Demografi Muslim

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Pekan lalu, lembaga riset dan survei terkemuka, Pew Research Centers Forum on Religion & Public Life merilis laporan penelitiannya tentang Pemetaan Penduduk Muslim Global: Laporan tentang Ukuran dan Distribusi Penduduk Muslim Dunia. Laporan yang menunjukkan peta demografis penduduk Muslim dunia berdasarkan studi komprehensif tentang demografi Muslim ini yang dilakukan di 232 negara dan teritori dengan melibatkan hampir 500 demografer dan ahli sosial dari perguruan tinggi dan pusat penelitian; mereka mengumpulkan dan menganalisis tak kurang dari 1.500 sumber dan data kependudukan.

Hasilnya, menurut estimasi Pew, kini terdapat 1,57 miliar penduduk Muslim di muka bumi. Dalam estimasi-estimasi sebelumnya, penduduk Muslim dunia berkisar antara satu sampai 1,8 miliar jiwa. Tetapi, estimasi-estimasi ini lebih merupakan dugaan-dugaan tanpa penjelasan jelas tentang asal dan dasar estimasi. Dengan jumlah 1,57 miliar, kaum Muslim mewakili 23 persen dari total jumlah penduduk dunia yang pada 2009 diperkirakan sekitar 6,8 miliar jiwa. Jadi, kini hampir satu dari setiap empat penduduk dunia beragama Islam.

Dan, 60 persen penduduk Muslim dunia hidup di benua Asia; hanya sekitar 20 persen yang hidup di Timur Tengah dan Afrika Utara, yang sebagian besarnya tercakup dalam kawasan Dunia Arab. Tak kurang pentingnya, antara 87-90 persen populasi Muslim tersebut adalah pengikut Mazhab Suni; dan sisanya, sekitar 13-10 persen Muslim Syi’ah, yang terutama hidup di Iran, Pakistan, India, dan Irak.

Pertumbuhan penduduk Muslim dunia tercepat terjadi di benua Eropa, yang kini memiliki sekitar 38 juta penganut Islam, atau sekitar lima persen total penduduk dunia; dan paling banyak tinggal di Jerman, sekitar empat juta orang. Sedangkan di Benua Amerika, terdapat sekitar 4,6 juta Muslim. Tak kurang pentingnya, temuan Pew mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak, 203 juta jiwa, sekitar 13 persen dari total penduduk Muslim dunia. Dan negara-negara dengan populasi Muslim terbesar memang bukan di Timur Tengah, tetapi di Asia, termasuk Pakistan, India, Bangladesh, selain Indonesia.

Dengan jumlah begitu besar, sebagian kalangan Muslim pastilah senang, karena secara demografis kaum Muslim dunia sama sekali tidak bisa diabaikan. Tetapi, pada saat yang sama terdapat kalangan non-Muslim dan negara-negara tertentu di Eropa dan bahkan Asia yang khawatir dan bahkan ngeri dengan banyaknya kaum Muslim dunia. Apalagi jumlah itu dapat dipastikan terus meningkat jauh lebih cepat dibandingkan penduduk dunia beragama lain, karena tingkat kelahiran warga Muslim di banyak negara dan kawasan hampir tidak terkendali, sementara banyak negara Eropa, Amerika Utara, dan bahkan Asia (seperti Jepang) menghadapi terus mengalami penurunan angka-angka kelahiran.

Karena itu, demikian banyaknya penduduk Muslim dunia memunculkan berbagai implikasi dan konsekuensi, baik yang diinginkan ataupun tidak. Dan bahkan, meski secara demografis sangat besar, pada saat yang sama kebanyakan kaum Muslimin dan negara-negara Muslim tertentu juga menghadapi masalah-masalah besar dalam berbagai bidang kehidupan, yang mempengaruhi kualitas penduduknya.

Besarnya demografi Muslim di muka bumi, memang tidak selaras dengan kualitas kependudukannya. Bahkan, dengan meminjam potongan hadis Nabi Muhammad yang sering dikutip para ustaz, khatib, dan penceramah agama, umat Islam yang begitu banyak itu laksana buih yang terayun ombak ke sana-sini tanpa arah. Dan ini terjadi terutama berkaitan dengan berbagai masalah yang dihadapi kaum Muslimin sendiri, baik internal maupun eksternal yang membuat mereka menjadi tidak berdaya.

Lihatlah misalnya dalam bidang ekonomi. Tidak banyak negara Muslim yang kaya dan betul-betul kuat secara finansial dan ekonomi. Sebagian besar kaum Muslimin masih bergulat dengan kemiskinan; dan ini khususnya bisa dilihat di Benua Afrika, dan juga sebagian kawasan Muslim di Asia. Akibat kemiskinan, mereka tidak mampu mendapatkan pendidikan, yang membuat mereka tidak dapat keluar dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan.

Lalu lihat pula misalnya dalam bidang politik. Masih banyak kaum Muslimin yang hidup dalam kenestapaan politik yang bersumber dari konflik internal yang kemudian diintervensi kekuatan-kekuatan luar. Hal seperti ini masih berlangsung di Afghanistan, Irak, Palestina, Sudan, Somalia, dan bahkan juga Pakistan. Kekacauan dan kenestapaan politik yang terus-menerus terjadi selain mengakibatkan jutaan yang kehilangan nyawa atau terpaksa menjadi pengungsi ke negara-negara lain, juga mengekalkan negara-negara tersebut tetap dalam jurang keterbelakangan dan terus menuju menjadi negara-negara gagal (failed states).

Karena itu, pertambahan demografi Muslim dunia semestinya berlangsung berbarengan dengan peningkatan kualitas warga Muslim dunia dalam berbagai bidang kehidupan. Ini pertama-tama harus dilakukan kaum Muslimin sendiri; dan itu harus dimulai dengan menciptakan situasi yang kondusif di dalam tubuh umat Islam dan negara di mana mereka hidup. Di antaranya, yang terpenting adalah menghindari pertikaian dan konflik berkepanjangan; meninggalkan tindakan-tindakan yang merupakan penghancuran diri sendiri. Hanyalah kaum Muslim sendiri yang dapat memperbaiki dirinya–bukan siapa-siapa yang lain.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 15 Oktober 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Demografi Muslim

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Pekan lalu, lembaga riset dan survei terkemuka, Pew Research Centers Forum on Religion & Public Life merilis laporan penelitiannya tentang Pemetaan Penduduk Muslim Global: Laporan tentang Ukuran dan Distribusi Penduduk Muslim Dunia. Laporan yang menunjukkan peta demografis penduduk Muslim dunia berdasarkan studi komprehensif tentang demografi Muslim ini yang dilakukan di 232 negara dan teritori dengan melibatkan hampir 500 demografer dan ahli sosial dari perguruan tinggi dan pusat penelitian; mereka mengumpulkan dan menganalisis tak kurang dari 1.500 sumber dan data kependudukan.

Hasilnya, menurut estimasi Pew, kini terdapat 1,57 miliar penduduk Muslim di muka bumi. Dalam estimasi-estimasi sebelumnya, penduduk Muslim dunia berkisar antara satu sampai 1,8 miliar jiwa. Tetapi, estimasi-estimasi ini lebih merupakan dugaan-dugaan tanpa penjelasan jelas tentang asal dan dasar estimasi. Dengan jumlah 1,57 miliar, kaum Muslim mewakili 23 persen dari total jumlah penduduk dunia yang pada 2009 diperkirakan sekitar 6,8 miliar jiwa. Jadi, kini hampir satu dari setiap empat penduduk dunia beragama Islam.

Dan, 60 persen penduduk Muslim dunia hidup di benua Asia; hanya sekitar 20 persen yang hidup di Timur Tengah dan Afrika Utara, yang sebagian besarnya tercakup dalam kawasan Dunia Arab. Tak kurang pentingnya, antara 87-90 persen populasi Muslim tersebut adalah pengikut Mazhab Suni; dan sisanya, sekitar 13-10 persen Muslim Syi’ah, yang terutama hidup di Iran, Pakistan, India, dan Irak.

Pertumbuhan penduduk Muslim dunia tercepat terjadi di benua Eropa, yang kini memiliki sekitar 38 juta penganut Islam, atau sekitar lima persen total penduduk dunia; dan paling banyak tinggal di Jerman, sekitar empat juta orang. Sedangkan di Benua Amerika, terdapat sekitar 4,6 juta Muslim. Tak kurang pentingnya, temuan Pew mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak, 203 juta jiwa, sekitar 13 persen dari total penduduk Muslim dunia. Dan negara-negara dengan populasi Muslim terbesar memang bukan di Timur Tengah, tetapi di Asia, termasuk Pakistan, India, Bangladesh, selain Indonesia.

Dengan jumlah begitu besar, sebagian kalangan Muslim pastilah senang, karena secara demografis kaum Muslim dunia sama sekali tidak bisa diabaikan. Tetapi, pada saat yang sama terdapat kalangan non-Muslim dan negara-negara tertentu di Eropa dan bahkan Asia yang khawatir dan bahkan ngeri dengan banyaknya kaum Muslim dunia. Apalagi jumlah itu dapat dipastikan terus meningkat jauh lebih cepat dibandingkan penduduk dunia beragama lain, karena tingkat kelahiran warga Muslim di banyak negara dan kawasan hampir tidak terkendali, sementara banyak negara Eropa, Amerika Utara, dan bahkan Asia (seperti Jepang) menghadapi terus mengalami penurunan angka-angka kelahiran.

Karena itu, demikian banyaknya penduduk Muslim dunia memunculkan berbagai implikasi dan konsekuensi, baik yang diinginkan ataupun tidak. Dan bahkan, meski secara demografis sangat besar, pada saat yang sama kebanyakan kaum Muslimin dan negara-negara Muslim tertentu juga menghadapi masalah-masalah besar dalam berbagai bidang kehidupan, yang mempengaruhi kualitas penduduknya.

Besarnya demografi Muslim di muka bumi, memang tidak selaras dengan kualitas kependudukannya. Bahkan, dengan meminjam potongan hadis Nabi Muhammad yang sering dikutip para ustaz, khatib, dan penceramah agama, umat Islam yang begitu banyak itu laksana buih yang terayun ombak ke sana-sini tanpa arah. Dan ini terjadi terutama berkaitan dengan berbagai masalah yang dihadapi kaum Muslimin sendiri, baik internal maupun eksternal yang membuat mereka menjadi tidak berdaya.

Lihatlah misalnya dalam bidang ekonomi. Tidak banyak negara Muslim yang kaya dan betul-betul kuat secara finansial dan ekonomi. Sebagian besar kaum Muslimin masih bergulat dengan kemiskinan; dan ini khususnya bisa dilihat di Benua Afrika, dan juga sebagian kawasan Muslim di Asia. Akibat kemiskinan, mereka tidak mampu mendapatkan pendidikan, yang membuat mereka tidak dapat keluar dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan.

Lalu lihat pula misalnya dalam bidang politik. Masih banyak kaum Muslimin yang hidup dalam kenestapaan politik yang bersumber dari konflik internal yang kemudian diintervensi kekuatan-kekuatan luar. Hal seperti ini masih berlangsung di Afghanistan, Irak, Palestina, Sudan, Somalia, dan bahkan juga Pakistan. Kekacauan dan kenestapaan politik yang terus-menerus terjadi selain mengakibatkan jutaan yang kehilangan nyawa atau terpaksa menjadi pengungsi ke negara-negara lain, juga mengekalkan negara-negara tersebut tetap dalam jurang keterbelakangan dan terus menuju menjadi negara-negara gagal (failed states).

Karena itu, pertambahan demografi Muslim dunia semestinya berlangsung berbarengan dengan peningkatan kualitas warga Muslim dunia dalam berbagai bidang kehidupan. Ini pertama-tama harus dilakukan kaum Muslimin sendiri; dan itu harus dimulai dengan menciptakan situasi yang kondusif di dalam tubuh umat Islam dan negara di mana mereka hidup. Di antaranya, yang terpenting adalah menghindari pertikaian dan konflik berkepanjangan; meninggalkan tindakan-tindakan yang merupakan penghancuran diri sendiri. Hanyalah kaum Muslim sendiri yang dapat memperbaiki dirinya–bukan siapa-siapa yang lain.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 15 Oktober 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta