Aula Student Center, BERITA UIN Online – Dewan Eksektutif Mahasiswa UIN Jakarta (DEMA UIN) menggelar diskusi nasional perdana menjelang pelantikan mereka sebagai pengurus mahasiswa universitas. Kali ini, DEMA UIN menggelar diskusi bertajuk “Menyoal Toleransi, Menerka Kemajemukan”, di Aula Student Center, Senin (30/01/2017). Tema diskusi diambil sebagai refleksi atas problematika toleransi dan perayaan kemajukan bangsa Indonesia.

Diskusi yang diikuti ratusan mahasiswa berbagai fakultas ini dibuka Prof. Dr. Yusron Razak M.Si, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta. Diskusi juga menghadirkan tiga narasumber Dr. Budhy Munawwar Rahman MA, Penulis buku Islam Pluralis, KH. Maman Imanul Haq, Anggota Komisi VIII DPR RI, dan dan Sudarto, S.Ag., MA, Peneliti Setara Institute.

Dalam pembukaannya, Razak mengapresiasi pengurus DEMA UIN Jakarta yang menggelar diskusi sebagai refleksi dan kepedulian insan akademik atas fakta kemajemukan bangsa. Ia berharap tradisi diskusi dengan mengangkat masalah-masalah aktual perlu dibiasakan oleh mahasiswa UIN Jakarta. “Diskusi harus selalu dibudayakan oleh mahasiswa sebagai agen perubahan,” tandasnya.

Perlu Lapang Dada

Budhy dalam paparannya mengungkapkan, realitas kemajemukan dalam berbagai aspek sosial kultural perlu dihadapi dengan sikap lapang dada. Sikap ini memungkinkan lahirnya sikap penerimaan dan penghargaan terhadap realitas yang berbeda.  Menurutnya, sikap lapang dada dalam kehidupan beragama bakal menghadirkan kemajuan dan kualitas kehidupan masyarakat plural.

“Apabila ia diwujudkan dalam sikap saling mempercayai atas itikad baik golongan agama lain, sikap saling menghormati hak orang lain yang menganut ajaran agamanya, sikap saling menahan diri terhadap ajaran, keyakinan dan kebiasan kelompok agama lain yang berbeda, yang mungkin berlawanan dengan ajaran, keyakinan dan kebiasaan sendiri,” paparnya.

Sementara Maman menjelaskan, bahwa dengan adanya kesadaran pentingnya toleransi dalam kehidupan beragama diharapkan akan terjalin hubungan yang harmonis antar warga negara. Menurutnya, harmonisme elemen bangsa merupakan kunci Indonesia merealisasikan kesejahteraan dan percepatan pembangunan masyarakatnya. (Farah NH-Yuni)

Share This