Cahaya Allah di Bulan Suci

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

CAHAYA Allah di bulan suci memancar tak terhingga kepada orang-orang yang menjalankan ibadah puasa dan berbuat kebaikan. Cahaya itu berupa ampunan dan limpahan pahala. Siapa sajakah yang mampu menggapai cahaya Allah itu?

Rasulullah SAW bersabda, Ramadhan adalah sayid al­syuhur, pemimpin bulan-­bulan Qamariyah. Per­nyataan Rasulullah itu tentu sangat beralasan. Sebab, Allah melebihkan bulan Ramadhan karena di dalamnya banyak terdapat hikmah dan amalan ibadah. Misalnya saja, pada bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Selama Ramadhan umat Is­lam juga disunnahkan untuk shalat malam (Tarawih), memperbanyak amal sedekah, aktif mengaji dan mengkaji al-Qur’an (tadarus), menu­naikan zakat fitrah (zakat jiwa), serta amalan-amalan lain yang bermanfaat.

Kesempatan itu diberikan agar umat Islam lebih mendekatkan diri kepada Allah. Allah memberi kesempatan kepada umat Islam untuk banyak beribadah di bulan Ramadhan, karena Ramadhan adalah bulan rahmat, bulan pengam­punan, dan bulan pembebasan manu­sia dari siksa api neraka. Pada malam-­malam terakhir di bulan Ramadhan, Allah bahkan melebihkannya dengan membuka kran air kasih sayang. Air kasih sayang itu begitu melimpah tak terhingga. Malam itu disebut dengan Lailatul Qadar, atau malam yang lebih baik dari seribu bulan sekalipun. Pada malam itu seluruh malaikat, termasuk al-Ruh Jibril as, turun membawa rahmat Allah untuk diberikan kepada para hamba-Nya yang senantiasa berdzikir kepada Allah. Sementara pada hari terakhir bulan Ramadhan, yakni 1 Syawal, Allah kembali membebaskan umat Islam untuk berpuasa seraya merayakan hari kemenangan­nya dengan Idul Fitri. Hari itu merupa­kan hari di mana manusia kembali kepada fitrahnya.

Ramadhan adalah bulan istimewa di mana umat Islam diperintahkan untuk ba­nyak berdzikir seraya berharap datangnya ampunan Allah. Ampunan Allah akan diberikan kepada mereka yang berhasil menjalankan ibadah puasanya dengan sungguh-sungguh dan penuh keimanan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berpua­sa di bulan Ramadhan dengan ke­imanan dan kesungguhan, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu”. Oleh karena itu, sebagai Zat Yang Maha Pengampun (al-Ghafur), Allah memberi kesempatan yang lebih luas kepada umat Islam untuk bertobat di bulan Ramadhan. Karena bertobat di bulan Ramadhan lebih mudah diampuni oleh Allah.

Allah juga akan melimpahkan Kasih dan Sayangnya (ar-Rahman-ar­Rahim) kepada orang-orang yang beriman. Selama bulan Ramadhan, kasih sayang Allah melebihi kasih sayang-Nya pada bulan-bulan Qamari­yah lain. Di bulan ini, kasih sayang Allah akan terus mengalir sepanjang hamba-hamba-Nya yang beriman mampu menjalankan ibadah puasa dengan baik dan banyak melakukan amal saleh. Kasih sayang Allah adalah berupa pahala kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

Bagaimanakah cara menjalankan ibadah puasa dengan baik itu? Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin di antaranya menye­butkan enam macam cara. Pertama, me­nahan pandangan dan tidak mengum­barnya pada hal-hal tercela dan dibenci. Atau pada hal-hal yang menyibukkan hati, sehingga lupa kepada Allah. Rasulullah bersabda: “Pandangan itu merupakan anak panahnya Iblis. Siapa yang menahan pandangannya karena takut kepada Allah, ia akan menemukan manisnya iman dalam hatinya.”

Kedua, menjaga lidah dari ucapan yang sia-sia, seperti berbohong, mengumpat, memfitnah, bertengkar, dan membiasakan diam, serta menyibuk­kan lidah dengan berdzikir kepada Allah.

Ketiga, menahan pendengaran dari dari hal-hal yang dibenci agama. Kata Imam al-Ghazali: “Setiap yang haram untuk dikatakan, haram juga untuk didengarkan.”

Keempat, menahan seluruh anggota tubuh yang lain dari dosa. Perut dari makanan haram, tangan dari meng­aniaya orang lain atau mengambil dari yang bukan haknya, dan kaki dari meng­injak-injak hak orang lain.

Kelima, menahan diri untuk tidak makan dan minum dengan cara ber­lebihan walau dengan makanan halal sekalipun.

Keenam, sesudah berbuka (puasa), hati hendaknya selalu berada di antara cemas dan harap. Ia tidak boleh terlalu takut puasanya tidak diterima Allah, tidak juga terlalu yakin bahwa puasa­nya sudah sempurna.

Sebagai umat yang beriman, kita tentu tidak mengharapkan puasa kita menjadi rusak dan sia-sia. Karena puasa yang diwajibkan Allah pada bulan Ramadhan bukanlah sekadar menahan diri dari makan dan minum, tapi yang lebih penting adalah menjaga hati agar selalu ingat kepada Allah. Dengan kata lain, tidak semestinya puasa kita menjadi rusak oleh sebab perbuatan di luar makan dan minum tadi. Rasulullah SAW bersabda, “Banyak orang berpuasa tetapi tidak menda­patkan pahala puasa keeuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah).

Saat ini, banyak umat Islam yang menjalankan ibadah puasa hanya sekadar menahan makan dan minum saja. Di luar itu, mereka tetap saja me­lakukan pelanggaran-pelanggaran meskipun sifatnya kecil. Mata tetap dibiarkan untuk melihat pada hal-hal tidak semestinya dilihat. Telinga di­biarkan untuk mendengarkan pergunjingan dan keburukan-keburukan or­ang lain. Mulut dibiarkan untuk ber­sumpah serapah, mengadu domba, atau mencaci maki.

Konon, semasa Rasulullah, ada kisah dua orang perempuan yang sangat kepayahan dalam menjalankan ibadah puasa. Mereka tampak begitu lapar dan dahaga, bahkan hampir-hampir ping­san. Mereka meminta izin untuk ber­buka. Nabi kemudian menyuruh mereka muntah. Segera orang melihat kedua perempuan itu memuntahkan darah dan daging busuk. Ketika orang­orang yang menyaksikan peristiwa tersebut merasa heran, Nabi lalu ber­sabda, “Mereka berpuasa dari apa yang diharamkan oleh Allah (yakni makan dan minum), tetapi mereka membatal­kan puasanya dengan yang diharam­kan oleh Allah. Mereka duduk-duduk, menggunjingkan kejelekan orang lain. Itulah daging yang mereka makan.”

Selain puasa untuk menahan diri dari makan dan minum, nafsu syah­wat, dan menjaga seluruh anggota badan, bulan Ramadhan hakikatnya sebagai upaya penyucian jiwa. Penyucian jiwa dilakukan dengan cara terus berdzikir kepada Allah. Dengan berdzikir kepada Allah, seluruh nafsu dapat dikekang sehingga manusia memperoleh kemenangan melawan syetan. Berdzikir kepada Allah tidak hanya dilakukan melalui amalan-­amalan wirid, tapi juga berusaha menjaga agar puasa tidak rusak yang disebabkan oleh godaan syetan, seperti hasrat untuk makan atau minum. Rasulullah mengatakan, syetan dapat berjalan melalui tubuh manusia dengan mengikuti aliran darah. Maka agar syetan tak menembus tubuh manusia, salah satu untuk mence­gahnya adalah dengan menghimpit jalan tersebut dengan lapar.

Berdzikir kepada Allah juga dilakukan dengan cara memperbanyak amal saleh, seperti bersede­kah, berinfaq, ataupun melalui zakat fitrah sebagaimana yang dipe­rintahkan Allah. Me­nyantuni fakir miskin dan kaum dlu’afa (lemah) meru­pakan salah satu mani­festasi ibadah di bulan Ramadhan. Meskipun demikian, menyantuni kaum dlu’afa tak semata pada bulan Ramadhan, pada bulan-bulan lain pun kita diperintahkan untuk lebih memperhatikan mereka.

Banyak orang beranggapan bahwa berdzikir kepada Allah hanya sebatas pada amalan wirid dengan cara berdiam diri di sudut-sudut masjid. Padahal, dengan memperhatikan kaum dlu’afa, itu pun hakikatnya adalah dzikir. Dzikir kepada kaum dlu’afa adalah dzikir kepada Allah. Kaum dlu’afa adalah makhluk Allah dan manisfestasi dari kebesaran Allah.

Berdzikir, dalam pengertian yang lebih luas, adalah upaya untuk men­sucikan jiwa dari segala bentuk kemunafikan dan ketersesatan jalan menuju kepada Allah. Untuk sampai menuju Allah, maka sifat-sifat tercela selama bulan Ramadhan perlu di­hindari, karena hal itu dapat menjadi hijab (penghalang) kedekatan seorang hamba dengan Allah.

Berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, ujub, riya, dan takabur, selama Ramadhan sedapat mungkin harus dihilangkan. Demikian pula, umat Is­lam harus menahan kesabaran, tidak sombong, tidak rakus atau tamak, tidak bakhil dan kikir, dan lain sebagainya.

Upaya menjaga kesucian jiwa selama bulan Ramadhan sebenarnya sangat efektif. Mereka yang berhasil menjaga kesucian jiwanya tentu akan mem­peroleh ketenangan batin. Ketenangan batin itu diperlukan agar manusia dapat menjalankan pekerjaannya sehari-hari dengan baik, entah itu pedagang, petani, pejabat, profesional ataupun pebisnis.

Sebagai pedagang, dia akan berlaku jujur, tidak mengurangi timbangan, dan tidak licik, seperti mencampurkan zat-zat berbahaya ke dalam bahan makanan yang dijualnya. Sebagai petani, dia akan tahu mana tanah garapan sendiri dan mana hak orang lain. Sebagai pejabat, dia akan mampu menahan diri untuk berperilaku korup dan menjalankan jabatannya dengan penuh amanah. Sebagai profesional, dia akan bekerja sesuai dengan keahliannya untuk kebaikan orang lain, bukan untuk menipu atau merusak. Lalu sebagai pebisnis, dia akan berbisnis tanpa harus menzalimi orang lain dengan memenuhi hak-hak setiap karyawannya. Selamat menjalankan ibadah puasa.***