.

 

Jiwa wanita tetapi berada dalam tubuh laki-laki.Ada juga yang berpendapat, perilaku menyimpang itu semata produk lingkungan dan pendidikan. Terlepas dari pro-kontra tadi, selebriti yang sengaja tampil dengan peran berganti-ganti kelamin pada dasarnya laki-laki tulen namun senang berpenampilan sebagai perempuan, pantas dipertanyakan.

 

Mereka tampil seperti itu semata untuk mengundang tawa pemirsa, namun kurang menyadari bahwa hal itu telah membuat orangtua resah karena efek negatif yang ditimbulkan terhadap anak-anak.Ada anak laki-laki yang minta mengenakan pakaian perempuan dengan segala aksesorinya, ingin meniru apa yang dilihat di televisi.

 

Jika ini berkelanjutan, maka baik selebriti yang melakukan maupun anak-anak yang jadi pemirsa, akan mengalami perkembangan pribadi yang tidak normal. Dari sisi jumlah, selebriti yang senang dengan peran ini mungkin tidak banyak. Pemirsa pun mungkin bisa menghitung dan hafal namanama mereka.

 

Tetapi bagaimana dengan pihak anakanak yang jadi penonton? Jumlahnya pasti lebih banyak. Apakah para selebriti itu juga senang kalau anakanaknya nanti tumbuh dengan kepribadian ganda? Menarik direnungkan, terdapat pendapat dari kalangan kritikus panggung, pelawak yang tidak kreatif dan tidak cerdas, jika kekurangan bahan lawakan maka cenderung menyajikan lawakan yang bersifat porno atau bertingkah yang paradoksal semacam laki-laki lalu jadi ”wanita”.

 

Padahal pelawak yang memang berbakat dan cerdas,untuk menjadi lucu tidak mesti menyinggung hal-hal porno.Kalaupun menyinggung, caranya tidaklah vulgar. Para psikolog, pendidik dan ahli agama rasanya perlu duduk bersama menyikapi fenomena ”waria” dalam acara televisi ini.

 

Diperlukan pendekatan yang bijak dan penuh empati,bukan dengan kebencian dan penghakiman. Ajak dialog baik-baik tanpa merendahkan pihak lain. Pasti banyak pelajaran dan penjelasan ilmiah mengapa mereka bertingkah seperti itu serta akibat negatif apa saja yang ditimbulkan.

 

Kita hargai peran mereka yang bermaksud menghibur rakyat dengan profesi mereka sekalian mencari rezeki dengan cara halal. Kalaupun terdapat kesalahan dan penyimpangan, mari kita bicara dengan penuh persaudaraan. Profesi apa sihyang steril dari kesalahan dan penyimpangan? (*)

 

*)Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Dia Itu Om atau Tante,Sih?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

SUATU hari seorang bocah bertanya kepada ibunya.”Bu,dia itu sesungguhnya om atau tante, sih?” Pertanyaan itu muncul setelah anak tadi sering menonton acara televisi dan pembawa acaranya sering berganti peran, kadang sebagai sosok laki-laki, lain kali sebagai perempuan.

 

Sekali waktu tampil gagah, pada waktu yang lain tampil cantik.Kebetulan kedua peran itu memang mengesankan sempurna, sehingga bocah tadi—dan mungkin sekali dia mewakili sekian banyak penonton lain—menjadi bingung.

 

Tidak bisa membedakan,presenter tadi laki-laki ataukah perempuan? Cerita tadi saya terima dari putri saya yang kebetulan seorang psikolog yang kini aktif di Yayasan Buah Hati bersama Ibu Elly Risman,psikolog senior yang sangat peduli dengan program pelatihan parenting berdasarkan nilainilai spiritual.

 

Dari sudut pandang psikologi, yang memprihatinkan sesungguhnya bukan saja anak yang bingung tadi, melainkan juga perkembangan kepribadian selebriti yang kerap memainkan peran ganda dan sering bertingkah laku layaknya seorang ”waria”: jenis kelamin boleh pria, bertingkah laku layaknya wanita.

 

Bahkan tingkahnya lebih kenes ketimbang umumnya wanita. Menurut nasihat psikolog, bagaimanapun sebuah peran yang diulangulang akan memengaruhi kepribadian seseorang. Jika seorang aktor atau aktris, baik sinetron maupun film sering kali berperan sebagai sosok pahlawan, misalnya, pasti akan berpengaruh ke dalam dirinya.

 

Sebab, dia dituntut untuk menjiwai alur cerita agar permainannya total dan bagus. Jadi, dalam peran itu ada proses peniruan dan identifikasi diri. Konon, ceritanya beberapa aktor kawakan kelas Hollywood seperti Antony Quinn, pribadinya berubah setelah memerankan sosok semacam Hamzah dalam film kolosal The Message.

 

Begitu pun aktor lain yang memerankan Saladin, ataupun Mahatma Gandi. Mereka menjadi lebih bijak dalam menjalani dan memaknai kehidupan. Pandangannya terhadap dunia Timur juga berubah.Mungkin sekali hal itu dipengaruhi oleh pemahaman dan penghayatan terhadap peran yang dimainkan.

 

Hiburan Cerdas dan Edukatif

 

Berdasarkan survei yang dilakukan Elly Risman di tujuh provinsi, adegan ”kebanci- banci-an” dalam acara televisi itu lama-lama bisa diterima sebagai hal yang biasa, bahkan dinikmati penonton. Acara itu menjadi tontonan keluarga.

 

Maklum, menonton televisi sudah membudaya di masyarakat, telah menjadi bagian dari agenda hidup keseharian sebagaimana makan dan tidur. Namun, pertanyaan Elly Risman, sadarkah pihak orangtua dan pengelola televisi akan akibat psikologis yang ditimbulkan oleh acara itu, khususnya terhadap perkembangan anak? Anak-anak dan orangtua akan kehilangan kepekaan gender dan moral.

 

Bahkan potensial mengganggu proses identifikasi jati diri karena bagaimanapun para selebriti itu menjadi salah satu model bagi anak-anak. Adapun terhadap ”gay” yang senang pada praktik homoseksual, di kalangan psikolog sendiri muncul sikap pro-kontra.Ada yang mengatakan hal itu disebabkan kelainan jiwa yang bersifat bawaan, sehingga keberadaan mereka pantas dikasihani.

 

Jiwa wanita tetapi berada dalam tubuh laki-laki.Ada juga yang berpendapat, perilaku menyimpang itu semata produk lingkungan dan pendidikan. Terlepas dari pro-kontra tadi, selebriti yang sengaja tampil dengan peran berganti-ganti kelamin pada dasarnya laki-laki tulen namun senang berpenampilan sebagai perempuan, pantas dipertanyakan.

 

Mereka tampil seperti itu semata untuk mengundang tawa pemirsa, namun kurang menyadari bahwa hal itu telah membuat orangtua resah karena efek negatif yang ditimbulkan terhadap anak-anak.Ada anak laki-laki yang minta mengenakan pakaian perempuan dengan segala aksesorinya, ingin meniru apa yang dilihat di televisi.

 

Jika ini berkelanjutan, maka baik selebriti yang melakukan maupun anak-anak yang jadi pemirsa, akan mengalami perkembangan pribadi yang tidak normal. Dari sisi jumlah, selebriti yang senang dengan peran ini mungkin tidak banyak. Pemirsa pun mungkin bisa menghitung dan hafal namanama mereka.

 

Tetapi bagaimana dengan pihak anakanak yang jadi penonton? Jumlahnya pasti lebih banyak. Apakah para selebriti itu juga senang kalau anakanaknya nanti tumbuh dengan kepribadian ganda? Menarik direnungkan, terdapat pendapat dari kalangan kritikus panggung, pelawak yang tidak kreatif dan tidak cerdas, jika kekurangan bahan lawakan maka cenderung menyajikan lawakan yang bersifat porno atau bertingkah yang paradoksal semacam laki-laki lalu jadi ”wanita”.

 

Padahal pelawak yang memang berbakat dan cerdas,untuk menjadi lucu tidak mesti menyinggung hal-hal porno.Kalaupun menyinggung, caranya tidaklah vulgar. Para psikolog, pendidik dan ahli agama rasanya perlu duduk bersama menyikapi fenomena ”waria” dalam acara televisi ini.

 

Diperlukan pendekatan yang bijak dan penuh empati,bukan dengan kebencian dan penghakiman. Ajak dialog baik-baik tanpa merendahkan pihak lain. Pasti banyak pelajaran dan penjelasan ilmiah mengapa mereka bertingkah seperti itu serta akibat negatif apa saja yang ditimbulkan.

 

Kita hargai peran mereka yang bermaksud menghibur rakyat dengan profesi mereka sekalian mencari rezeki dengan cara halal. Kalaupun terdapat kesalahan dan penyimpangan, mari kita bicara dengan penuh persaudaraan. Profesi apa sihyang steril dari kesalahan dan penyimpangan? (*)

 

*)Rektor UIN Syarif Hidayatullah