Berkunjung ke Komunitas Virtual

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

KOMUNITAS virtual adalah sebuah masyarakat baru yang sesekali menarik untuk dikunjungi. Kata komunitas mengindikasikan hubungan sosial yang dekat, diikat oleh kesamaan emosi, kepentingan, dan tempat tinggal.

Adapun virtual berarti sebuah dunia idea, sebuah kehidupan tanpa kehadiran fisik. Jadi kata “komunitas virtual” memang mengandung paradoks. Tetapi begitulah yang terjadi, komunitas virtual ini terbentuk dengan lahirnya teknologi internet. Orang dengan mudah berkomunikasi saling tukar idea, gagasan, foto maupun perasaan, tapi secara fisik mereka tidak hadir. Di samping melalui Facebook, saya mencoba berkunjung dan bergaul dengan warga komunitas virtual melalui jejaring Twitter,terutama di saat jalanan macet. Ketika lelah membaca buku atau mendengarkan siaran radio didalam mobil, Twitter merupakan teman sekaligus sarana berkomunikasi dengan sesama warga komunitas virtual.

Dengan mudah dan cepat kita bisa saling sapa dan bertukar gagasan dari yang bersifat canda, curhat,sampai topik-topik aktual yang serius. Berkomunikasi lewat Twitter tidak mengenal waktu dan tempat. Kapan saja dapat dilakukan. Menariknya, kita juga dengan mudah bergaul dengan warga komunitas virtual yang tinggal di seantero penjuru dunia. Beberapa pejabat tinggi pemerintah pun ada yang aktif memanfaatkan Twitter. Pejabat yang paling rajin mungkin Tifatul Sembiring, yang aktif sejak20 Oktober2009, dengan jumlah follower sekarang ini di atas 90.000.

Saking rajinnya tweeting, sampai-sampai ada pertanyaan, ini bagian dari tugas menteri atau ketua partai,atau pergaulan sosial? Tak ketinggalan pula Anas Urbaningrum. Dia mulai sejak 8 Mei 2009 dan sekarang follower-nya tidak kurang dari 27.000. Kelihatannya Anas sadar sekali manfaat Twitter untuk komunikasi politik dengan massa pendukungnya. Ada lagi Budiman Sudjatmiko yang ber-Twitter ria sejak 26 Agustus 2010 dengan follower mendekati 5.000.

Memanfaatkan Kultwit

Umumnya Twitter digunakan untuk sekadar komunikasi ringan, curhat,bercanda, dan saling bertegur sapa.Namun ada juga beberapa warga komunitas virtual yang memanfaatkannya untuk berbagi pengetahuan. Di antaranya Goenawan Mohamad (@gm_gm) yang rajin memberikan kultwit (kuliah di Twitter) dengan materi-materi kebudayaan dan filsafat secara berkesinambungan. Dimulai pada 6 Desember 2009 follower-nya tidak kurang dari 32.000.

Yang juga jeli memanfaatkan teknologi ini adalah Najwa Shihab untuk mempromosikan acara Mata Najwa di Metro TV. Follower-nya lebih dari 100.000, mulai menjadi anggota Twitter sejak 23 Oktober 2008. Quraish Shihab memanfaatkan Twitter untuk melayani konsultasi keagamaan. Jumlah follower-nya mendekati 60.000, dimulai 15 Januari 2010. Demikianlah, untuk sebagian orang Twitter ini sangat membantu dan sangat praktis sebagai media silaturahmi dan diskusi tentang tema apa saja. Hanya saja mesti dicatat karena ini forum publik,semua warga kampung Twitter mesti menjaga etika. Siapa pun yang bergabung di situ mesti siap-siap menerima kritik.

Yang senang melontarkan gagasan nakal dan kadang provokatif adalah Ulil Abshar Abdalla, lebih dari 27.000 follower, dan Luthfi Assyaukani serta teman-teman dari komunitas JIL (Jaringan Islam Liberal). Dari segi jumlah mereka itu sedikit, tapi mereka sejak awal sangat sadar dan cerdas bagaimana memanfaatkan internet untuk menyebarkan gagasan-gagasannya yang membuat gerah sebagian orang. FPI menjadi salah satu sasaran kritik Ulil dan kawan-kawan melalui Twitter. Ada pula sekelompok warga komunitas virtual yang posisinya selalu berhadapan dengan teman-teman JIL. Bagi saya pribadi, mengikuti alur logika antarpihak yang terlibat dialog kritis sangat menarik disimak.

Ada pula aktivis Ahmadiyah yang gigih dan produktif melakukan pembelaan atas hujatan yang dialamatkan kepadanya. Hal yang pantas diapresiasi, warga komunitas virtual sangat independen dan demokratis. Kapan saja orang boleh bergabung ataupun berhenti. Kalau merasa senang dan cocok tinggal klik follow, kalau tidak senang tinggal klik unfollow. Berbagi idea di twitter juga dipaksa untuk hemat kata sarat makna, mengingat setiap lemparan gagasan dibatasi sebanyak 140 karakter. Ini melatih seseorang untuk belajar membuat kalimat yang padat dan bermakna.

Demikianlah, dengan Twitter kerja mulut dilimpahkan ke jarijari, dan kerja telinga dibantu oleh mata. Apakah semua itu positif atau negatif, terserah kita sebagai subjeknya. Ingin tahu akun saya? @komar_hidayat.(*)