Compassion

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh : Prof Dr Azyumardi Azra, MA

Compassion, kepengasihan, yang dalam bahasa Arab dan Hebrew memiliki akar kata yang sama, rahman dan rehem. Bahkan dalam Islam, ketika Muslim hendak melakukan perbuatan dan amal baik selalu menyebut Bismillahir-rahmanir-rahim-dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

“Tapi sedihnya, kita jarang mendengar tentang compassion hari-hari ini,” tulis Karen Armstrong dalam karya terakhirnya Twelve Steps to a Compassionate Life (London: Bodley Head, 2011).

Menawarkan 12 langkah menuju hidup yang penuh kepengasihan, Armstrong–mantan biarawati dan kini berprofesi sebagai penulis sejumlah buku best-seller dalam bidang agama–memandang, kinilah saatnya di mana suara agama yang penuh kepengasihan kembali sangat dibutuhkan.

Alasannya sudah sangat jelas. Dunia kita sekarang adalah dunia yang masih penuh kekerasan. Lihatlah apa yang tengah terjadi di Libya, Bahrain, Yaman; dan juga di Thailand Selatan, Filipina Selatan, dan bahkan di tempat-tempat tertentu di Indonesia.

“Kita kini terlibat dalam berbagai perang yang kelihatannya sulit diakhiri ataupun dimenangi. Kekerasan yang semula bersifat ‘sekuler’ seperti Arab versus Israel terus dibiarkan berlangsung dan bahkan menjadi ‘perang suci’ yang membuat kian sulitnya mendapatkan penyelesaian pragmatis,” tulis Armstrong.

Kekerasan dalam bentuk-bentuk lain juga sedang berlangsung secara lebih subtil seperti ketidakseimbangan kekuatan dan kekayaan di antara berbagai masyarakat, baik secara internasional maupun internal sebuah negara.

Kelaparan dan penderitaan bukan berkurang di banyak bagian dunia, tetapi kelihatan terus bertahan, jika tidak meningkat. Semua ini menimbulkan kemarahan dan kekerasan di antara umat manusia yang kian meminggirkan kepengasihan sesama manusia dan bahkan dengan lingkungan hidupnya.

Maka, Armstrong kembali mengingatkan masyarakat dunia tentang ‘hukum mas’ (golden rule) kepengasihan. “Jangan perlakukan orang-orang lain seperti Anda juga tidak ingin diperlakukan mereka seperti itu.” Atau dengan kalimat lain, “Selalulah perlakukan orang-orang lain seperti Anda sendiri ingin diperlakukan.” Karena itu, kepengasihan adalah sesuatu yang esensial bagi kemanusiaan; setiap orang mempunyai kebutuhan biologis dan psikologis untuk mendapat kepengasihan dari orang lain bagi dirinya, dan sekaligus juga ingin membagi kepengasihan itu kepada orang di luar dirinya sendiri.

Maka, Armstrong memprakarsai perumusan ‘Piagam untuk Kepengasihan’ (Charter for Compassion) yang kemudian disepakati para pemuka agama Yahudi, Kristianitas, Islam, Hindu, Buddha, dan Konghucu pada Februari 2009. Piagam ini antara lain menyatakan: “Prinsip kepengasihan terletak pada jantung semua agama, etika, dan tradisi spiritualitas; memanggil kita semua untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan mereka. Kepengasihan mendorong kita untuk berusaha tanpa kenal lelah menghilangkan penderitaan sesama makhluk; menurunkan diri sendiri dari takhta pusat dunia dan menghormati kesucian yang tak bisa dilanggar dari setiap anak manusia, tanpa pengecualian, dengan penuh keadilan, kesetaraan, dan kehormatan.”

“Juga perlu menahan diri secara konsisten dan mutlak, baik dalam kehidupan pribadi maupun umum, daripada menyakiti [orang lain]; atau bertindak dan berbicara secara kekerasan atas dasar chauvinisme dan kepentingan sendiri untuk memiskinkan, mengeksploitasi atau menolak hak-hak dasar orang lain; atau memprovokasi kebencian dengan menghinakan orang lain-termasuk musuh sekalipun; [semua ini] merupakan penolakan terhadap kemanusiaan kita bersama.”

“Kami semua mengakui, kita telah gagal untuk hidup dengan kepengasihan; dan bahkan sebagian orang telah menambah penderitaan sesama umat manusia  atas nama agama.”

“Karena itu, kami mengimbau seluruh lelaki dan perempuan: memulihkan kepengasihan ke pusat moralitas dan agama; kembali kepada prinsip kuno, bahwa setiap penafsiran kitab suci yang membiakkan kekerasan, kebencian, atau ketidaksukaan adalah tidak sah; *memastikan agar anak-anak muda diberi informasi akurat dan berharkat tentang tradisi, agama, dan kebudayaan lain; mendorong apresiasi positif pada keragaman agama dan kebudayaan; menumbuhkan empati terhadap penderitaan sesama umat manusia-sekalipun mereka yang dianggap musuh.

Pesan kepengasihan sudah jelas. Jika kepengasihan dapat ditumbuhkan kembali, ia menjadi kekuatan dinamik dalam dunia yang terpolarisasi dan penuh kekerasan; ia sangat dibutuhkan bagi penciptaan ekonomi yang berkeadilan dan masyarakat global yang damai.

Sekali lagi, kepengasihan sangat mendasar bagi hubungan antarmanusia menuju ke arah pemenuhan kemanusiaan. Ia adalah jalan menuju pencerahan kehidupan dan peradaban.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 3 Maret 2011
Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta