Dharma Wanita, Belajar Angklung di Saung Udjo

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

SEORANG wanita muda pemandu di pusat kesenian tradisional Sunda, Saung Angklung Udjo, Bandung, Jawa Barat, dengan cekatan melekuk-lekukan pergelangan tangannya. Ia memberi tanda mengenai not-not lagu yang harus dimainkan oleh para pengunjung yang ingin belajar bermain angklung. Sementara itu, musik pengiring, seperti gitar, gendang, arumba, dan organ siap bermain seirama dengan goyangan angklung.

Ratusan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Jakarta, yang siang itu sedang belajar bermain angklung pun terus memerhatikan. Sambil memegang angklung masing-masing di tangan yang dipinjamkan pihak manajemen, mereka lalu mencoba sesuai nomor not angka yang dipilih secara acak. Satu not nada –yang tertera pada angklung– dipegang oleh beberapa pemain.

Setelah mengenal bunyi not-not itu, mereka kemudian diminta memainkan sebuah lagu anak-anak karya AT Mahmud: Ambilkan Bulanku. Sementara sang pemandu hanya memberi isyarat melalui lekukan pergelangan tangan dan jemari lentiknya. Lagu pun dapat dinyanyikan sesuai irama angklung dengan syahdu. “Wah, enak juga ya,” celetuk salah seorang ibu muda.

Pada Kamis (30/6) lalu, ibu-ibu yang tergabung dalam DWP mengadakan rihlah (perjalanan wisata) ke Bandung. Tujuan utama mereka ke sanggar seni budaya Sunda, Saung Angklung Udjo, di Jalan Padasuka 118, Bandung Timur.

Menurut Ketua DWP Ait Chairiyah Komaruddin Hidayat, rihlah ke Saung Angklung Udjo dimaksudkan untuk memperkenalkan budaya lokal Jawa Barat. Meski anggota DWP tidak semua berasal dari Jawa Barat, pengenalan budaya Sunda tersebut diharapkan dapat turut serta melestarikan budaya lokal, khususnya alat musik tradisional angklung, yang kini sudah ditetapkan badan organisasi dunia, Unesco, sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

“Kita berharap ibu-ibu anggota DWP dapat mengapresiasi budaya lokal tersebut,” katanya. Tak hanya itu, mereka juga dapat memainkan alat musik bambu tersebut secara langsung di panggung pertunjukan.

Saung Angklung Udjo (SAU) didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya, Uum Umiyati. SAU didirikan sebagai workshop kebudayaan, seperti tempat pertunjukan dan pusat kerajinan tangan, serta workshop instrumen musik dari bambu. Selain itu, SAU mempunyai tujuan sebagai laboratorium kependidikan dan pusat belajar untuk memelihara kebudayaan Sunda, khususnya angklung.

Di SAU, para pengunjung selain dapat menikmati art performance yang menampilkan beragam kesenian tradisional Jawa Barat, seperti wayang golek, tarian, pesta rakyat, harmoni arumba, dan angklung, juga dapat berbelanja aneka souvenir antik berupa kerajinan dari bambu.

Dalam kunjungan anggota DWP ke SAU, pertunjukan diawali dengan kesenian wayang golek dalam beberapa menit. Setelah itu disusul dengan penampilan tari topeng, tari kuda lumping, pesta kesenian rakyat, cara bermain angklung, harmoni arumba, dan konser angklung. Semua disajikan dalam satu paket dan dengan durasi sekitar dua jam.

Yang menarik, para pemain yang terlibat dalam art performance itu tampaknya lebih banyak didominasi anak-anak. Mereka tak lain para peserta didik SAU yang tengah belajar bermain musik daerah. Di SAU, yang menjadi pusat workshop bermain alat-alat musik bambu, anak-anak itu juga ikut terlibat mengajari para pengunjung bermain musik angklung. Mereka turun ke arena, dan tak segan-segan bergaul dengan orang dewasa, yang usianya lebih tua.

Sementara itu, pada pertunjukan konser angklung yang dipadu dengan arumba, para pemain musik sempat membawakan beberapa buah lagu daerah di Nusantara. Bahkan salah satu lagu hit Wali, Tomat (Taubat Maksiat), juga turut memesonakan para pengunjung. Lewat alunan musik instrumentalnya, semua lagu yang dibawakan seakan tak mampu menghentikan kaki para pengunjung bergerak.

Hampir semua anggota DWP larut dalam kegembiraan. Sebab, selama pertunjukan berlangsung, para pemain tak hanya mempertontonkan kelincahan bermain segala jenis alat musik angklung, tetapi juga mengajak kaum ibu untuk bergembira ria ke tengah arena. Tak ayal, ruang arena pertunjukan yang beralaskan lantai semen itu pun dipenuhi kaum ibu dan anak-anak yang menari dan menyanyi bersama.

Banyak anggota DWP berdecak kagum melihat penampilan mereka. Meski masih anak-anak dan berusia muda, namun tampaknya mereka cukup piawai dalam menjamu setiap pengunjung SAU. Mereka tampaknya sudah terlatih, bahkan terbiasa menjamu tamu-tamunya yang datang. Dua pemandu –tepatnya MC– wanita cantik yang sejak awal menyambut kehadiran anggota DWP, juga tak henti-hentinya menyapa dengan ramah seraya menebar senyum hingga akhir pertunjukan.

Ibu-ibu hatur nuhun dina kasumpinganana (Ibu-ibu terima kasih atas kedatangannya),” sapa keduanya dengan nada lembut saat memungkas acara. (Nanang Syaikhu)