Burhanuddin: Siapa pun Berpeluang Menjadi Presiden

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Sri Mulyani

Auditorium, BERITA UIN Online – Pengamat politik sekaligus penulis buku Perang Bintang 2014 Burhanuddin Muhtadi mengatakan, tidak ada calon atau parpol yang menonjol untuk menjadi presiden pada pemilihan umum 2014 mendatang. Siapa pun masih  memiliki peluang untuk menjadi presiden di Indonesia.

Hal itu dikatakan Burhanuddin dalam peluncuran bukunya berjudul Perang Bintang 2014 di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Kamis (21/2). Acara ini dihadiri sejumlah tokoh nasional antar lain Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat, mantan Wapres Yusuf Kalla, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfudh MD, dan mantan Panglima TNI Letjen (Purn) Endriartono Sutarto. Acara yang bekerjasama dengan Lembaga Survei Indonesia, penerbit buku Noura, dan FISIP UIN Jakarta ini dimoderatori oleh Tina Talisa, presenter televisi swasta.

Menurut dosen FISIP UIN Jakarta itu, buku Perang Bintang 2014 ditulinya sebagai konstalasi dan prediksi pemilihan umum dan pemilihan presiden 2014 nanti. Buku itu berisi prediksi partai politik manakah yang akan menang dalam pemilihan umum nanti dan siapakah yang akan menjadi presiden. “Berdasarkan hasil survey, Megawati saja yang pernah menjabat menjadi presiden tingkat pemilihannya masih jauh. Orang-orang baru seperti Dahlan Iskan dan Mahfudh MD tingkatnya rata-rata masih di bawah 35 persen,” tuturnya. Ia menginginkan agar masyarakat Indonesia memilih calon presiden dan partai politik bukan sekadar dari polularitas semata tapi juga kualitas.

Sementara itu, Yusuf Kalla yangjuga Ketua Umum Palang Merah Indonesia menegaskan, kondisi partai politik saat ini dianalogikan seperti sebuah band dan vokalis. Menurutnya, semua orang pasti akan mencari penyanyi dan band yang bagus. Begitu juga partai politik, masyarakat ingin partai politik dan calon presidennya yang baik dan bersih. “Kondisi Partai Golkar saat ini ibarat sebuah penyanyi yang sedang memperbaiki pita suara dan butuh waktu untuk memperbaiki partainya,” katanya.

Sedangkan menurut Endriartono, partai politik saat ini harus bisa membentuk sebuah karakter agar bisa disukai masyarakat.  “Partai politik harus dipilih sesuai masyarakat, selain itu hendaknya masyarakat punya kriteria untuk memilih capres,” katanya.

Mahfudh MD mengungkapkan, ketika menghadapi pemilihan umum fenomena golput(tidak memilih) pun selalu datang, menurutnya sejelek apapun citra partai politik di Indonesia, sebagai warga Negara,kita (masyarakat Indonesia) tetap harus memilih.”Indonesia Negara demokrasi, di dalam Undang-Undang sudah diatur, tidak bisa tak ada partai politik. Undang-undang mengatakan harus ada yang dipilih, tidak baik tak peduli partai,” terangnya.

Komaruddin Hidayat menyatakan, para bintang yang ada dalam buku Perang Bintang 2014 adalah orang-orang hebat dan pahlawan. Meski mereka tidak menjadi presiden pada 2014 mendatang, akan lebih baik jika mereka mengarahkan bagaimana proses politik yang sehat dan menjadi pelatih yang bisa melahirkan juara.

Nasib negara ada di tangan pemerintah, yang nasibnya ditangan parpol. Di sini yang menjadi persoalan jika parpolnya tidak bermutu. Karena itu, parpol seharusnya memiliki kemampuan dan integritas. “Saya lihat parpol saat ini masih bingung sebab kehilangan pemimpin-pemimpin bagus,” ungkapnya. (ns)