Budaya Nonton versus Budaya Tulis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

DI Indonesia tradisi dan budaya tulis-baca belum kuat. Mungkin karena sibuk dengan pergerakan politik dan peperangan, bahasa pidato agitasi dan provokasi lebih mudah dijumpai.

Untuk melawan musuh ataupun kelompok yang tidak disenangi, pidato dengan bumbu-bumbu dalil agama akan lebih mudah membangkitkan emosi massa, khususnya di zaman penjajahan dulu. Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam,salah satu tradisi yang kuat adalah menyelenggarakan ceramah-ceramah, sejak yang pesertanya relatif kecil sampai yang ribuan.

Sejak yang diselenggarakan di musala, masjid, alun-alun sampai di istana.Tradisi ini begitu kuat, sehingga mungkin hanya Indonesia yang memiliki hari libur nasional keagamaan paling banyak di dunia. Pesan-pesan moral keagamaan dan jaringan aktivitas politik memang tidak cukup mengandalkan bahasa tulis, melainkan mesti bahasa lisan dan memerlukan suasana dan kontak emosional.

Itulah makanya upacara ritual keagamaan seperti sembahyang berjamaah mesti berkumpul dalam suatu ruang yang sama, tidak dibenarkan berlangsung jarak jauh sebagaimana teleconference dalam seminar keilmuan. Sementara tradisi tulis-baca belum membudaya, masyarakat kita terempas gelombang budaya menonton televisi. Repotnya, sajian acara televisi banyak yang tidak bermutu, bahkan merusak proses pendidikan, baik bagi anak-anak maupun masyarakat.

Mental dan selera pemirsa televisi mulai terbentuk oleh berbagai program yang sekadar untuk mengisi waktu luang tanpa mengajak untuk berpikir kritis. Dengan ungkapan lain, produsen membentuk selera pembeli atau produsen memenuhi selera pemirsa yang hanya ingin santai sambil bergosip ria. Saya merasa beruntung sewaktu sekolah, baik waktu di sekolah dasar maupun di pondok pesantren, diajarkan untuk mencintai buku dan berlatih menulis.

Lewat buku kita dapat terbang menjelajahi dunia. Lewat buku kita menelusuri lorong waktu ke masa lalu untuk memahami gagasan-gagasan tokoh sejarah dan pasang surut perjalanan sebuah bangsa dan masyarakat. Yang saya rasakan buku-buku itu juga mengajak saya berimajinasi secara intelektual, bukannya imajinasi sensual seperti tayangan televisi yang sering menyajikan adegan atau foto yang vulgar.

Tentu saja televisi banyak sekali manfaatnya baik untuk hiburan, pendidikan, maupun penyebaran informasi. Hanya, ketika mentalitas tulis-baca masyarakat lemah tayangan televisi kurang mendukung pengembangan intelektual untuk mencintai tradisi tulis-baca. Khususnya pada usia remaja, keterampilan dan tradisi menulis amat sangat positif untuk pembentukan intelektualitas.

Lewat tulisan seorang siswa dilatih berpikir logis, sistematis, dan analitis yang jauh berbeda dari bahasa obrolan. Bahasa lisan, terlebih mengobrol, memang terasa mengasyikkan, namun segi gramatika, sistematisasi, dan ekonomisasi kata tidak diperhatikan. Untuk melatih siswa agar berpikir logis sistematis, salah satu metodenya adalah melalui kebiasaan menulis.

Menulis juga membuat seseorang bertanggung jawab atas apa yang dipikirkan karena akan terabadikan dalam dokumen dan terbaca oleh orang lain.Khususnya tulisan yang disajikan dalam forum seminar, surat kabar, atau bentuk karya tulis lain. Hal yang juga saya rasakan dari kebiasaan menulis adalah kegiatan ini menjadi hiburan yang melegakan. Ketika saya merasa capai dan sumpek melihat situasi politik, dengan menuliskan apa yang saya pikirkan dan rasakan, beban pikiran dan emosi menjadi berkurang.

Perasaan menjadi lega ketika sebuah tulisan dipublikasikan dan dibaca orang,terlepas apakah tulisan itu memengaruhi pikiran pembaca atau tidak. Begitu pun ketika membaca buku, mereka yang biasa menulis akan lebih kritis memahaminya karena sudah terbiasa membangun sebuah narasi argumentatifkomparatif dalam benaknya yang akan dituangkan dalam sebuah tulisan.

Sayang, suasana pendidikan sekarang ini sangat menyedihkan. Pelajaran sastra dan budaya kurang populer, dikalahkan oleh target lulus dalam ujian bahasa inggris dan matematika. Para siswa sangat miskin membaca karya sastra dan buku-buku sejarah sehingga semakin tidak mengenal sejarah bangsanya. Tidak mengenal tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan dan kebudayaan.

Lebih miskin lagi pengalaman dalam kegiatan tulis-menulis, sehingga yang menonjol kebiasaan menghafal rumus-rumus, tetapi lemah dalam refleksi dan reproduksi pemikiran. Anak-anak dilatih berpikir repetitif – mekanistik, bukan reflektif -  inovatif. Suasana belajar seperti ini akan membuat generasi kita tidak akan mampu bersaing dengan bangsa lain yang pendidikannya menekankan kreativitas.(*)

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia, Jumat, 25 Juni 2010

Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Budaya Nonton versus Budaya Tulis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

DI Indonesia tradisi dan budaya tulis-baca belum kuat. Mungkin karena sibuk dengan pergerakan politik dan peperangan, bahasa pidato agitasi dan provokasi lebih mudah dijumpai.

Untuk melawan musuh ataupun kelompok yang tidak disenangi, pidato dengan bumbu-bumbu dalil agama akan lebih mudah membangkitkan emosi massa, khususnya di zaman penjajahan dulu. Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam,salah satu tradisi yang kuat adalah menyelenggarakan ceramah-ceramah, sejak yang pesertanya relatif kecil sampai yang ribuan.

Sejak yang diselenggarakan di musala, masjid, alun-alun sampai di istana.Tradisi ini begitu kuat, sehingga mungkin hanya Indonesia yang memiliki hari libur nasional keagamaan paling banyak di dunia. Pesan-pesan moral keagamaan dan jaringan aktivitas politik memang tidak cukup mengandalkan bahasa tulis, melainkan mesti bahasa lisan dan memerlukan suasana dan kontak emosional.

Itulah makanya upacara ritual keagamaan seperti sembahyang berjamaah mesti berkumpul dalam suatu ruang yang sama, tidak dibenarkan berlangsung jarak jauh sebagaimana teleconference dalam seminar keilmuan. Sementara tradisi tulis-baca belum membudaya, masyarakat kita terempas gelombang budaya menonton televisi. Repotnya, sajian acara televisi banyak yang tidak bermutu, bahkan merusak proses pendidikan, baik bagi anak-anak maupun masyarakat.

Mental dan selera pemirsa televisi mulai terbentuk oleh berbagai program yang sekadar untuk mengisi waktu luang tanpa mengajak untuk berpikir kritis. Dengan ungkapan lain, produsen membentuk selera pembeli atau produsen memenuhi selera pemirsa yang hanya ingin santai sambil bergosip ria. Saya merasa beruntung sewaktu sekolah, baik waktu di sekolah dasar maupun di pondok pesantren, diajarkan untuk mencintai buku dan berlatih menulis.

Lewat buku kita dapat terbang menjelajahi dunia. Lewat buku kita menelusuri lorong waktu ke masa lalu untuk memahami gagasan-gagasan tokoh sejarah dan pasang surut perjalanan sebuah bangsa dan masyarakat. Yang saya rasakan buku-buku itu juga mengajak saya berimajinasi secara intelektual, bukannya imajinasi sensual seperti tayangan televisi yang sering menyajikan adegan atau foto yang vulgar.

Tentu saja televisi banyak sekali manfaatnya baik untuk hiburan, pendidikan, maupun penyebaran informasi. Hanya, ketika mentalitas tulis-baca masyarakat lemah tayangan televisi kurang mendukung pengembangan intelektual untuk mencintai tradisi tulis-baca. Khususnya pada usia remaja, keterampilan dan tradisi menulis amat sangat positif untuk pembentukan intelektualitas.

Lewat tulisan seorang siswa dilatih berpikir logis, sistematis, dan analitis yang jauh berbeda dari bahasa obrolan. Bahasa lisan, terlebih mengobrol, memang terasa mengasyikkan, namun segi gramatika, sistematisasi, dan ekonomisasi kata tidak diperhatikan. Untuk melatih siswa agar berpikir logis sistematis, salah satu metodenya adalah melalui kebiasaan menulis.

Menulis juga membuat seseorang bertanggung jawab atas apa yang dipikirkan karena akan terabadikan dalam dokumen dan terbaca oleh orang lain.Khususnya tulisan yang disajikan dalam forum seminar, surat kabar, atau bentuk karya tulis lain. Hal yang juga saya rasakan dari kebiasaan menulis adalah kegiatan ini menjadi hiburan yang melegakan. Ketika saya merasa capai dan sumpek melihat situasi politik, dengan menuliskan apa yang saya pikirkan dan rasakan, beban pikiran dan emosi menjadi berkurang.

Perasaan menjadi lega ketika sebuah tulisan dipublikasikan dan dibaca orang,terlepas apakah tulisan itu memengaruhi pikiran pembaca atau tidak. Begitu pun ketika membaca buku, mereka yang biasa menulis akan lebih kritis memahaminya karena sudah terbiasa membangun sebuah narasi argumentatifkomparatif dalam benaknya yang akan dituangkan dalam sebuah tulisan.

Sayang, suasana pendidikan sekarang ini sangat menyedihkan. Pelajaran sastra dan budaya kurang populer, dikalahkan oleh target lulus dalam ujian bahasa inggris dan matematika. Para siswa sangat miskin membaca karya sastra dan buku-buku sejarah sehingga semakin tidak mengenal sejarah bangsanya. Tidak mengenal tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan dan kebudayaan.

Lebih miskin lagi pengalaman dalam kegiatan tulis-menulis, sehingga yang menonjol kebiasaan menghafal rumus-rumus, tetapi lemah dalam refleksi dan reproduksi pemikiran. Anak-anak dilatih berpikir repetitif – mekanistik, bukan reflektif -  inovatif. Suasana belajar seperti ini akan membuat generasi kita tidak akan mampu bersaing dengan bangsa lain yang pendidikannya menekankan kreativitas.(*)

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia, Jumat, 25 Juni 2010

Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta