Berpuasa agar Sehat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Berpuasa Ramadan telah menjadi bagian integral dari agenda tahunan umat Islam sebagaimana kegiatan lain seperti makan, tidur,  dan mandi.

Hanya saja, makan, tidur dan mandi merupakan agenda harian dan nilai serta tujuannya berbeda. Setiap hari kita mandi agar badan segar dan bersih asalkan airnya bersih serta menggunakan sabun dengan benar. Begitu pula berpuasa. Di dalamnya terkandung hikmah untuk menyegarkan dan membersihkan jiwa seseorang selama mengikuti aturan yang benar. Yang pertama, siapkan hati,  tetapkan tekad dan niat untuk melakukan puasa dengan gembira mengingat puasa adalah perintah Allah yang pasti di dalamnya terkandung bingkisan kasih sayang dari-Nya.

Kedua, perhatikan nasihat dokter atau ahli nutrisi, bagaimana pola makan-minum yang sehat selama Ramadan sehingga dengan berpuasa tubuh menjadi lebih sehat. Ketiga, mantapkan niat dan usaha untuk menjalankan berbagai ibadah sunah selama puasa seperti salat tarawih, tadarus baca Alquran, dan amalan sosial lain agar bobot puasanya semakin terasa. Keempat, jadikan Ramadan sebagai bulan kuliah semester pendek untuk mendalami ilmu keislaman, baik dengan mengikuti kuliah televisi yang berbobot atau membaca buku secara terprogram. Dalam ibadah puasa terdapat dimensi metafisik. Ini menyangkut keimanan yang semata menjalani perintah Allah.

Sebagai orang beriman, sikapnya hanyalah mengimani dan menjalani apa yang diperintahkan- Nya. Seberapa besar pahala puasa, kita serahkan saja kepada Allah, yang paling pokok kita melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Namun dalam puasa juga terdapat dimensi-dimensi lain yang bisa diamati dan dianalisis secara ilmiah empiris. Terutama yang menyangkut kesehatan fisik dan mental. Dimensi ini telah banyak dikaji oleh kalangan kedokteran dan psikolog. Sabda Nabi, berpuasalah agar engkau sehat, memperoleh pembenaran dari para ahli kesehatan. Bahkan, banyak dokter yang menggunakan terapi puasa bagi para pasiennya.

Untuk ini, yang memberi ceramah tentang puasa sebaiknya jangan didominasi para ustaz yang memang bukan ahlinya membahas hubungan puasa dengan kesehatan. Begitu pun puasa dan kesehatan jiwa, sebaiknya ada kajian dan ahli khusus yang memberi pencerahan kepada masyarakat agar wawasan kita mengenai puasa semakin kaya. Ini tidak dimaksudkan untuk mengilmiahkan semua perintah ibadah, melainkan berusaha menggali hikmah yang terkandung dalam ibadah. Bukankah Allah menyuruh menggunakan nalar untuk memahami ajaran-Nya? Jadi, kalau kita renungkan, semua perintah ibadah selalu ada pesan yang bersifat metafisik dan pembelajaran yang bersifat psikologis- sosial yang bisa dikaji dengan bantuan ilmu pengetahuan.

Di situ terdapat maksud agar dengan mengikuti ajaran agama, hidup menjadi sehat jasmani, nafsani, rohani. Sehat secara individual maupun sosial. Yang paling mudah diamati, perintah puasa mengajak kita untuk menjaga lisan dan tindakan karena akan merusak kualitas puasa. Efek dari perintah ini adalah menciptakan hubungan sosial yang santun dan saling menghargai sehingga hubungan sosial menjadi sehat, harmonis. Sebagai penutup Ramadan, kita diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Bahkan banyak kalangan yang juga mengeluarkan zakat tahunan.

Ini menunjukkan bahwa pesan ibadah yang bersifat vertikal mesti membuahkan perbaikan horizontal sehingga efek ibadah menyehatkan kondisi sosial masyarakat. Namun, disayangkan, ada kecenderungan aktivitas ibadah berhenti pada niat dan keinginan mengumpulkan pahala semata. Pesan sosial Ramadan berhenti dan terkurung di ruang masjid, tidak menjangkau ranah masyarakat sehingga ajaran Islam enak dan logis didengar ketika diceramahkan, tetapi miskin implementasinya.

Sekarang ini yang sakit serius bukannya pada tataran pribadi, tetapi masyarakat. Akibat korupsi dan tiadanya pemerataan hasil kekayaan negara, terjadi stroke sosial. Ada bagian-bagian organ tubuh masyarakat dan bangsa yang tidak mendapat aliran darah dan oksigen pembangunan secara memadai sehingga mengalami kelumpuhan. Satu area dan strata sosial tertentu menikmati kekayaan berlebih, sementara organ dan area masyarakat yang lain mengalami defisit. Jangankan untuk biaya pendidikan, sekadar untuk makan, minum, dan berteduh saja susah.

Saya bayangkan, kalau pemerintah jeli dan tangkas menjaga dan meneruskan nilai serta rekomendasi puasa untuk hidup bersih dan senang berbagi, pasti budaya agama akan menjadi kekuatan pembangunan bangsa dan negara. Betapapun mulia dan rasionalnya ajaran puasa, jika negara tidak membantu implementasinya untuk hidup bersih, bebas dari korupsi, maka agama menjadi kurang fungsional sebagai penebar rahmat bagi semesta.(*)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Seputar Indonesia, Jumat, 13 Agustus 2010
Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Berpuasa agar Sehat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Berpuasa Ramadan telah menjadi bagian integral dari agenda tahunan umat Islam sebagaimana kegiatan lain seperti makan, tidur,  dan mandi.

Hanya saja, makan, tidur dan mandi merupakan agenda harian dan nilai serta tujuannya berbeda. Setiap hari kita mandi agar badan segar dan bersih asalkan airnya bersih serta menggunakan sabun dengan benar. Begitu pula berpuasa. Di dalamnya terkandung hikmah untuk menyegarkan dan membersihkan jiwa seseorang selama mengikuti aturan yang benar. Yang pertama, siapkan hati,  tetapkan tekad dan niat untuk melakukan puasa dengan gembira mengingat puasa adalah perintah Allah yang pasti di dalamnya terkandung bingkisan kasih sayang dari-Nya.

Kedua, perhatikan nasihat dokter atau ahli nutrisi, bagaimana pola makan-minum yang sehat selama Ramadan sehingga dengan berpuasa tubuh menjadi lebih sehat. Ketiga, mantapkan niat dan usaha untuk menjalankan berbagai ibadah sunah selama puasa seperti salat tarawih, tadarus baca Alquran, dan amalan sosial lain agar bobot puasanya semakin terasa. Keempat, jadikan Ramadan sebagai bulan kuliah semester pendek untuk mendalami ilmu keislaman, baik dengan mengikuti kuliah televisi yang berbobot atau membaca buku secara terprogram. Dalam ibadah puasa terdapat dimensi metafisik. Ini menyangkut keimanan yang semata menjalani perintah Allah.

Sebagai orang beriman, sikapnya hanyalah mengimani dan menjalani apa yang diperintahkan- Nya. Seberapa besar pahala puasa, kita serahkan saja kepada Allah, yang paling pokok kita melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Namun dalam puasa juga terdapat dimensi-dimensi lain yang bisa diamati dan dianalisis secara ilmiah empiris. Terutama yang menyangkut kesehatan fisik dan mental. Dimensi ini telah banyak dikaji oleh kalangan kedokteran dan psikolog. Sabda Nabi, berpuasalah agar engkau sehat, memperoleh pembenaran dari para ahli kesehatan. Bahkan, banyak dokter yang menggunakan terapi puasa bagi para pasiennya.

Untuk ini, yang memberi ceramah tentang puasa sebaiknya jangan didominasi para ustaz yang memang bukan ahlinya membahas hubungan puasa dengan kesehatan. Begitu pun puasa dan kesehatan jiwa, sebaiknya ada kajian dan ahli khusus yang memberi pencerahan kepada masyarakat agar wawasan kita mengenai puasa semakin kaya. Ini tidak dimaksudkan untuk mengilmiahkan semua perintah ibadah, melainkan berusaha menggali hikmah yang terkandung dalam ibadah. Bukankah Allah menyuruh menggunakan nalar untuk memahami ajaran-Nya? Jadi, kalau kita renungkan, semua perintah ibadah selalu ada pesan yang bersifat metafisik dan pembelajaran yang bersifat psikologis- sosial yang bisa dikaji dengan bantuan ilmu pengetahuan.

Di situ terdapat maksud agar dengan mengikuti ajaran agama, hidup menjadi sehat jasmani, nafsani, rohani. Sehat secara individual maupun sosial. Yang paling mudah diamati, perintah puasa mengajak kita untuk menjaga lisan dan tindakan karena akan merusak kualitas puasa. Efek dari perintah ini adalah menciptakan hubungan sosial yang santun dan saling menghargai sehingga hubungan sosial menjadi sehat, harmonis. Sebagai penutup Ramadan, kita diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Bahkan banyak kalangan yang juga mengeluarkan zakat tahunan.

Ini menunjukkan bahwa pesan ibadah yang bersifat vertikal mesti membuahkan perbaikan horizontal sehingga efek ibadah menyehatkan kondisi sosial masyarakat. Namun, disayangkan, ada kecenderungan aktivitas ibadah berhenti pada niat dan keinginan mengumpulkan pahala semata. Pesan sosial Ramadan berhenti dan terkurung di ruang masjid, tidak menjangkau ranah masyarakat sehingga ajaran Islam enak dan logis didengar ketika diceramahkan, tetapi miskin implementasinya.

Sekarang ini yang sakit serius bukannya pada tataran pribadi, tetapi masyarakat. Akibat korupsi dan tiadanya pemerataan hasil kekayaan negara, terjadi stroke sosial. Ada bagian-bagian organ tubuh masyarakat dan bangsa yang tidak mendapat aliran darah dan oksigen pembangunan secara memadai sehingga mengalami kelumpuhan. Satu area dan strata sosial tertentu menikmati kekayaan berlebih, sementara organ dan area masyarakat yang lain mengalami defisit. Jangankan untuk biaya pendidikan, sekadar untuk makan, minum, dan berteduh saja susah.

Saya bayangkan, kalau pemerintah jeli dan tangkas menjaga dan meneruskan nilai serta rekomendasi puasa untuk hidup bersih dan senang berbagi, pasti budaya agama akan menjadi kekuatan pembangunan bangsa dan negara. Betapapun mulia dan rasionalnya ajaran puasa, jika negara tidak membantu implementasinya untuk hidup bersih, bebas dari korupsi, maka agama menjadi kurang fungsional sebagai penebar rahmat bagi semesta.(*)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Seputar Indonesia, Jumat, 13 Agustus 2010
Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta