Catatan dari India

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Setelah 12 tahun tidak berkunjung ke India, dalam perjalanan pulang dari Rusia pekan lalu saya mampir ke New Delhi atas undangan teman baik, Duta Besar RI di India, Bapak Andi Ghalib, yang juga mantan Jaksa Agung sewaktu Presiden BJ Habibie.

Perubahan yang pertama saya lihat adalah Bandara Internasional New Delhi yang sekarang tampak megah dan padat pengunjung.Saya jadi teringat buku marketing,untuk melihat indikator kemajuan pembangunan sebuah negara, lihat saja suasana bandaranya. Kedua, yang juga membuat saya berdecak kagum adalah hilangnya pemandangan para pengemis yang dulu berkerumun di sudut-sudut kota dan pinggir jalan yang menimbulkan rasa iba dan kadang terganggu.

Sampai-sampai pernah muncul ungkapan, lebih terhormat terlahir sebagai seekor sapi di India ketimbang terlahir dalam keluarga miskin. Meski orang miskin jumlahnya masih jutaan, pemerintah berusaha keras untuk menertibkan dan menciptakaan lapangan kerja sehingga di New Delhi atau Agra tempat monumen cinta Taj Mahal misalnya tidak lagi terlihat para pengemis.

Bayangkan saja, India dengan jumlah penduduk sekitar 1,2 miliar yang setiap hari memerlukan makan-minum, sungguh tidak ringan bagi pemerintah untuk melayani kebutuhan rakyatnya. Untungnya, kata teman di KBRI, kelas menengah India sekitar 300 juta itu kreatif,berpendidikan tinggi, dan sukses dalam berbagai bidang usaha, sehingga secara signifikan berhasil memajukan dunia pendidikan dan ekonomi rakyat.

Kalaupun para politisi selalu ribut bertengkar, atau pemerintahnya tidur, kelas menengah tidak akan terpengaruh, dan gairah rakyatnya untuk maju tetap tinggi. Meski ongkos sosialnya cukup mahal, demokrasi di India sudah mapan dan mulai kelihatan dampaknya pada perbaikan ekonomi, pendidikan, serta penegakan hukum.

Saat ini diperkirakan sebanyak 50 juta ilmuwan dan pengusaha India bekerja di luar negeri. Namun, mereka tetap menaruh perhatian serius terhadap kemajuan India. Mereka yang bekerja di luar bahkan berusaha menciptakan jejaring pendidikan dan lapangan kerja yang langsung dirasakan bagi kemajuan bangsanya.

Di berbagai badan dunia mesti terdapat orang India. Jadi, yang terjadi bukannya brain drain, tetapi brain gain. Sekarang ini bermunculan universitas yang disponsori oleh para konglomerat dengan kualitas kelas dunia. Caranya melalui kerja sama dengan universitas luar negeri yang sudah mapan dan para alumninya dijamin memperoleh lapangan kerja,baik di dalam maupun di luar negeri.

Perkembangan ini yang di Indonesia masih menyedihkan. Triliunan uang keluar untuk ongkos politik dan berebut jabatan, belum lagi yang menguap dikorup,sementara banyak lembaga perguruan tinggi kita fasilitas dan mutunya jauh ketinggalan. Bagi saya, hidup di Indonesia tentu saja jauh lebih menyenangkan ketimbang di negara lain, terlebih lagi India.

Meski begitu, saya dibuat merenung melihat perkembangan universitas di India yang mutunya bagus-bagus. Salah satunya berkat hubungan kultural dan intelektual dengan sesama negara persemakmuran Inggris. Kemampuan bahasa Inggris dosen dan mahasiswa sangat membantu terjadi transfer informasi dan ilmu pengetahuan yang paling mutakhir secara cepat.

Mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Universitas Aligarh menceritakan, Pemerintah India memberi bantuan bagi setiap mahasiswa S-3 sebesar 5.000 rupee/bulan, sehingga mahasiswa tidak perlu memikirkan apa pun kecuali belajar dan belajar karena dengan bantuan sebesar itu sudah cukup untuk membiayai hidupnya.

Akibatnya, sekarang ini bermunculan doktor-doktor dan ilmuwan muda yang kreatif dan produktif hidupnya yang pada urutannya mendongkrak langit keilmuan dan ekonomi India. Program studi kedokteran dan sains sangat diminati mahasiswa karena lapangan kerjanya terbuka, baik di dalam maupun di luar negeri.

Yang juga unik, banyak profesor yang datang ke kampus dengan mengendarai sepeda ontel bukan karena gaji tidak cukup untuk membeli kendaraan motor, melainkan karena gaya hidupnya yang sederhana. Mungkin ini pengaruh etos hidup yang diwariskan Mahatma Gandhi.

Bahkan banyak ruang kuliah yang dosennya masih menggunakan papan tulis dan kapur sebagai media pembelajaran.Hanya saja, perpustakaannya buka 24 jam. Rupanya mutu dan isi lebih dipentingkan ketimbang bungkus dan gaya hidupnya.