Gd. CSRC, BERITA UIN Online—CSRC UIN Jakarta kembali menggelar kegiatan berskala nasional. Mengusung tema Seminar dan Sosialisasi Arah dan Corak Keberagaman Kaum Muda Muslim: Konservatisme, Hibridasi Identitas dan Tantangan Radikalisme, acara dilaksanakan pada, Jumat (15/02). Di Ruang Sidang FISIP USU Medan. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama CSRC UIN Jakarta dengan FISIP USU Medan.

Hal ini disampaikan oleh Direktur CSRC UIN Jakarta, Irfan Abubakar, MA di kantor CSRC UIN Jakarta di Gedung Pusat Bahasa dan Budaya, Lantai 2. Menurut Irfan, kegiatan ini seminar hasil penelitian Arah dan Corak Keberagaman Kaum Muda Muslim hasil kerjasama CSRC UIN Jakarta bersama MU Convey Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM)  dan United Nation Development Programme (UNDP).

Seminar ini menghadirkan dua narasumber utama dari CSRC UIN Jakarta yaitu Irfan Abubakar, MA dan Idris Hemay M.Si serta pembedah hasil penelitian yaitu Dr Harmona Daulay (Ketua Program Studi Sosiologi FISIP USU).

Secara khusus, Idris Hemay MSi menyampaikan paparan perihal corak keberagaman kaum muda muslim di Medan berdasarkan hasil penelitiannya. Sementara Irfan Abubakar, MA memberikan gambaran arah corak keberagaman kaum mudah muslim di 18 kota yang diteliti di seluruh Indonesia. Sedangkan, Dr Harmona Daulay memberikan analisis kritis terhadap hasil penelitian mulai dari pembahasan konsep, metode dan hasil penelitian.

Di antara beberapa hasil temuan penelitian ini, secara umum memperlihatkan bahwa sikap dan perilaku kaum muda Muslim terhadap radikalisme tidak menunjukkan adanya kecenderungan yang ajeg. Tetapi, sebagaimana dijelaskan di atas, dapat dibuat klaim di sini bahwa generasi muda Muslim milenial terpelajar cenderung menganut sikap dan perilaku keberagamaan yang konservatif, dengan coraknya yang komunal, skriptural, dan puritan. Sekalipun demikian, sikap dasar dari generasi milenial tersebut adalah terbuka pada nilai-nilai serta prinsip-prinsip keberagamaan yang moderat, dengan penghargaan yang cukup baik pada kebebasan individu dan HAM, sekalipun dibatasi oleh norma-norma agama dan budaya. Sikap seperti itu juga tercermin dari bagaimana mereka menceritakan hubungan-hubungan sosial mereka dengan kelompok-kelompok sosial yang berbeda-beda.

Kemungkinan besar, corak dan identitas keberagamaan seperti itu adalah cerminan dari proses pembelajaran, pemahaman, dan pengalaman keberagamaan yang dipengaruhi konteks-konteks agama, budaya dan sosial-politik yang kompleks. Hibridasi identitas, sebagaimana dijelaskan di atas, tampaknya berpengaruh secara kuat terhadap proses pembentukan pandangan, sikap dan perilaku ini.

Luas dan kompleksnya berbagai persoalan yang dihadapi oleh kaum muda Muslim milenial, membuat mereka memiliki kecenderungan konservatif dalam keberagamaan, terutama bagi mereka yang masih duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi tingkat awal. Jangkauan pengetahuan mereka yang masih terbatas, serta proses pencarian yang terus-menerus, membuat mereka mudah terdorong untuk mengikuti pandangan-pandangan normatif ketika disuguhkan isu-isu sensitif seperti keragaman dan toleransi, kebebasan individu dan HAM, wawasan kebangsaan maupun perihal Radikalisme dan Ekstremisme.

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Dekan FISIP USU Dr Muryanto Amin MSi ini dihadiri lebih dari 100 peserta ini terdiri dari berbagai kalangan seperti pejabat di lingkungan FISIP USU, Staf Pengajar dari kalangan dosen, mahasiswa, pelajar, guru agama, pesantren, wartawan, komunitas guru, LSM, dan berbagai unsur lainnya. (lrf/SAA).