18 Tahun Reformasi, DEMA FAH Gelar Seminar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gd. FAH, Berita UIN Online—Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) dan HMPS Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta bekerjasama dengan Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) mengadakan berbagai rangkaian acara dimulai dari Senin–Jumat (23-27/05). Acara yang bertema Setelah Delapan Belas Tahun Demokratisasi  ini digelar dalam rangka mengapresiasi pencapaian yang ada, selain juga mengevaluasi dan mencoba mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi negeri ini.

Demikian disampaikan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Prof Syukron Kamil MA saat membuka rangkaian acara tersebut secara resmi, di Auditorium Abdul Ghani Lt. 4 FAH, Senin (23/05). Turut hadir pada acara tersebut para sivitas akademik FAH UIN Jakarta, DEMA FAH, FSH, dan Keluarga Besar Forum Mahasisw Ciputat.

Ditambahkan Syukron, “18 tahun reformasi hendaknya menyadarkan bangsa Indonesia terutama para pemimpinnya di semua tingkatan, bahwa korupsi yang menjadi tema sentral untuk menjatuhkan Presiden Soeharto dan rezim Orde Baru dari kekuasaan, masih menjadi masalah utama bangsa Indonesia,” paparnya.

Masih di hari yang sama, setelah opening dilanjutkan dengan kuliah umum season II dengan menghadirkan Sidney Jones. Kuliah umum ini sekaligus membedah buku  Sisi Gelap Demokrasi: Kekerasan Masyarakat Madani di Indonesiamasih ditempat yang Auditorium Abdul Ghani FAH.

Menurut Jones, Salah satu capaian penting reformasi di Indonesia adalah tumbuhnya masyarakat madani (civil society) yang kuat. Namun, beberapa di antara organisasi masyarakat madani yang paling efektif dewasa ini justru adalah kelompok-kelompok Islamis garis-keras yang mendakwahkan intoleransi dan menyebarluaskan kebencian.

“Di beberapa wilayah, seperti Jawa Barat dan seputar Jakarta, organisasi-organisasi ini terbukti amat mempengaruhi agenda kebijakan publik, dengan mendesak pemerintahbaik di tingkat lokal maupun nasional, untuk menerapkan pandangan mereka mengenai moralitas dan pemahaman mereka mengenai ortodoksi. Meskipun mengusung agenda-agenda yang antidemokrasi, semua organisasi di atas justru memanfaatkan ruang-ruang bebas yang disediakan demokrasi,” papar Jones. (Laporan Syarifaeni Fahdiah)