Ciuman Setan: Ikhtiar Menghayati Ramadhan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Dinno Munfaidzin Imamah

“Innallâha lâ yanzhuru illâ shuwarikum walakinallâha yanzhuru illâ qulûbikum. Ketahuilah, sesungguhnya Tuhan tidak memperhatikan bentuk-bentuk luar kamu. Yang Tuhan perhatikan adalah hati kamu.” (Hadis Nabi SAW)

Pada suatu hari, para sahabat membincangkan seseorang yang mereka anggap sangat saleh dan rajin beribadat. Mereka sebut namanya dan sifat-sifatnya di hadapan Nabi Muhammad saw. Beliau diam. Belum selesai mereka membicarakannya, orang itu muncul. Sahabat berteriak.” Itulah orangnya! Nabi saw bersabda,” Kalian telah membicarakan seseorang yang tampak di wajahnya bekas ciuman setan”. Tidak berapa lama kemudian, orang itu mendekat, berdiri di antara para sahabat, dan tidak mengucapkan salam. Rasulullah saw bertanya kepadanya.” Demi Allah, apakah anda berkata dalam hati ketika berdiri di depan majelis ini, ‘ Tidak ada seorang pun di sini yang lebih utama dan lebih baik dari diriku’.” Ia menjawab, “Memang benar begitu.” Segera ia meninggalkan majelis dan pergi ke Masjid untuk shalat.

Tiba-tiba Nabi saw berkata, “Siapa yang mau membunuhnya?” Sahabat Abu Bakar berdiri dan pergi menyusul orang itu. Tidak lama kemudian ia kembali. Ia berkata, “ Aku enggan membunuhnya ketika ia sedang shalat. Bukankah Rasulullah melarang kami membunuh orang yang sedang shalat?” Nabi saw mengulang perintahnya. Kali ini Sahabat Umar bin Khatthab pergi ke Masjid. Ia juga kembali beberapa saat kemudian,” Kudapati ia sedang meletakkan dahinya bersujud dengan khusyuk. Aku segan membunuhnya.“ sekali lagi, Nabi saw mengulangi perintahnya. Sekarang sahabat Ali yang pergi. Tetapi ia pun kembali.” Ya Rasulullah, aku tak berhasil menemuinya.” Mendengar itu, Nabi saw bersabda,” Sesungguhnya, orang ini dan kelompoknya membaca al-Qur’an, tetapi bacaan mereka hanya sampai pada tenggorokannya saja. Mereka terlepas dari agama, seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. Sekiranya orang ini di bunuh, tidak seorang pun di antara umatku akan pecah.” (Musnad Ahmad, Al-Ishabah). Siapakah orang itu? Para ahli hadis tidak menjelaskan asal-usulnya. Ia hanya dikenal dengan julukannya yaitu Dzu Tsudayyah. Itu pun tampaknya simbol saja. Peristiwa ini mengajarkan beberapa hal kepada kita.

Pertama, orang tidak boleh mudah terpesona melihat kesalehan dalam ibadat. Tidak jarang kesalehan seperti itu menyembunyikan kepribadian yang tercela. Ia menjadikan kesalehan sebagai komestik untuk menghias wajahnya yang catat. Orang yang dipuji sebagai orang saleh itu ternyata merasa diri paling utama, paling benar, dan paling baik dari orang-orang di sekitarnya.

Kedua, ibadah ritual hanyalah wajah lahiriah dari keberagamaan orang. Ia adalah bagian eksoteris yang mudah dilihat dan mudah dimanipulasi untuk memberikan kesan yang diharapkan. Dengan ibadah ritual, anda dapat memperoleh keuntungan sosial (misalnya, memperoleh kepercayaan dan pujian orang), finansial (misalnya, mengumpulkan dana untuk kegiatan agama, tetapi sebenarnya untuk anda sendiri), atau politik. Celakalah orang-orang yang shalat, yang lalai dalam shalatnya, yang ingin dipandang, dan enggan memberikan pertolongan (QS 107:4 dan 7).

Ketiga, inti keberagamaan seseorang adalah akhlaknya. Ritus-ritus peribadatan ditetapkan untuk mrngantarkan orang pada ketinggian akhlak. Ucapan Allahu Akbar dalam setiap gerakkan shalat dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwa hanya Allah saja yang besar. Lebih sering shalat, lebih terasa bahwa kita kecil, hina-dina, fakir dan rendah.” Barang siapa yang shalatnya tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar, shalatnya hanya menempatkan dirinya lebih jauh dari Allah,” sabda Rasulullah saw.

Ibadah puasa melatih orang untuk mengendalikan hawa nafsunya, menundukkan dirinya kepada kehendak Ilahi, lari kepadaNya, dan akhirnya mencintai Tuhan dengan mencintai sesama manusia. Ketika Nabi saw melihat sesorang memcaci-maki hamba sahaya, beliau bersabda, “Makanlah!” Ia menjawab, “Aku berpuasa.”. Beliau berkata,” Mana mungkin engkau berpuasa, padahal engkau berpuasa, padahal engkau telah memaki sahayamu. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum”.

Akhirnya, bisa saja terjadi ibadah yang tampak khusyuk tidak menimbulkan transformasi spiritual. Haji, misalnya tidak selalu menjadikan orang lebih rendah hati kepada sesama manusia. Kesemarakan ibadah Ramadhan di Republik ini tidak selamanya mencerminkan makin berkurangnya kerakusan mengumpulkan kekayaan oleh para penguasa, apalagi penindasan dan penjualan aset-aset negara. Bahkan terjadi penggusuran, pertikaian elit politik dan perebutan kuasa makin merajalela. Kerajinan dalam memelihara waktu shalat tidak dengan sendirinya menyebabkan orang lebih mampu memelihara amanat. Di sini, ibadat berhenti pada bentuk (shuwar), tidak sampai jantung (qulub). Nabi saw bersabda,” Sesungguhnya Tuhan tidak memperhatikan bentuk-bentuk kamu. Tuhan hanya melihat jantung kamu.

Apakah jantungnya ibadat? Seluruh ibadat dalam Islam adalah mi’raj, yang bermakna sangat dalam yakni perjalanan menemui Tuhan (Road to Allah) untuk kembali lagi menemui umat manusia. Haji dalam pandangan intelektual tercerahkan (rausyan fikr), Ali Syari’ati bermakna gladi resik keberangkatan manusia dari tanah airnya menuju rumah Tuhan dan kembali lagi kerumahnya. Melakukan Revolusi kesadaran. Puasa adalah juga perjalanan mendekati Tuhan, yang berakhir dengan mendekati sesama manusia. Takbir dalam shalat menaikkan kita ke langit sangat tinggi dan salam mengembalikan lagi kita kepada manusia. Pendeknya, ibadah ritual hanya bermakna bila berbekas dalam kehidupan sosial dalam akhlak di tengah-tengah manusia. Peduli dan bermakna untuk kemanusiaan universal (hablu minannas).

Jangan sampai cara kita beragama hanya menjadi sejumlah doktrin kering untuk memenggal kepala orang atau seperangkat kosmetik untuk menutup borok kita. Bahkan melakukan aksi teror (suicide bomber), membunuh orang-orang tak berdosa, menyebarkan kebencian dan ketakutan atas nama Islam (Jihad), in the name of God. Kita menjadi malaikat Zabaniyyah yang berwajah galak dan masam, siap memasukkan siapa saja selain kita, ke jurang panas neraka. Atau, kita termasuk orang yang menjadikan agama sebagai permainan dan hiburan (QS 6;7). Jangan sampai ibadah-ibadah kita tunaikan tanpa ruh dan kehangatan. Seorang muslim sejati dalaam era global mesti menjalankan dimensi keberagamaan yang lahir dan yang batin sekaligus. Eksoterisme sama satu sisinya dengan esoterisme. Sebagaimana Allah (Dialah Yang Lahir dan Yang Batin, QS 57: 3)

Dengan momentum Ramadhan 1430 Hijriah ini, marilah kita kembali lagi pada fitrah kita. Kita hidupkan kembali cinta, kasih sayang yang selama ini terabaikan karena kesibukan dan kerakusan. Kita dekati lagi Tuhan yang selama ini kita lupakan kehadiranNya. Dengan menggunakan kata-kata Rumi ; di atas jalan fitrah, kita sudah menanam semak berduri. Semak itu sudah banyak melukai orang lain, juga diri kita sendiri. Puasa kali ini, cabutlah semak-semak itu sekarang juga. Rumi berkata, “Ambillah kapak dan hancurkan semak berduri dengan jantan, seperti Ali menghancurkan benteng Khaybar. Atau, gabungkan semak berdurimu dengan rumpun mawar. Gabungkan cahaya kekasih Tuhan dengan api nafsu, supaya cahayanya memadamkan apimu. Supaya bergabung dengan dia, mengubah semak berduri menjadi rumpun mawar”.

Wahai orang-orang yang berpuasa, anda telah merasakan lapar dan dahaga untuk mensucikan diri anda. Tampakan bekas puasa anda dalam keprihatinan anda kepada orang-orang yang hancur hatinya, kelompok masyarakat yang teraniaya dan terabaikan di Republik ini. Wahai semua yang shalat, telitilah, apakah shalat anda telah menimbulkan, di wajah anda, tanda-tanda bekas sujud, atau hal itu justru sebaliknya, tanda ciuman setan. Itulah salah satu di antara jalan yakni jalan kesucian yang ditempuh para sufi. Mereka yang dikirim percik kasih Tuhan untuk menyirami hatinya. Inilah keberagamaan yang membuat anda tulus, perkasa dan pasrah karena cinta-Nya. Semoga Tuhan melindungi kita dari tanda-tanda ciuman setan.

Penulis adalah Ketua Kajian Strategis Naga Sembilan Indonesia-NSI & Aktivis Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Ciuman Setan: Ikhtiar Menghayati Ramadhan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Dinno Munfaidzin Imamah

“Innallâha lâ yanzhuru illâ shuwarikum walakinallâha yanzhuru illâ qulûbikum. Ketahuilah, sesungguhnya Tuhan tidak memperhatikan bentuk-bentuk luar kamu. Yang Tuhan perhatikan adalah hati kamu.” (Hadis Nabi SAW)

Pada suatu hari, para sahabat membincangkan seseorang yang mereka anggap sangat saleh dan rajin beribadat. Mereka sebut namanya dan sifat-sifatnya di hadapan Nabi Muhammad saw. Beliau diam. Belum selesai mereka membicarakannya, orang itu muncul. Sahabat berteriak.” Itulah orangnya! Nabi saw bersabda,” Kalian telah membicarakan seseorang yang tampak di wajahnya bekas ciuman setan”. Tidak berapa lama kemudian, orang itu mendekat, berdiri di antara para sahabat, dan tidak mengucapkan salam. Rasulullah saw bertanya kepadanya.” Demi Allah, apakah anda berkata dalam hati ketika berdiri di depan majelis ini, ‘ Tidak ada seorang pun di sini yang lebih utama dan lebih baik dari diriku’.” Ia menjawab, “Memang benar begitu.” Segera ia meninggalkan majelis dan pergi ke Masjid untuk shalat.

Tiba-tiba Nabi saw berkata, “Siapa yang mau membunuhnya?” Sahabat Abu Bakar berdiri dan pergi menyusul orang itu. Tidak lama kemudian ia kembali. Ia berkata, “ Aku enggan membunuhnya ketika ia sedang shalat. Bukankah Rasulullah melarang kami membunuh orang yang sedang shalat?” Nabi saw mengulang perintahnya. Kali ini Sahabat Umar bin Khatthab pergi ke Masjid. Ia juga kembali beberapa saat kemudian,” Kudapati ia sedang meletakkan dahinya bersujud dengan khusyuk. Aku segan membunuhnya.“ sekali lagi, Nabi saw mengulangi perintahnya. Sekarang sahabat Ali yang pergi. Tetapi ia pun kembali.” Ya Rasulullah, aku tak berhasil menemuinya.” Mendengar itu, Nabi saw bersabda,” Sesungguhnya, orang ini dan kelompoknya membaca al-Qur’an, tetapi bacaan mereka hanya sampai pada tenggorokannya saja. Mereka terlepas dari agama, seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. Sekiranya orang ini di bunuh, tidak seorang pun di antara umatku akan pecah.” (Musnad Ahmad, Al-Ishabah). Siapakah orang itu? Para ahli hadis tidak menjelaskan asal-usulnya. Ia hanya dikenal dengan julukannya yaitu Dzu Tsudayyah. Itu pun tampaknya simbol saja. Peristiwa ini mengajarkan beberapa hal kepada kita.

Pertama, orang tidak boleh mudah terpesona melihat kesalehan dalam ibadat. Tidak jarang kesalehan seperti itu menyembunyikan kepribadian yang tercela. Ia menjadikan kesalehan sebagai komestik untuk menghias wajahnya yang catat. Orang yang dipuji sebagai orang saleh itu ternyata merasa diri paling utama, paling benar, dan paling baik dari orang-orang di sekitarnya.

Kedua, ibadah ritual hanyalah wajah lahiriah dari keberagamaan orang. Ia adalah bagian eksoteris yang mudah dilihat dan mudah dimanipulasi untuk memberikan kesan yang diharapkan. Dengan ibadah ritual, anda dapat memperoleh keuntungan sosial (misalnya, memperoleh kepercayaan dan pujian orang), finansial (misalnya, mengumpulkan dana untuk kegiatan agama, tetapi sebenarnya untuk anda sendiri), atau politik. Celakalah orang-orang yang shalat, yang lalai dalam shalatnya, yang ingin dipandang, dan enggan memberikan pertolongan (QS 107:4 dan 7).

Ketiga, inti keberagamaan seseorang adalah akhlaknya. Ritus-ritus peribadatan ditetapkan untuk mrngantarkan orang pada ketinggian akhlak. Ucapan Allahu Akbar dalam setiap gerakkan shalat dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwa hanya Allah saja yang besar. Lebih sering shalat, lebih terasa bahwa kita kecil, hina-dina, fakir dan rendah.” Barang siapa yang shalatnya tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar, shalatnya hanya menempatkan dirinya lebih jauh dari Allah,” sabda Rasulullah saw.

Ibadah puasa melatih orang untuk mengendalikan hawa nafsunya, menundukkan dirinya kepada kehendak Ilahi, lari kepadaNya, dan akhirnya mencintai Tuhan dengan mencintai sesama manusia. Ketika Nabi saw melihat sesorang memcaci-maki hamba sahaya, beliau bersabda, “Makanlah!” Ia menjawab, “Aku berpuasa.”. Beliau berkata,” Mana mungkin engkau berpuasa, padahal engkau berpuasa, padahal engkau telah memaki sahayamu. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum”.

Akhirnya, bisa saja terjadi ibadah yang tampak khusyuk tidak menimbulkan transformasi spiritual. Haji, misalnya tidak selalu menjadikan orang lebih rendah hati kepada sesama manusia. Kesemarakan ibadah Ramadhan di Republik ini tidak selamanya mencerminkan makin berkurangnya kerakusan mengumpulkan kekayaan oleh para penguasa, apalagi penindasan dan penjualan aset-aset negara. Bahkan terjadi penggusuran, pertikaian elit politik dan perebutan kuasa makin merajalela. Kerajinan dalam memelihara waktu shalat tidak dengan sendirinya menyebabkan orang lebih mampu memelihara amanat. Di sini, ibadat berhenti pada bentuk (shuwar), tidak sampai jantung (qulub). Nabi saw bersabda,” Sesungguhnya Tuhan tidak memperhatikan bentuk-bentuk kamu. Tuhan hanya melihat jantung kamu.

Apakah jantungnya ibadat? Seluruh ibadat dalam Islam adalah mi’raj, yang bermakna sangat dalam yakni perjalanan menemui Tuhan (Road to Allah) untuk kembali lagi menemui umat manusia. Haji dalam pandangan intelektual tercerahkan (rausyan fikr), Ali Syari’ati bermakna gladi resik keberangkatan manusia dari tanah airnya menuju rumah Tuhan dan kembali lagi kerumahnya. Melakukan Revolusi kesadaran. Puasa adalah juga perjalanan mendekati Tuhan, yang berakhir dengan mendekati sesama manusia. Takbir dalam shalat menaikkan kita ke langit sangat tinggi dan salam mengembalikan lagi kita kepada manusia. Pendeknya, ibadah ritual hanya bermakna bila berbekas dalam kehidupan sosial dalam akhlak di tengah-tengah manusia. Peduli dan bermakna untuk kemanusiaan universal (hablu minannas).

Jangan sampai cara kita beragama hanya menjadi sejumlah doktrin kering untuk memenggal kepala orang atau seperangkat kosmetik untuk menutup borok kita. Bahkan melakukan aksi teror (suicide bomber), membunuh orang-orang tak berdosa, menyebarkan kebencian dan ketakutan atas nama Islam (Jihad), in the name of God. Kita menjadi malaikat Zabaniyyah yang berwajah galak dan masam, siap memasukkan siapa saja selain kita, ke jurang panas neraka. Atau, kita termasuk orang yang menjadikan agama sebagai permainan dan hiburan (QS 6;7). Jangan sampai ibadah-ibadah kita tunaikan tanpa ruh dan kehangatan. Seorang muslim sejati dalaam era global mesti menjalankan dimensi keberagamaan yang lahir dan yang batin sekaligus. Eksoterisme sama satu sisinya dengan esoterisme. Sebagaimana Allah (Dialah Yang Lahir dan Yang Batin, QS 57: 3)

Dengan momentum Ramadhan 1430 Hijriah ini, marilah kita kembali lagi pada fitrah kita. Kita hidupkan kembali cinta, kasih sayang yang selama ini terabaikan karena kesibukan dan kerakusan. Kita dekati lagi Tuhan yang selama ini kita lupakan kehadiranNya. Dengan menggunakan kata-kata Rumi ; di atas jalan fitrah, kita sudah menanam semak berduri. Semak itu sudah banyak melukai orang lain, juga diri kita sendiri. Puasa kali ini, cabutlah semak-semak itu sekarang juga. Rumi berkata, “Ambillah kapak dan hancurkan semak berduri dengan jantan, seperti Ali menghancurkan benteng Khaybar. Atau, gabungkan semak berdurimu dengan rumpun mawar. Gabungkan cahaya kekasih Tuhan dengan api nafsu, supaya cahayanya memadamkan apimu. Supaya bergabung dengan dia, mengubah semak berduri menjadi rumpun mawar”.

Wahai orang-orang yang berpuasa, anda telah merasakan lapar dan dahaga untuk mensucikan diri anda. Tampakan bekas puasa anda dalam keprihatinan anda kepada orang-orang yang hancur hatinya, kelompok masyarakat yang teraniaya dan terabaikan di Republik ini. Wahai semua yang shalat, telitilah, apakah shalat anda telah menimbulkan, di wajah anda, tanda-tanda bekas sujud, atau hal itu justru sebaliknya, tanda ciuman setan. Itulah salah satu di antara jalan yakni jalan kesucian yang ditempuh para sufi. Mereka yang dikirim percik kasih Tuhan untuk menyirami hatinya. Inilah keberagamaan yang membuat anda tulus, perkasa dan pasrah karena cinta-Nya. Semoga Tuhan melindungi kita dari tanda-tanda ciuman setan.

Penulis adalah Ketua Kajian Strategis Naga Sembilan Indonesia-NSI & Aktivis Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta