Berhalakan (Simbol) Agama?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Tiada agama tanpa simbol-simbol. Sungguh tidak mudah menjelaskan simbolisme agama terhadap anak-anak. Namun sesungguhnya pada orang dewasa pun hampir sama saja halnya.

Orang nonmuslim Barat sering melontarkan anggapan, orang Islam itu ibadahnya menyembah Kakbah. Tak ubahnya menyembah berhala dari batu. Anggapan dan pertanyaan serupa bisa juga dialamatkan pada pemeluk agama lain. Benarkah umat Nasrani menyembah patung Bunda Maria dan Yesus? Benarkah umat Buddha menyembah patung Sidharta Gautama? Benarkah umat Hindu menyembah patung Ganesha?

Cara paling bijak, tanyakan saja langsung kepada umat beragama yang bersangkutan. Jangan menduga-duga, lalu hasil dugaan dan tafsiran itu dilekatkan kepada orang lain. Ini namanya labelisasi, satu bentuk kekerasan dalam wacana keagamaan. Objek yang menjadi sesembahan agama bersifat metafisik, transendental, tidak kasatmata, absolut, gaib, yang kemudian disebut Tuhan.

Namun kalau dikejar lebih lanjut lagi, apa dan siapa yang dimaksud dengan kata ”Tuhan”, maka diskusinya tidak pernah berakhir dari masa ke masa. Banyak kitab suci menjelaskan siapa Tuhan dan ribuan judul buku telah ditulis untuk membahas kata dan konsep Tuhan, baik berdasarkan kitab suci maupun analisis filsafat. Tiap agama memiliki konsep, doktrin, tradisi, dan tatacara beribadah bagaimana menyembah Tuhan.

Makanya setiap agama memiliki konsep tempat suci dan hari suci untuk melakukan ibadah.Tapi, lagi-lagi, kalau tiap konsep itu diperdebatkan, pasti tidak akan pernah selesai dan mungkin hanya akan menyakiti pihak lain. Ajaran dan praktik agama tidak untuk diperdebatkan, tetapi dipahami, dihayati, dan diamalkan. Kalau berbagi pengetahuan dan pengalaman antarumat beragama, itu bagus-bagus saja.

Dalam Alquran juga dianjurkan untuk berdialog dengan bijak dan baik, jangan main paksa. Adapun soal iman, Allah yang akan menimbang di akhirat nanti. Kembali pada soal simbol. Ada perbedaan antara simbol, tanda, dan ikon. Kalau perut lapar, maka melihat gambar sendok-garpu berarti tidak jauh lagi akan ada restoran. Tanda semacam ini ada yang menyebutnya indeks.

Patung Yesus dan Bunda Maria, itu masuk kategori ikon. Adapun ”salib” lebih bersifat simbolik, bukan indeks, bukan pula ikon. Islam melarang keras penggunaan ikon atau patung dalam peribadatan. Makanya di dalam masjid tidak akan ditemukan patung. Ini berbeda dari gereja, kuil atau kelenteng yang membolehkan ikon dalam upacara ritualnya. Tapi pertanyaannya, apakah mereka menyembah ikon atau patung? Tanyakan saja langsung kepada mereka.

Adapun simbol memiliki konsep dan makna yang lebih kompleks dan filosofis. Keterkaitan antara ”simbol” dan ”subjek atau objek” yang hendak dihadirkan dihubungkan dengan makna yang dibangun dan disepakati oleh sebuah komunitas, yang tidak mudah dimengerti oleh komunitas lain. Jadi, karakter simbol beda dari ikon atau indeks yang langsung bisa dipahami oleh siapa pun, yang hampir-hampir tidak menimbulkan perbedaan penafsiran.

Kecuali ketika ke luar negeri, misalnya ke Jepang, tiba-tiba saya merasa buta huruf, tidak memahami tanda-tanda dalam huruf Kanji. Simbol yang paling dalam maknanya dan sekaligus paling sensitif dibahas adalah menyangkut eksistensi Tuhan yang berkaitan dengan format peribadatan. Ketika orang Islam berebut mendekati dan mencium Kakbah, bagaimana memahaminya? Bahkan ketika saling adu tenaga untuk mencium ”hajar aswad”, keutamaan apa sesungguhnya yang hendak dicari?

Jawabannya sangat sensitif terhadap pertanyaan ini. Adapun tentang Tuhan, di dalam Islam yang lebih populer bukannya simbol, tetapi ”nama-nama” dan ”ayat-ayat” atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Ibarat hubungan dalam keluarga, kita memerlukan nama sebagai panggilan dan identifikasi. Kita mencintai seseorang karena sifat atau kepribadiannya, bukan mencintai namanya, sekalipun ada korelasi antara nama dan pemilik nama.

Kita mencintai dan menyembah dzat Allah, bukan nama Allah yang terdiri dari lima huruf itu. Bahkan sebanyak 99 nama Tuhan sangat populer dan dihapal. Apakah ketika menyebut nama-nama Allah itu hati dan pikiran kita juga paham dan terhubung dengan-Nya? Jadi, dalam beragama banyak sekali simbol dan tanda-tanda.

Kita tidak menyembah simbol, tetapi melalui simbol, tanda, dan nama, kita ingin memahami dan mendekati Tuhan yang melampaui ketiganya. Subhanallah. Maha Suci Allah dari berbagai dugaan, rekaan, dan tafsiran kita yang lemah ini.