Masjid al-Jamiah, BERITA UIN Online–Tujuan puasa sama dengan tujuan ibadah lainnya, yaitu untuk kepentingan yang lebih besar. Demikian Kuliah Tujuh Menit (Kultum) ba’da Zhuhur diawali Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Prof Dr Sukron Kamil MAg, Selasa (23/6/2015) di Masjid al-Jamiah Student Center pada kegiatan Ramadhan in Campus.

Sukron menguraikan tujuan-tujuan ibadah lainnya seperti Shalat, dapat menjadikan seorang Muslim tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Begitupula zakat bukan untuk tujuan zakat itu sendiri, tapi untuk tujuan yang lebih besar, yaitu menciptakan kesejahteraan sosial sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab ra saat menjabat sebagai khalifah.

“Zakat juga bertujuan untuk membersihkan hati, karena asal katanya dari zaka, yang artinya bersih. Orang yang hatinya bersih akan mudah untuk berbagi,” ujar Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab FAH ini.

Puasa juga sama, lanjut Sukron, dapat menciptakan masyarakat Muslim yang berintegritas. Dalam bahasa al-Qur’an melakukan puasa harus berlandaskan keimanan.

“Tanpa iman, tidak mungkin bisa dilakukan, sulit menghindar dari godaan Warung Tegal (Warteg),” terang Sukron disambut tawa jamaah.

Pada kultum yang bertema “Puasa, Integritas dan Motivasi Kerja” ini Sukron menjelaskan, keimanan diawali dengan motivasi atau niat. Seberat apapun pekerjaan yang dilakukan kalau motivasinya lebih kuat, maka pekerjaan tersebut dapat diselesaikan.

“Dengan demikian makna takwa itu integritas, satu kesatuan. Kita prihatin, Indonesia mayoritas Muslim, tapi sampai sekarang belum pernah indeks korupsinya berubah, kalah dengan Singapura,” tandas Sukron.

Ditegaskannya, indikator takwa itu mengerti aturan/kode etik. Lingkungan menjadi bersih karena adanya integritas. Sementara dalam bidang birokrasi, Sukron melihat integritas sering kali dilacurkan birokrasi. Oleh karena itu, di kampus integritas harus menjadi gerakan sosial dan puasa menjadi gerakan kultural.

“Bedakan dosen yang berintegritas dengan yang tidak, mana yang lebih sukses?” tanyanya.

Sukron mengibaratkan hidup bagaikan permainan ular tangga, bisa naik bisa turun. Maka penekanannya bukan pada aspek kuantitas, tapi nilai keberkahan dan kebahagiaan batin.

“Lebih baik cita-cita tinggi tapi tidak berhasil, daripada cita-cita rendah tapi berhasil,” tutup Sukron. (Muhammad Furqon)

Share This