Dekan COB UUM Puji Seni Budaya Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Moh. Hanifudin Mahfuds

 

Kedah, UINJKT Online Dekan College of Business (COB) Universiti Utara Malaysia Prof. Dr. Razli Che Razak mengaku kagum dengan Indonesia, terutama dalam hal seni, budaya, dan pariwisata. Hal itu diungkapkan Azly ketika memberikan kata sambutan di depan delegasi UIN Jakarta yang mengunjungi kampus tersebut dalam rangka Youth Leadership Trip, Rabu (22/10) pekan lalu.

 

Ia mencontohkan, betapa dalam hal sastra Indonesia lebih maju dibanding Malaysia. “Di negeri Anda banyak lahir karya sastra yang bernilai seni tinggi. Saya misalnya baru saja manamatkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel itu sangat menyentuh hati saya,” kata Azly.

 

Di samping itu, lanjut Azly, industri musik dan perfilman Indonesia juga lebih subur dibanding Malaysia. Hampir setiap minggu muncul album dan film-film terbaru yang digarap sineas-sineas Indonesia. Karena itu, dalam hal tersebut ia mengaku Malaysia harus belajar lebih banyak dari Indonesia.

 

Namun, sebaliknya Indonesia juga perlu menimba pengetahuan dari pengalaman  Malaysia dalam memajukan pendidikan dan kesejahteraan ekonomi warga negaranya. Negeri Jiran ini kini telah menaikkan anggaran pendidikannya hingga 40 persen dari total APBN-nya. “Dulu kami yang belajar ke Indonesia, tapi kini Indonesia yang harus balajar ke Malaysia,” tegasnya.

 

Demikian juga dalam hal ekonomi. Malaysia bisa mengelola sumber daya yang ada sehingga menjadi modal untuk mensejahterakan warga negaranya. Azly melihat sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya alam yang jauh lebih melimpah dibanding Malaysia. Namun, Indonesia tidak dapat mengelolanya dengan baik.

 

Azly mencontohkan, pariwisata merupakan sumber devisa terbesar kedua di Malaysia. Padahal, secara jujur ia melihat panorama alam Indonesia lebih menarik dibanding Malaysia. Kalau negeri ini dapat mengelolanya dengan baik, tentu bukan tidak mungkin  Indonesia akan menjadi negara yang mengantongi devisa besar dari bidang pariwisata.

 

Yang terpenting bagi kedua negara adalah saling mengisi dan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai negeri serumpun, alangkah baiknya jika kedua negara lebih mengedepankan kerjasama yang produktif ketimbang tersulut dalam konflik-konflik kecil yang justru akan semakin memecah hubungan bilateral. [Nif/Ed]

 

Dekan COB UUM Puji Seni Budaya Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Moh. Hanifudin Mahfuds

 

Kedah, UINJKT Online Dekan College of Business (COB) Universiti Utara Malaysia Prof. Dr. Razli Che Razak mengaku kagum dengan Indonesia, terutama dalam hal seni, budaya, dan pariwisata. Hal itu diungkapkan Azly ketika memberikan kata sambutan di depan delegasi UIN Jakarta yang mengunjungi kampus tersebut dalam rangka Youth Leadership Trip, Rabu (22/10) pekan lalu.

 

Ia mencontohkan, betapa dalam hal sastra Indonesia lebih maju dibanding Malaysia. “Di negeri Anda banyak lahir karya sastra yang bernilai seni tinggi. Saya misalnya baru saja manamatkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel itu sangat menyentuh hati saya,” kata Azly.

 

Di samping itu, lanjut Azly, industri musik dan perfilman Indonesia juga lebih subur dibanding Malaysia. Hampir setiap minggu muncul album dan film-film terbaru yang digarap sineas-sineas Indonesia. Karena itu, dalam hal tersebut ia mengaku Malaysia harus belajar lebih banyak dari Indonesia.

 

Namun, sebaliknya Indonesia juga perlu menimba pengetahuan dari pengalaman  Malaysia dalam memajukan pendidikan dan kesejahteraan ekonomi warga negaranya. Negeri Jiran ini kini telah menaikkan anggaran pendidikannya hingga 40 persen dari total APBN-nya. “Dulu kami yang belajar ke Indonesia, tapi kini Indonesia yang harus balajar ke Malaysia,” tegasnya.

 

Demikian juga dalam hal ekonomi. Malaysia bisa mengelola sumber daya yang ada sehingga menjadi modal untuk mensejahterakan warga negaranya. Azly melihat sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya alam yang jauh lebih melimpah dibanding Malaysia. Namun, Indonesia tidak dapat mengelolanya dengan baik.

 

Azly mencontohkan, pariwisata merupakan sumber devisa terbesar kedua di Malaysia. Padahal, secara jujur ia melihat panorama alam Indonesia lebih menarik dibanding Malaysia. Kalau negeri ini dapat mengelolanya dengan baik, tentu bukan tidak mungkin  Indonesia akan menjadi negara yang mengantongi devisa besar dari bidang pariwisata.

 

Yang terpenting bagi kedua negara adalah saling mengisi dan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai negeri serumpun, alangkah baiknya jika kedua negara lebih mengedepankan kerjasama yang produktif ketimbang tersulut dalam konflik-konflik kecil yang justru akan semakin memecah hubungan bilateral. [Nif/Ed]