Bertuhan dengan Marah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
DALAM suatu forum dialog antarumat beragama,saya pernah membagi tiga pertanyaan untuk dijawab secara tertulis di awal ceramah saya.

Pertama, apakah Tuhan yang kita imani dan kita sembah itu sama atau berbeda, mengingat kita memeluk agama yang berbeda.Kedua,bumi yang kita tempati dan matahari yang setia memancarkan cahaya itu milik Tuhan agama siapa? Ketiga, mengingat setiap umat beragama meyakini dan mengharapkan nantinya masuk surga, apakah setiap agama memiliki surga dan neraka masing-masing ataukah surga dan neraka itu hanya satu untuk semua manusia?

Setelah jawaban terkumpul, cukup menarik jawaban peserta. Dari sekitar dua ratus peserta yang mayoritasnya beragama Islam, terlihat bahwa mereka menjawab Tuhan mereka tidak sama. Ketika ditanya bumi ini disediakan Tuhan untuk pemeluk agama yang mana, jawaban mulai problematik.Begitu pun ketika diskusi menyangkut surga dan neraka, jawaban juga terbelah.

Ada yang berpandangan, setiap pemeluk agama nantinya akan disediakan surga dan neraka masing-masing, sehingga tidak perlu ancammengancam dengan neraka terhadap umat beragama yang berbeda. Ada pula jawaban yang menyebut surga dan neraka itu satu untuk semuanya,dan mereka yang berbeda keyakinan agama dipandang tersesat dan kafir sehingga ancamannya neraka. Saya membahas problem di atas semata dari analisis psikologi beragama, bukan pembahasan filsafat dan akidah agama.

Karena psikologi, yang saya ingin dengarkan dan pahami adalah bagaimana pandangan dan sikap seseorang memandang orang lain dengan keyakinan yang berbeda. Dengan demikian saya ingin mengenal lebih lanjut mengapa seseorang begitu toleran dan ramah dalam beragama, dan mengapa ada orang yang beragama serta bertuhan dengan mudah marah melihat orang yang berbeda agama. Bahkan mereka itu dianggap dan diposisikan sebagai musuh yang mesti dihancurkan, meskipun tidak saling kenal dan tidak mengganggu dalam kehidupan sosialnya.

Mungkin karena diskusi berlangsung lintas agama, berbagai jawaban terhadap tiga pertanyaan di atas tidak muncul secara bebas dan transparan, agar tidak menyinggung perasaan umat lain. Tetapi ketika dibahas dalam forum kecil sesama mereka sendiri,mulai kelihatan lebih jelas sikap aslinya. Di antaranya ada orang yang beragama dan bertuhan disertai sikap marah. Hatinya tidak rela melihat bumi ini dihuni dan dimakmurkan oleh umat yang berbeda keyakinan agama.

Tidak rela melihat orang lain lebih maju dan sejahtera di bumi Tuhan yang dia imani dan dia sembah. Namun karena kenyataannya penduduk bumi ini sangat beragam bahasa, budaya, dan agamanya, dan itu tidak mungkin dihilangkan, maka suasana batin dalam beragama selalu disertai kemarahan. Beragama dan bertuhan dengan marah.Kalau berdoa selalu dipanjatkan, ya Tuhan, hancurkanlah mereka yang kafir, tak ada tempat paling layak bagi mereka kecuali neraka.

Ya Tuhan, mereka itu musuh-musuh kami, juga musuh-Mu, berilah kami kekuatan iman dan keberanian untuk berperang menghadapi mereka. Lebih baik kami mati membela kemuliaan-Mu dan agama-Mu daripada kami hidup terhina tanpa makna.

Membela Tuhan dengan Bom?

Dalam berbagai kesempatan, sering saya mendengarkan ceramah seorang ustaz, bahwa Tuhan itu Mahaagung dan Mahakaya, tidak memerlukan belas kasih dan pertolongan manusia.Kebaikan dan kejahatan yang dilakukan manusia tidak akan mengurangi keagungan dan kebesaran-Nya.

Begitu pun kejahatan yang diperbuat manusia tak akan mengurangi sifat-Nya yang rahmandan rahim. Tuhan menciptakan semua ini dan mengirim rasul-Nya semata karena kasih-Nya pada manusia untuk memakmurkan bumi, menciptakan bayang-bayang surgawi di dunia.Karena itu,asma Tuhan yang selalu dikenalkan dan agar selalu disebut dan diingat oleh manusia adalah Dia Yang Pengasih dan Penyayang.

Siapa pun yang mencintai Tuhan dan berakhlak dengan sifat-sifat ilahi hendaknya menjadi pribadi penyebar damai dan kasih sayang untuk lingkungannya. Pribadi yang berkualitas sifat ilahi itu dalam Alquran sering dimisalkan dengan kata “cahaya” dan “air”.Bagi masyarakat padang pasir tatkala Alquran diturunkan, cahaya dan air benar-benar dirasakan sebagai penerang dan sumber kehidupan paling nyata. Tatkala cahaya datang,kegelapan akan terhalau.

Ketika air datang, maka sekitar menjadi subur.Cahaya dan air sifatnya melimpah dan memberi tanpa diskriminasi dan preferensi. Memberi tanpa minta imbalan kembali. Begitulah Alquran menggambarkan misi ajaran Nabi Muhammad yang disebarkan untuk seluruh manusia. Jadi, sejak awal mula para Rasul itu adalah figur-figur pembangun peradaban dan sangat membenci penindasan. Menindas dan membunuh orang yang tidak dalam posisi menyerang adalah kesalahan dan dosa besar.

Karena itu, sangat bertentangan dengan nalar sehat,dengan hukum negara, dengan nurani masyarakat, dengan ajaran agama, mereka yang meledakkan bom dengan dalih membela Tuhan dan membela agama.Tuhan tidak perlu dibela. Kalau ingin membela Tuhan caranya adalah menyebarkan kasih, mencerdaskan,menyejahterakan, dan menunjukkan jalan kebenaran dengan cara yang benar.

Ketika dulu rakyat Nusantara ditindas oleh penjajah, maka dibenarkan mengangkat senjata melawan mereka. Ketika rakyat Palestina dibantai oleh tentara Israel dan tanahnya direbut, mereka dibenarkan melawan dengan senjata. Begitu pun perlawanan dan keberanian tentara Vietnam sangat mengagumkan ketika melawan tentara Amerika yang ingin menguasai tanah dan rakyat di sana.

Tetapi ketika bom diledakkan di Indonesia,yang merupakan negeri dengan penduduk muslim terbesar, tempat melaksanakan ajaran Islam tak ada halangan suatu apa pun, sungguh itu suatu tindakan kriminal melawan kemanusiaan dan pesan dasar agama. Lebih menyedihkan lagi adalah para korban itu juga penduduk Indonesia yang muslim yang mesti menanggung ekonomi keluarganya. Mesti mencarikan nafkah dan biaya untuk pendidikan anakanaknya.

Orang asing yang jadi korban juga sahabat warga Indonesia. Makanya sangat sulit dan absurd ketika kemarahan itu diberi label sebagai pembelaan terhadap Tuhan dan kemuliaan Islam. Secara psikologis mereka itu pribadi yang hidupnya gelisah, mengalami disorientasi nilai, muatan informasi pada jaringan sarafnya terkena virus doktrin yang menyesatkan, tak ubahnya narkoba yang menghancurkan nalar sehatnya,sehingga tindakannya bisa tak terduga.

Untuk itu pendekatannya tidak cukup hanya dari segi keamanan. Perlu melibatkan sosok-sosok yang dicintai dan disegani, terutama orang tua, istri, dan anak-anaknya. Seperti digambarkan dalam film, salah satu cara efektif untuk menangkap musuh adalah melalui mediator anak atau istri tercinta. Ketika itu ternyata tidak mempan, maka semakin membuktikan bahwa otak para teroris itu memang sudah rusak.

Doktrin utamanya hanyalah menghancurkan siapa pun yang dia anggap musuh.Tuhan yang mereka yakini dan persepsikan adalah Tuhan yang lemah sehingga perlu dibantu dengan paksa siapa yang tidak menyembah-Nya. Tuhan yang mereka yakini bukan Tuhan sumber kasih dan sayang, melainkan Tuhan yang haus darah korban, persis seperti dewa kuno yang selalu minta pengorbanan nyawa manusia.

Mereka itu ingin mengatur-atur Tuhan Mahaagung dan Mahakasih oleh nalar dan nafsunya yang sakit dan sempit karena sudah terkena virus permusuhan pada siapa pun yang berbeda keyakinan. Lebih dari itu para teroris itu juga mengacau dan menghancurkan usaha-usaha kemanusiaan dan intelektual para anak bangsa dan ormas besar yang ada, misalnya Muhammadiyah dan NU, yang tak henti-hentinya memperjuangkan Islam yang ramah, damai dan cerdas untuk memajukan bangsa ini. Namun semua itu jadi berantakan karena sabotase mereka.

Belum lagi hubungan antara Indonesia- Malaysia juga terlukai akibat gembong teroris dari negeri jiran itu. Dilihat dari segi apa pun para teroris itu ternyata hanya menghancurkan usaha-usaha mulia para ulama Indonesia, para diplomat, pengusaha dan pemerintah.(*)

Tulisan ini pernah dimuat di koran Seputar Indonesia, Jumat 7 Agustus 2009

Bertuhan dengan Marah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
DALAM suatu forum dialog antarumat beragama,saya pernah membagi tiga pertanyaan untuk dijawab secara tertulis di awal ceramah saya.

Pertama, apakah Tuhan yang kita imani dan kita sembah itu sama atau berbeda, mengingat kita memeluk agama yang berbeda.Kedua,bumi yang kita tempati dan matahari yang setia memancarkan cahaya itu milik Tuhan agama siapa? Ketiga, mengingat setiap umat beragama meyakini dan mengharapkan nantinya masuk surga, apakah setiap agama memiliki surga dan neraka masing-masing ataukah surga dan neraka itu hanya satu untuk semua manusia?

Setelah jawaban terkumpul, cukup menarik jawaban peserta. Dari sekitar dua ratus peserta yang mayoritasnya beragama Islam, terlihat bahwa mereka menjawab Tuhan mereka tidak sama. Ketika ditanya bumi ini disediakan Tuhan untuk pemeluk agama yang mana, jawaban mulai problematik.Begitu pun ketika diskusi menyangkut surga dan neraka, jawaban juga terbelah.

Ada yang berpandangan, setiap pemeluk agama nantinya akan disediakan surga dan neraka masing-masing, sehingga tidak perlu ancammengancam dengan neraka terhadap umat beragama yang berbeda. Ada pula jawaban yang menyebut surga dan neraka itu satu untuk semuanya,dan mereka yang berbeda keyakinan agama dipandang tersesat dan kafir sehingga ancamannya neraka. Saya membahas problem di atas semata dari analisis psikologi beragama, bukan pembahasan filsafat dan akidah agama.

Karena psikologi, yang saya ingin dengarkan dan pahami adalah bagaimana pandangan dan sikap seseorang memandang orang lain dengan keyakinan yang berbeda. Dengan demikian saya ingin mengenal lebih lanjut mengapa seseorang begitu toleran dan ramah dalam beragama, dan mengapa ada orang yang beragama serta bertuhan dengan mudah marah melihat orang yang berbeda agama. Bahkan mereka itu dianggap dan diposisikan sebagai musuh yang mesti dihancurkan, meskipun tidak saling kenal dan tidak mengganggu dalam kehidupan sosialnya.

Mungkin karena diskusi berlangsung lintas agama, berbagai jawaban terhadap tiga pertanyaan di atas tidak muncul secara bebas dan transparan, agar tidak menyinggung perasaan umat lain. Tetapi ketika dibahas dalam forum kecil sesama mereka sendiri,mulai kelihatan lebih jelas sikap aslinya. Di antaranya ada orang yang beragama dan bertuhan disertai sikap marah. Hatinya tidak rela melihat bumi ini dihuni dan dimakmurkan oleh umat yang berbeda keyakinan agama.

Tidak rela melihat orang lain lebih maju dan sejahtera di bumi Tuhan yang dia imani dan dia sembah. Namun karena kenyataannya penduduk bumi ini sangat beragam bahasa, budaya, dan agamanya, dan itu tidak mungkin dihilangkan, maka suasana batin dalam beragama selalu disertai kemarahan. Beragama dan bertuhan dengan marah.Kalau berdoa selalu dipanjatkan, ya Tuhan, hancurkanlah mereka yang kafir, tak ada tempat paling layak bagi mereka kecuali neraka.

Ya Tuhan, mereka itu musuh-musuh kami, juga musuh-Mu, berilah kami kekuatan iman dan keberanian untuk berperang menghadapi mereka. Lebih baik kami mati membela kemuliaan-Mu dan agama-Mu daripada kami hidup terhina tanpa makna.

Membela Tuhan dengan Bom?

Dalam berbagai kesempatan, sering saya mendengarkan ceramah seorang ustaz, bahwa Tuhan itu Mahaagung dan Mahakaya, tidak memerlukan belas kasih dan pertolongan manusia.Kebaikan dan kejahatan yang dilakukan manusia tidak akan mengurangi keagungan dan kebesaran-Nya.

Begitu pun kejahatan yang diperbuat manusia tak akan mengurangi sifat-Nya yang rahmandan rahim. Tuhan menciptakan semua ini dan mengirim rasul-Nya semata karena kasih-Nya pada manusia untuk memakmurkan bumi, menciptakan bayang-bayang surgawi di dunia.Karena itu,asma Tuhan yang selalu dikenalkan dan agar selalu disebut dan diingat oleh manusia adalah Dia Yang Pengasih dan Penyayang.

Siapa pun yang mencintai Tuhan dan berakhlak dengan sifat-sifat ilahi hendaknya menjadi pribadi penyebar damai dan kasih sayang untuk lingkungannya. Pribadi yang berkualitas sifat ilahi itu dalam Alquran sering dimisalkan dengan kata “cahaya” dan “air”.Bagi masyarakat padang pasir tatkala Alquran diturunkan, cahaya dan air benar-benar dirasakan sebagai penerang dan sumber kehidupan paling nyata. Tatkala cahaya datang,kegelapan akan terhalau.

Ketika air datang, maka sekitar menjadi subur.Cahaya dan air sifatnya melimpah dan memberi tanpa diskriminasi dan preferensi. Memberi tanpa minta imbalan kembali. Begitulah Alquran menggambarkan misi ajaran Nabi Muhammad yang disebarkan untuk seluruh manusia. Jadi, sejak awal mula para Rasul itu adalah figur-figur pembangun peradaban dan sangat membenci penindasan. Menindas dan membunuh orang yang tidak dalam posisi menyerang adalah kesalahan dan dosa besar.

Karena itu, sangat bertentangan dengan nalar sehat,dengan hukum negara, dengan nurani masyarakat, dengan ajaran agama, mereka yang meledakkan bom dengan dalih membela Tuhan dan membela agama.Tuhan tidak perlu dibela. Kalau ingin membela Tuhan caranya adalah menyebarkan kasih, mencerdaskan,menyejahterakan, dan menunjukkan jalan kebenaran dengan cara yang benar.

Ketika dulu rakyat Nusantara ditindas oleh penjajah, maka dibenarkan mengangkat senjata melawan mereka. Ketika rakyat Palestina dibantai oleh tentara Israel dan tanahnya direbut, mereka dibenarkan melawan dengan senjata. Begitu pun perlawanan dan keberanian tentara Vietnam sangat mengagumkan ketika melawan tentara Amerika yang ingin menguasai tanah dan rakyat di sana.

Tetapi ketika bom diledakkan di Indonesia,yang merupakan negeri dengan penduduk muslim terbesar, tempat melaksanakan ajaran Islam tak ada halangan suatu apa pun, sungguh itu suatu tindakan kriminal melawan kemanusiaan dan pesan dasar agama. Lebih menyedihkan lagi adalah para korban itu juga penduduk Indonesia yang muslim yang mesti menanggung ekonomi keluarganya. Mesti mencarikan nafkah dan biaya untuk pendidikan anakanaknya.

Orang asing yang jadi korban juga sahabat warga Indonesia. Makanya sangat sulit dan absurd ketika kemarahan itu diberi label sebagai pembelaan terhadap Tuhan dan kemuliaan Islam. Secara psikologis mereka itu pribadi yang hidupnya gelisah, mengalami disorientasi nilai, muatan informasi pada jaringan sarafnya terkena virus doktrin yang menyesatkan, tak ubahnya narkoba yang menghancurkan nalar sehatnya,sehingga tindakannya bisa tak terduga.

Untuk itu pendekatannya tidak cukup hanya dari segi keamanan. Perlu melibatkan sosok-sosok yang dicintai dan disegani, terutama orang tua, istri, dan anak-anaknya. Seperti digambarkan dalam film, salah satu cara efektif untuk menangkap musuh adalah melalui mediator anak atau istri tercinta. Ketika itu ternyata tidak mempan, maka semakin membuktikan bahwa otak para teroris itu memang sudah rusak.

Doktrin utamanya hanyalah menghancurkan siapa pun yang dia anggap musuh.Tuhan yang mereka yakini dan persepsikan adalah Tuhan yang lemah sehingga perlu dibantu dengan paksa siapa yang tidak menyembah-Nya. Tuhan yang mereka yakini bukan Tuhan sumber kasih dan sayang, melainkan Tuhan yang haus darah korban, persis seperti dewa kuno yang selalu minta pengorbanan nyawa manusia.

Mereka itu ingin mengatur-atur Tuhan Mahaagung dan Mahakasih oleh nalar dan nafsunya yang sakit dan sempit karena sudah terkena virus permusuhan pada siapa pun yang berbeda keyakinan. Lebih dari itu para teroris itu juga mengacau dan menghancurkan usaha-usaha kemanusiaan dan intelektual para anak bangsa dan ormas besar yang ada, misalnya Muhammadiyah dan NU, yang tak henti-hentinya memperjuangkan Islam yang ramah, damai dan cerdas untuk memajukan bangsa ini. Namun semua itu jadi berantakan karena sabotase mereka.

Belum lagi hubungan antara Indonesia- Malaysia juga terlukai akibat gembong teroris dari negeri jiran itu. Dilihat dari segi apa pun para teroris itu ternyata hanya menghancurkan usaha-usaha mulia para ulama Indonesia, para diplomat, pengusaha dan pemerintah.(*)

Tulisan ini pernah dimuat di koran Seputar Indonesia, Jumat 7 Agustus 2009