BLU Lebih Transparan dan Akuntabel

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter Akhwani Subkhi

Aula Student Center, UINJKT Online – Dalam rangka mensosialisasikan Badan Layanan Umum (BLU) dan mekanisme pelaporan anggaran kepada pimpinan lembaga kemahasiswaan di UIN Jakarta, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) menggelar workshop bertajuk Penyelenggaraan dan Pelaporan Anggaran pada Badan Layanan Umum di Aula Student Center, Sabtu (28/3). Workshop menghadirkan Kepala Biro Perencanaan, Keuangan dan Sitem Informasi Drs H Abdul Malik MM dan Kepala Pengendali Lembaga Keuangan BLU Abdul Hamid Cebba.

Menurut Abdul Malik, sedikitnya ada lima alasan mengapa UIN Jakarta memilih manajemen BLU. Kelima alasan itu adalah untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi yang semakin ketat, adanya problem pengelolaan keuangan pendapatan negara bukan pajak (PNBP), tuntutan stakeholders, optimalisasi pengelolaan aset kampus, dan keterbatasan kemampuan pemerintah dalam pendanaan perguruan tinggi.

“Sebelum BLU, semua pemasukan atau pendapatan harus disetor ke kas negara, tapi setelah BLU kita hanya menyetorkan jumlah atau nominalnya saja, sementara uangnya ada di rekening rektor,” katanya.

Da menambahkan, melalui BLU diharapkan honor dosen, misalnya, tidak lagi mengalami keterlambatan sebagaimana yang terjadi sebelum BLU. Dalam BLU ada fleksibilitas dalam pengelolaan anggaran dan kampus lebih cepat memproses keuangan jika sewaktu-waktu ada keperluan atau kebutuhan mendadak. “Tapi angka yang masuk dan keluar tetap dilaporkan ke negara,” tegas Malik.

Abdul Hamid Cebba mengatakan, manajemen BLU lebih transparan dan akuntabel dalam pengelolaan anggaran. Sebelum menggunakan anggaran, pihak yang akan memakai anggaran harus membuat rencana belanja anggaran (RBA) terlebih dahulu. Jika tidak, maka tidak bisa memakai uang tersebut. “Dengan adanya RBA kita lebih enak melakukan pengendalian anggaran,” kata Cebba.

Ia merasa senang mahasiswa berkeinginan memperbaiki laporan pertanggungjawabannya menjadi lebih baik dan mengikuti sistem pelaporan anggaran sesuai BLU. Menurut dia sistem pelaporan di UIN Jakarta sekarang ini dilakukan secara desentralisasi. Setiap fakultas diminta membuat laporannya masing-masing kemudian dikumpulkan menjadi satu di tingkat universitas. “Laporan itu nanti akan dijadikan laporan rektor kepada menteri keuangan,” katanya.

Sekarang, imbuhnya, mahasiswa harus memiliki pikiran positif bagaimana memajukan dan memperbaiki kampus tercinta. Salah satunya adalah dengan cara tidak mensalahgunakan anggaran dan membuat laporan dengan baik.

BLU Lebih Transparan dan Akuntabel

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter Akhwani Subkhi

Aula Student Center, UINJKT Online – Dalam rangka mensosialisasikan Badan Layanan Umum (BLU) dan mekanisme pelaporan anggaran kepada pimpinan lembaga kemahasiswaan di UIN Jakarta, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) menggelar workshop bertajuk Penyelenggaraan dan Pelaporan Anggaran pada Badan Layanan Umum di Aula Student Center, Sabtu (28/3). Workshop menghadirkan Kepala Biro Perencanaan, Keuangan dan Sitem Informasi Drs H Abdul Malik MM dan Kepala Pengendali Lembaga Keuangan BLU Abdul Hamid Cebba.

Menurut Abdul Malik, sedikitnya ada lima alasan mengapa UIN Jakarta memilih manajemen BLU. Kelima alasan itu adalah untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi yang semakin ketat, adanya problem pengelolaan keuangan pendapatan negara bukan pajak (PNBP), tuntutan stakeholders, optimalisasi pengelolaan aset kampus, dan keterbatasan kemampuan pemerintah dalam pendanaan perguruan tinggi.

“Sebelum BLU, semua pemasukan atau pendapatan harus disetor ke kas negara, tapi setelah BLU kita hanya menyetorkan jumlah atau nominalnya saja, sementara uangnya ada di rekening rektor,” katanya.

Da menambahkan, melalui BLU diharapkan honor dosen, misalnya, tidak lagi mengalami keterlambatan sebagaimana yang terjadi sebelum BLU. Dalam BLU ada fleksibilitas dalam pengelolaan anggaran dan kampus lebih cepat memproses keuangan jika sewaktu-waktu ada keperluan atau kebutuhan mendadak. “Tapi angka yang masuk dan keluar tetap dilaporkan ke negara,” tegas Malik.

Abdul Hamid Cebba mengatakan, manajemen BLU lebih transparan dan akuntabel dalam pengelolaan anggaran. Sebelum menggunakan anggaran, pihak yang akan memakai anggaran harus membuat rencana belanja anggaran (RBA) terlebih dahulu. Jika tidak, maka tidak bisa memakai uang tersebut. “Dengan adanya RBA kita lebih enak melakukan pengendalian anggaran,” kata Cebba.

Ia merasa senang mahasiswa berkeinginan memperbaiki laporan pertanggungjawabannya menjadi lebih baik dan mengikuti sistem pelaporan anggaran sesuai BLU. Menurut dia sistem pelaporan di UIN Jakarta sekarang ini dilakukan secara desentralisasi. Setiap fakultas diminta membuat laporannya masing-masing kemudian dikumpulkan menjadi satu di tingkat universitas. “Laporan itu nanti akan dijadikan laporan rektor kepada menteri keuangan,” katanya.

Sekarang, imbuhnya, mahasiswa harus memiliki pikiran positif bagaimana memajukan dan memperbaiki kampus tercinta. Salah satunya adalah dengan cara tidak mensalahgunakan anggaran dan membuat laporan dengan baik.