Dari Mistis ke Ontologis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


BERBAGAI bencana alam di Tanah Air seperti tidak habis-habisnya menjadi bahan obrolan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun media cetak dan elektronik, termasuk dunia maya.

Dari situ kita bisa melihat betapa beragamnya respons masyarakat. Mulai dari yang mengungkapkan keprihatinan sampai yang turun ke lapangan untuk menyalurkan bantuan dan memberikan pertolongan. Namun ada juga di antara mereka yang sibuk mendiskusikan lewat Twitter, misalnya, bahwa mungkin saja bencana ini merupakan azab Tuhan karena warga sekitar banyak melakukan perbuatan dosa dan syirik.

Mendengar respons seperti itu tentu saja membuat hati banyak orang ngenes dan bisa dibayangkan, apa yang dirasakan mereka yang mengalami musibah tersebut ketika mendengarnya? Menarik garis lurus antara adanya musibah dengan kemurkaan Yang Maha Kuasa bagi sebagian orang merupakan bentuk sikap dan cara berpikir religious,bahkan mungkin bentuk muhasabah atau introspeksi karena ketidakmampuan manusia “menyelamatkan” diri dari musibah tersebut adalah akibat dari kegagalan dia memberikan yang terbaik bagi-Nya dan melanggar aturan-Nya.

Cara berpikir seperti ini tentu sah-sah saja sebagaimana juga tak bisa disalahkannya mereka yang tidak setuju dengan cara merespons seperti itu. Namun, pertanyaannya, apakah respons yang menghubungkan ketidakberuntungan dengan ketidaksalehan itu bisa menjelaskan fenomena musibah seperti di atas? Bagaimana dengan mereka yang tidak saleh tapi beruntung sehingga bagi sebagian orang, menarik garis linier seperti itu terdengar seperti simplifikasi terhadap sesuatu yang kompleks?

Jika diamati,ada berbagai model dalam merespons peristiwa bencana alam ini. Dengan meminjam teori CA van peursen tentang tiga tahapan perkembangan kebudayaan sebuah masyarakat,yaitu mitis,ontologis, dan fungsional, maka ketiga model ini pun sepertinya dapat dipakai untuk menjelaskan sikap masyarakat dalam melihat bagaimana hubungan antara manusia dan alam semesta. Dalam cara pandang mitis, hubungan antara manusia dan alam tidak setara.

Manusia dalam posisi tidak berdaya di hadapan alam. Alam sedemikian perkasa dan misterius karena dia memiliki roh para dewa sehingga manusia harus pandai-pandai berdamai dan membujuknya agar alam tidak marah oleh ulah manusia. Model berpikir mitis ini sudah dipercayai pada masyarakat Yunani Kuno di mana alam termasuk gunung, pepohonan dikuasai oleh Dewi Artemis. Dewi ini juga dianggap pelindung bayi binatang maupun manusia. Karenanya selama manusia menjaga hubungan baik dengan dewi ini, alam akan tenang, aman, dan terlindungi.

Setelah melahirkan misalnya,agar ibu dan bayinya terlindungi dari roh jahat, ditaruhlah berbagai jenis dedaunan dan pakaian si ibu tersebut dibuang sebagai persembahan untuk Dewi Artemis. Atau ada lagi festival pada musim semi Thesmophoria untuk meminta agar kekuatan dewa hadir agar alam menjadi subur sehingga bibit tanaman bisa tumbuh dengan baik. Bentuk upacara keagamaan yang disertai dengan melepas sesajen ke laut sebagai ungkapan permohonan dan terima kasih atas ikan-ikan yang telah ditangkap oleh penduduk sekitarnya atau sesajen ditujukan ke gunung sebagai tanda terima kasih atas kesuburan yang diberikan; juga sebagai ungkapan persahabatan dan bujukan agar gunung tidak marah.

Sesungguhnya itu semua adalah salah satu hasil dari cara berpikir mitis yang mulai muncul sejak zaman dulu. Model kedua disebut sebagai ontologis di mana nalar atau cara pandang ilmiah dipergunakan untuk memahami gejala alam. Pada tahap ini, berbeda dengan model pertama,segala peristiwa alam dijelaskan dengan hukum sebabakibat.

Misalnya, jika pada tahapan mitis peristiwa banjir selalu dikaitkan dengan kemurkaan alam dan Tuhan, maka dengan pendekatan ontologis, dengan nalarnya masyarakat memahami bahwa banjir itu adalah akibat hujan lebat yang tumpahan airnya tidak tertampung dan tidak tersalurkan oleh sungai-sungai yang ada.

Ketika terjadi peristiwa banjir kesalahannya lalu diarahkan kepada manusia dan untuk menebus “dosanya” mereka tidak lagi membuat sesajen (sesaji), tetapi dengan memperbanyak waduk-waduk dan tempat untuk penampungan serta serapan air. Sungai dan irigasi diperluas dan tidak lagi membuang sampah ke sungai atau mereka juga menghindari tinggal di daerah bantaran sungai.

Di sini, posisi manusia dan alam seakan sejajar, keduanya saling berdialog dan membuka diri, yang satu memahami yang lain. Dan sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para peneliti dan ilmuwan adalah melakukan pemahaman dan dialog dengan alam agar manusia lebih mengenal karakter alam sehingga dapat mengantisipasi reaksi dan akibat dari segala perilaku manusia terhadap alam. Ini bisa dibuktikan dengan penelitian di bidang obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Begitu juga terhadap perilaku gunung, dengan penjelasan nalar dan ilmu pengetahuan, dapat diantisipasi apa yang sedang terjadi dan kemungkinan yang akan terjadi pada gunung berapi. Sinyal untuk mendekati fenomena alam secara ontologis sesungguhnya telah termaktub dalam wahyu pertama Alquran,yaitu perintah iqra,yaitu perintah untuk membaca.

Membaca juga terkandung di dalamnya proses penelaahan dan pemahaman tidak hanya terhadap teks tertulis, melainkan juga teks kawniyyah, ciptaan Tuhan termasuk alam dan seisinya. Selain itu kalimat dalam Alquran afalaa ta’qiluun (apakah kamu tidak berpikir atau mempergunakan akalmu) juga merupakan sinyal bahwa hendaknya akal atau nalar dipergunakan sebaik-baiknya dalam membaca dan memahami ayat-ayat-Nya. Adapun dalam model ketiga, yaitu fungsional,manusia menempati posisi lebih tinggi dibandingkan alam.

Dalam hubungan ini manusia adalah pihak yang diberi keleluasaan untuk mendayagunakan alam. Di sinilah fungsi manusia sebagai khalifah yang memiliki misi untuk mengatur alam.Namun dalam hal ini Alquran pun sudah memberi rambu-rambu bahwa bila otoritas ini disalahgunakan, tak pelak lagi akibatnya adalah alam akan rusak (fasad). Dan sesungguhnya dengan ilmu pengetahuan, manusia seharusnya memiliki kemampuan mengantisipasi konsekuensi dari tindakannya yang menzalimi hukum alam.

Bila hutan dijarah secara membabi buta atau serapan air dirampas oleh tumbuhnya hutan beton, alam akan bereaksi dalam bentuk longsor,banjir,dan lain-lain. Bagaimanakah respons yang bijak dalam menanggapi bencana alam ini? Semua bentuk respons, baik yang menyerahkan hal itu pada kemarahan Tuhan atau akibat terganggunya hukum alam karena ulah manusia atau yang lain, tentu saja memiliki argumen masingmasing. Salah satu yang membedakan adalah seberapa besar nalar atau akal berperan dalam memahami gejala alam yang ada.

Model mitis yang banyak dipakai sejak dulu pada masyarakat primitif, mengutip Sigmund Freud, muncul karena pada masyarakat ini reaksi sikap (deed) mendahului pikiran (thought). Pada tahap ini dalam merespons gejala di sekitarnya, masyarakat tidak meluangkan pikiran nalar untuk memahami, tetapi lebih reaktif di mana respons yang muncul adalah menyerahkan semuanya pada penyebab yang berasal dari kekuatan yang lebih tinggi. Ini mengingatkan saya pada ungkapan Goethe dalam Faust yang mengatakan,“ Im Anfang war die Tat.” Artinya, in the beginning was the deed. Apakah kita akan memilih respons dengan reaktif atau rasional? Wallahu a’lam bish-shawab.(*)