Gedung Rektorat, BERITA UIN Online— Blogger UIN Jakarta, Syahirul Alim, berhasil meraih nominasi Best  in Opinion pada Kompasiana Awards 2017 di Jakarta, Sabtu (21/10/2017). Nominasi didapat atas produktivitas kepenulisan, ketajaman analisis, dan popularitas setiap opininya dalam menyoroti berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan yang dimuat di laman Kompasiana, kelolaan Kompas Cyber Media.

Menanggapi penghargaan yang didapatnya, pegawai Pusat Pengembangan Bahasa UIN Jakarta ini memilih merendah. Ia mengaku menulis semata hobi dan caranya menyuarakan pendapat atas berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan yang hangat. Selain itu, menulis baginya hanya refleksi atas sikap kritis sekaligus keinginannya mewariskan karya bermanfaat bagi publik.

“Tetapi terima kasih atas penghargaan yang diberikan (Kompasiana, red.). Semoga saya tetap berkarya yang bermanfaat untuk diri saya sendiri. Ini suatu apresiasi bagi saya,” tambahnya.

Diketahui, Kompasiana melalui Kompasianival 2017 memberikan apresiasi atas sejumlah blogger yang bergabung dan aktif menulis opini berbagai aspek kehidupan sosial. Ada tujuh kategori penghargaan yang akan diberikan, mulai Best in Citizen Journalism, Best in Fiction, Best in Opinion, Best in Specific Interest, Lifetime Achievement, People’s Choice, dan Kompasianer of the Year.

Kompasianival 2017 sendiri mengusung tema ‘Kolaborasi Generasi’ merujuk pada banyaknya penggunaan frasa ‘generasi milenial’ dalam berbagai tulisan blogger. Melalui tema “Kolaborasi Generasi”, Kompasianival 2017 ingin menyoroti ragam respon lintas generasi terhadap berbagai isu aktual di tengah-tengah masyarakat.

Di tepi lain, Alim menuturkan, lebih dari setahun terakhir ia aktif menulis di laman Kompasiana. Puluhan artikelnya tentang berbagai isu sosial, politik, dan keislaman telah dipublikasikan di laman publikasi online yang dikembangkan Kompas Cyber Media sejak 22 Oktober 2008.

Jumat (20/10/2017) sebelumnya, Alim di laman Kompasiana menulis artikel Santri-Kota dan Luruhnya Idealisme “Kesantrian”. Dalam artikel yang dibaca oleh lebih dari 1000 orang pembaca ini, Alim menyoroti adaptasi yang harus dilakukan pesantren, kyai, santri beserta nilai tradisionalnya atas derasnya arus modernisme dan perubahan sosial.

Masih di bulan dan laman yang sama, Alim juga menulis sejumlah artikel lain. Pada Kamis 5 Oktober, misalnya, Alim menulis artikel Menyoal Santri Milenial sebagai kritiknya atas pemenuhan Hari Santri Nasional semata hanya politik akomodatif pemerintah atas kekuatan suara politik pesantren dibanding menempatkan santri dan pesantren sebagai kultur.

Selain rajin menulis di laman Kompasiana, Alim juga produktif menuliskan artikelnya di berbagai laman publikasi online lain seperti Indonesiana yang dikeloa Koran Tempo dan Geotimes. Kamis (12/10/2017) sebelumnya, Alim menulis Poligami di Antara Darurat Kemanusiaan dan Hedonisme di laman Indonesiana Tempo menyoroti akar perdebatan tentang Poligami dengan sudut pandang Islam.

Masih di bulan yang sama, alumnus Program Magister Ilmu Politik UI ini menerbitkan artikelnya Akrobat Ustadz “Seleb” dan Gelinjang Media Sosial di laman Geotimes. Dalam artikel yang terbit Jumat 13 Oktober ini, Alim menyuarakan kritiknya atas kecenderungan peningkatan citra diri para tokoh agama melalui media sosial, bukan melalui karya keilmuan dan kemasyarakatan. [] farah nh/yuni nk/zm

Share This