Betapa Megahnya Istanaku

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>



 

SALAH satu anugerah hidup terbesar yang tidak dapat diukur dengan materi adalah kesehatan. Bisa minum dan buang air kecil pun suatu anugerah yang amat mahal harganya,namun kita sering melupakan, sehingga tidak mampu bersyukur.


Kesehatan itu bak mahkota raja. Seseorang baru menyadari kehilangan mahkotanya ketika sakit. Alkisah, tersebutlah seorang raja yang kaya dan perkasa, namun pelit. Hobinya berburu hewan. Ketika datang bulan purnama,dia keluar istana dilengkapi senjata tombak dan menunggang kuda untuk berburu. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah kijang. Dia merasa tertantang dan adrenalinnya naik ketika mengejar kijang yang larinya begitu cepat dan lincah.

 

Raja itu terus mengejar,namun masih belum berhasil,sehingga tambah penasaran. Saking semangatnya, dia tidak merasa kijang itu telah keluar jauh dari lingkungan istana,bahkan telah masuk ke padang pasir nan luas dan tandus. Berkat semangat dan kerja keras, akhirnya raja berhasil menangkap kijang dengan lemparan tombaknya.Setelah berhasil dia berhenti dan turun dari kudanya. Dia kaget bahwa perjalanannya telah jauh dari istana dan kini tersesat di padang pasir dalam keadaan capai,lapar,dan haus,yang tak terkira.Tak seorang pun penduduk di sana.

 

Dalam situasi demikian, satu-satunya harapan adalah menunggu musafir lewat untuk minta bantuan makan dan minum agar tenaganya pulih kembali,lalu pulang ke istana. Demikianlah, setelah menunggu sehari semalam penuh dalam kondisi badan amat letih, lapar, dan haus, lewatlah seorang musafir yang ditunggu-tunggu.“Hai kawan, saya senang sekali Anda datang. Kalau tidak, pasti saya akan menemui ajal di padang pasir ini akibat kehausan dan mayatku akan jadi pesta anjing-anjing liar,”katanya lirih.

 

“Kalau boleh tahu, mengapa Saudara di sini, sudah berapa lama,dan apa yang bisa aku bantu?”tanya musafir. “Saya ini seorang raja yang tengah berburu kijang, lalu nyasarke padang pasir.Semua bekalku habis,bahkan kuda yang saya kendarai juga pergi entah ke mana ketika saya tertidur,”jawabnya. Mengetahui yang tersesat adalah raja, musafir tadi berubah pikiran, yang semula mau memberi minum secara gratis, terpikir untuk ditukarkan dengan uang.

 

“Saya membawa makanminum tetapi terbatas, sementara perjalanan saya masih jauh.Bagaimana kalau sebagian bekal saya ditukar dengan uang?”tanya musafir. Raja menjawab, “Kamu itu sungguh keterlaluan. Sudah tahu saya ini raja, mestinya menghormati, tetapi malah mencari keuntungan di tengah penderitaan orang lain?” Mendengar jawaban itu bukannya musafir menjadi kasihan, malah tersinggung. “Ya sudah kalau demikian, selamat tinggal, saya mau meneruskan perjalanan, semoga ada musafir lewat yang sudi menolongmu.

 

Hanya harap tahu, belum tentu sebulan sekali ada musafir lewat daerah terpencil ini.” Mendengar jawaban musafir yang bernada kesal itu, raja pun hatinya melunak dan mengiba minta dikasihani dengan suara yang sudah sangat lemah karena kehausan. Di benaknya muncul bayangan yang mengerikan andaikan tidak mendapat pertolongan air, dia pasti akan mati konyol di tengah padang pasir.

 

Maka terjadilah dialog dan tawarmenawar harga antara musafir dan raja tadi yang berujung pada tawaran yang sungguh di luar dugaan raja. “Karena engkau seorang raja yang pasti kaya raya dan memiliki banyak istana, engkau boleh mengambil separuh bekal makanan dan airku dengan imbalan istana. Kalau setuju,serahkan kunci istanamu, kalau tidak saya akan segera pergi meneruskan perjalanan.” Raja kesal, namun tidak berdaya.

 

Setelah tercenung cukup lama sementara kesehatannya semakin buruk, akhirnya raja setuju.Tak ada pilihan lain, kecuali sebuah istana miliknya mesti ditukar dengan air minum. Singkat cerita, setelah minum dan badannya segar kembali, raja pulang ke istana dengan jalan kaki. Berhari-hari dia baru sampai. Sesampai di rumah, sambil istirahat menikmati makan minum yang terhidang, dia berpikir, sebuah istanaku yang megah telah hilang hanya ditukar dengan beberapa botol air minum.

 

“Selama ini saya tidak pernah menyadari betapa nikmat dan mahalnya bisa minum secara leluasa, yang harganya senilai istana,”pikirnya. Belum pulih benar kesehatannya, raja itu terserang sakit yang membuatnya tidak bisa buang air kecil alias kencing. Mungkin akibat kelelahan fisik.Maka dipanggillah tabib istana, namun hasilnya sia-sia. Tetap saja raja tidak bisa buang air kecil. Akhirnya dibuatlah sayembara terbuka,siapa yang bisa mengobati raja, akan memperoleh hadiah yang banyak.

 

Maka datanglah silih berganti tabib yang berusaha mengobati,namun tetap juga belum berhasil.Seluruh aktivitas raja terhenti gara-gara tidak bisa buang air kecil. Terakhir, datanglah seorang tabib yang penampilannya tidak meyakinkan,lalu menantang raja yang kaya namun pelit itu.“Tuan raja, saya akan berusaha mengobati penyakit tuan agar bisa sehat, perut tidak kembung, serta lancar buang air kecil.

 

Namun ongkosnya mahal. Kalau sembuh imbalannya sebuah istana, dan kalau gagal silakan saya dihukum mati,”katanya. Karena tak lagi tahan menanggung sakit akibat tidak bisa kencing, tawaran tabib itu disepakati mesti dengan hati dongkol. Singkat cerita, ternyata raja sembuh dan bisa buang air dengan lega dan lancar, namun dengan ongkos sebuah istana yang berpindah tangan. Lagi-lagi raja itu merenung, betapa nikmat dan mahalnya bisa minum dan buang air kecil secara leluasa yang nilainya seharga dua istana.

 

“Gara-gara kehausan saya kehilangan satu istana, dan kini gara-gara tidak bisa buang air kecil, hilang lagi istanaku yang lain,”keluhnya. “Mengapa selama ini saya tidak pernah bersyukur,” bisik raja berintrospeksi.“Saya bisa makan,minum,dan tidur dengan nikmat, tetapi tidak pernah saya hargai, bahkan saya selalu saja mengejar harta dan sangat bangga pada istanaku. Padahal hanya dalam waktu sekejap istanaku hilang hanya karena ingin minum dan buang air kecil.” Sejak itu raja berubah sikap.

 

Dia menjalani hidup denganpenuhrasasyukurdan senang berderma, sehingga rakyatnya yang semula benci, berubah menjadi simpati. Ketika memandang makanan dan minuman yang terhidang, raja berbisik pada diri sendiri, “Air minum ini nilainya sama dengan istanaku.” Ketika hendak masuk kamar kecil, dia membayangkan masuk istana.Kesehatan itu mahkota kehidupan yang lebih berharga ketimbang mahkota raja, tetapi seseorang baru menyadari memiliki mahkota yang demikian berharga ketika sakit.

 

Haruskah sakit lebih dahulu untuk bisa mensyukuri anugerah kesehatan? Rayakanlah kesehatan setiap saat dengan berbuat kebajikan dan berbagi kebahagiaan pada sesama.(*)

 

Betapa Megahnya Istanaku

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>



 

SALAH satu anugerah hidup terbesar yang tidak dapat diukur dengan materi adalah kesehatan. Bisa minum dan buang air kecil pun suatu anugerah yang amat mahal harganya,namun kita sering melupakan, sehingga tidak mampu bersyukur.


Kesehatan itu bak mahkota raja. Seseorang baru menyadari kehilangan mahkotanya ketika sakit. Alkisah, tersebutlah seorang raja yang kaya dan perkasa, namun pelit. Hobinya berburu hewan. Ketika datang bulan purnama,dia keluar istana dilengkapi senjata tombak dan menunggang kuda untuk berburu. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah kijang. Dia merasa tertantang dan adrenalinnya naik ketika mengejar kijang yang larinya begitu cepat dan lincah.

 

Raja itu terus mengejar,namun masih belum berhasil,sehingga tambah penasaran. Saking semangatnya, dia tidak merasa kijang itu telah keluar jauh dari lingkungan istana,bahkan telah masuk ke padang pasir nan luas dan tandus. Berkat semangat dan kerja keras, akhirnya raja berhasil menangkap kijang dengan lemparan tombaknya.Setelah berhasil dia berhenti dan turun dari kudanya. Dia kaget bahwa perjalanannya telah jauh dari istana dan kini tersesat di padang pasir dalam keadaan capai,lapar,dan haus,yang tak terkira.Tak seorang pun penduduk di sana.

 

Dalam situasi demikian, satu-satunya harapan adalah menunggu musafir lewat untuk minta bantuan makan dan minum agar tenaganya pulih kembali,lalu pulang ke istana. Demikianlah, setelah menunggu sehari semalam penuh dalam kondisi badan amat letih, lapar, dan haus, lewatlah seorang musafir yang ditunggu-tunggu.“Hai kawan, saya senang sekali Anda datang. Kalau tidak, pasti saya akan menemui ajal di padang pasir ini akibat kehausan dan mayatku akan jadi pesta anjing-anjing liar,”katanya lirih.

 

“Kalau boleh tahu, mengapa Saudara di sini, sudah berapa lama,dan apa yang bisa aku bantu?”tanya musafir. “Saya ini seorang raja yang tengah berburu kijang, lalu nyasarke padang pasir.Semua bekalku habis,bahkan kuda yang saya kendarai juga pergi entah ke mana ketika saya tertidur,”jawabnya. Mengetahui yang tersesat adalah raja, musafir tadi berubah pikiran, yang semula mau memberi minum secara gratis, terpikir untuk ditukarkan dengan uang.

 

“Saya membawa makanminum tetapi terbatas, sementara perjalanan saya masih jauh.Bagaimana kalau sebagian bekal saya ditukar dengan uang?”tanya musafir. Raja menjawab, “Kamu itu sungguh keterlaluan. Sudah tahu saya ini raja, mestinya menghormati, tetapi malah mencari keuntungan di tengah penderitaan orang lain?” Mendengar jawaban itu bukannya musafir menjadi kasihan, malah tersinggung. “Ya sudah kalau demikian, selamat tinggal, saya mau meneruskan perjalanan, semoga ada musafir lewat yang sudi menolongmu.

 

Hanya harap tahu, belum tentu sebulan sekali ada musafir lewat daerah terpencil ini.” Mendengar jawaban musafir yang bernada kesal itu, raja pun hatinya melunak dan mengiba minta dikasihani dengan suara yang sudah sangat lemah karena kehausan. Di benaknya muncul bayangan yang mengerikan andaikan tidak mendapat pertolongan air, dia pasti akan mati konyol di tengah padang pasir.

 

Maka terjadilah dialog dan tawarmenawar harga antara musafir dan raja tadi yang berujung pada tawaran yang sungguh di luar dugaan raja. “Karena engkau seorang raja yang pasti kaya raya dan memiliki banyak istana, engkau boleh mengambil separuh bekal makanan dan airku dengan imbalan istana. Kalau setuju,serahkan kunci istanamu, kalau tidak saya akan segera pergi meneruskan perjalanan.” Raja kesal, namun tidak berdaya.

 

Setelah tercenung cukup lama sementara kesehatannya semakin buruk, akhirnya raja setuju.Tak ada pilihan lain, kecuali sebuah istana miliknya mesti ditukar dengan air minum. Singkat cerita, setelah minum dan badannya segar kembali, raja pulang ke istana dengan jalan kaki. Berhari-hari dia baru sampai. Sesampai di rumah, sambil istirahat menikmati makan minum yang terhidang, dia berpikir, sebuah istanaku yang megah telah hilang hanya ditukar dengan beberapa botol air minum.

 

“Selama ini saya tidak pernah menyadari betapa nikmat dan mahalnya bisa minum secara leluasa, yang harganya senilai istana,”pikirnya. Belum pulih benar kesehatannya, raja itu terserang sakit yang membuatnya tidak bisa buang air kecil alias kencing. Mungkin akibat kelelahan fisik.Maka dipanggillah tabib istana, namun hasilnya sia-sia. Tetap saja raja tidak bisa buang air kecil. Akhirnya dibuatlah sayembara terbuka,siapa yang bisa mengobati raja, akan memperoleh hadiah yang banyak.

 

Maka datanglah silih berganti tabib yang berusaha mengobati,namun tetap juga belum berhasil.Seluruh aktivitas raja terhenti gara-gara tidak bisa buang air kecil. Terakhir, datanglah seorang tabib yang penampilannya tidak meyakinkan,lalu menantang raja yang kaya namun pelit itu.“Tuan raja, saya akan berusaha mengobati penyakit tuan agar bisa sehat, perut tidak kembung, serta lancar buang air kecil.

 

Namun ongkosnya mahal. Kalau sembuh imbalannya sebuah istana, dan kalau gagal silakan saya dihukum mati,”katanya. Karena tak lagi tahan menanggung sakit akibat tidak bisa kencing, tawaran tabib itu disepakati mesti dengan hati dongkol. Singkat cerita, ternyata raja sembuh dan bisa buang air dengan lega dan lancar, namun dengan ongkos sebuah istana yang berpindah tangan. Lagi-lagi raja itu merenung, betapa nikmat dan mahalnya bisa minum dan buang air kecil secara leluasa yang nilainya seharga dua istana.

 

“Gara-gara kehausan saya kehilangan satu istana, dan kini gara-gara tidak bisa buang air kecil, hilang lagi istanaku yang lain,”keluhnya. “Mengapa selama ini saya tidak pernah bersyukur,” bisik raja berintrospeksi.“Saya bisa makan,minum,dan tidur dengan nikmat, tetapi tidak pernah saya hargai, bahkan saya selalu saja mengejar harta dan sangat bangga pada istanaku. Padahal hanya dalam waktu sekejap istanaku hilang hanya karena ingin minum dan buang air kecil.” Sejak itu raja berubah sikap.

 

Dia menjalani hidup denganpenuhrasasyukurdan senang berderma, sehingga rakyatnya yang semula benci, berubah menjadi simpati. Ketika memandang makanan dan minuman yang terhidang, raja berbisik pada diri sendiri, “Air minum ini nilainya sama dengan istanaku.” Ketika hendak masuk kamar kecil, dia membayangkan masuk istana.Kesehatan itu mahkota kehidupan yang lebih berharga ketimbang mahkota raja, tetapi seseorang baru menyadari memiliki mahkota yang demikian berharga ketika sakit.

 

Haruskah sakit lebih dahulu untuk bisa mensyukuri anugerah kesehatan? Rayakanlah kesehatan setiap saat dengan berbuat kebajikan dan berbagi kebahagiaan pada sesama.(*)