”Berdamai dengan Diriku, Damailah Duniaku”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

SECARA umum disebutkan, manusia memiliki dua garis komunikasi, vertikal dan horizontal, atau habl min Allah dan habl min al-naas, yaitu komunikasi dengan Tuhan dan komunikasi dengan manusia.

Ini adalah bentuk komunikasi eksternal antara manusia dengan yang ada di luar dirinya. Namun ada satu garis komunikasi yang sering kali luput dari perhatian kita, yaitu habl min al-nafs, komunikasi dengan diri sendiri, jiwa kita sendiri. Dalam istilah tasawuf, model komunikasi internal ini disebut muhasabah, yaitu berkomunikasi dengan diri sendiri dalam rangka introspeksi untuk menjadi seorang pribadi yang memiliki kualitas lebih baik. Membangun komunikasi eksternal tidak mudah. Banyak hambatan dan tantangannya.

Dengan Tuhan misalnya, meskipun sebagai pemeluk agama kita tahu itu adalah kewajiban, tetap saja tidak selalu mulus karena kalaupun kita menjalankannya sering kali kita terjebak pada melaksanakannya sebagai rutinitas daripada sebagai bentuk ketundukan kepada Tuhan. Dengan manusia pun tidak berbeda. Tidak sedikit komunikasi dengan sesama hanya menorehkan noda, luka,dan petaka. Jika berkomunikasi dengan sesuatu di luar diri sendiri saja sulit,apalagi dengan diri sendiri. Berkomunikasi dengan diri sendiri tingkat kesulitannya bisa jadi sama dengan sulitnya melihat tengkuk sendiri; dia begitu dekat, tapi begitu jauh untuk dilihat dan ditelisik.

Area untuk melakukan objektivikasi kepada objek komunikasi, yaitu diri sendiri, menjadi sangat sempit. Karenanya bukan hal yang aneh kalau ketika terjadi gejolak dalam diri sendiri, ada kecenderungan untuk lebih melemparkan kesalahan kepada orang lain daripada mengembalikannya kepada diri sendiri. Makanya ada pepatah mengatakan, bila ingin tahu tentang pribadi seseorang yang sesungguhnya, tanyakanlah kepada kawannya. Ini menunjukkan betapa pesimistisnya melihat kemampuan seseorang untuk mendeskripsikan dirinya sendiri secara objektif dan gamblang.

Mengenali diri sendiri sangat penting sebagai landasan untuk membangun komunikasi dengan manusia dan Tuhan. Salah satu bentuk mengenali diri sendiri adalah mengenali apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan. Bila sudah mampu melakukan itu, akan lebih mudah menata diri dan kalau perlu menghiasinya.Ibarat rumah, sebelum menata isinya dan menaruh pernik-pernik di sana-sini, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali kelebihan dan kekurangan serta keterbatasan tata ruang atau desain interiornya. Jangan sampai membeli kursi ukuran jumbo dan berbentuk huruf L, padahal ruang tamu yang tersedia adalah ukuran kecil dan berbentuk bundar.

Batas dan ”kekurangan” rumah itu adalah ruangan tamunya yang sempit sehingga jangan sampai dipaksakan untuk diisi dengan barang berukuran jumbo. Bisa saja masuk, tapi tidak lagi serasi dan nyaman dilihat dan ditempati. Padahal, ruang sempit dan kecil juga akan tetap nyaman dan indah bila ditata sesuai dengan kondisi yang ada. Dengan mengenali dan menerima keterbatasan ruang yang kita punya, tidak perlu ada pikiran, ucapan, dan sikap yang menuduh bahwa si pembuat kursi jumbolah yang tidak tahu diri, salah, atau bodoh karena membuat ruangan rumah menjadi sumpek dan tidak nyaman.

Bila tuduhan itu dilontarkan, saat satu jarinya menunjuk kebodohan orang lain, tanpa disadarinya keempat jari yang lain menunjuk dirinya sendiri. Halakan ’imru’ lam ya’rif qadrah, hancurlah seseorang yang tidak mengenali kadar dirinya. Mengenali dan menerima kelebihan tentu lebih mudah daripada mengenali dan menerima kekurangan meskipun mengenali kelebihan diri sendiri pun bisa membuat seseorang lupa pada kekurangannya. Dalam konteks sosial, mengenali dan menerima diri penting bila kita ingin menjadi pribadi yang sehat dalam bergaul dan berkomunikasi dengan sekitarnya, baik dengan pasangan, keluarga, teman maupun masyarakat secara umum. Salah satu penyakit dalam pergaulan adalah cemburu, iri, dengki atau hasad.

Sifat ini sangat tercela. ’Iyyaakum wa al hasad fa ’inna al hasad ya’kul al hasanaat, kama ta’kul al naar al hathab, artinya jauhilah sifat iri dengki karena sifat ini akan menghilangkan kebaikan sebagaimana api meluluhlantakkan kayu bakar. Orang iri itu tidak bahagia melihat kelebihan, kebahagiaan, dan nikmat yang diterima orang lain. Apa yang dimiliki orang lain seakan memiliki hubungan sebab akibat dengan apa yang dimiliki dan tidak dimilikinya. Bila orang lain punya rumah mewah, seakanakan kemampuan orang lain memiliki rumah itu berkaitan dengan ketidakmampuan dirinya untuk punya rumah.

Padahal sesungguhnya tidak ada. Yang terjadi adalah, dia tidak mau mengenali dan menerima ketidakmampuan dia untuk memiliki rumah seperti orang lain dan itu diproyeksikan dalam ketidakmampuan dia menerima kelebihan orang lain. Iri dan dengki itu sesungguhnya adalah bentuk sikap minder karena dia tidak percaya diri dengan apa yang dimilikinya. Demikian juga dengan sikap menghina dan merendahkan orang lain. Bila diamati, sikap ini adalah cermin pribadi yang gagal mengenali dan menerima kekurangan diri. Maka, untuk membuat dirinya pintar, dia harus membodoh-bodohkan orang lain, untuk membuat dirinya hebat harus mengecilkan orang lain, untuk membuat dirinya tinggi, dia harus merendahkan orang lain.

Padahal, kalau memang dia percaya diri dengan kelebihan dirinya, tanpa mengerdilkan, menghina, dan merendahkan orang lain pun dia akan tetap hebat, terhormat, dan tinggi. Mengenali diri sendiri adalah bentuk paling nyata kita mencintai diri sendiri atau self-love yang berbeda dengan selfish atau egois. Mencintai diri sendiri (self-love) adalah sikap peduli dengan selukbeluk diri sendiri dan menjaga tatanannya agar sehat dan kuat. Ini penting karena sikap dan perilaku yang sehat, penuh cinta kasih hanya akan lahir dari mereka yang memiliki kepribadian sehat dan memiliki cinta untuk dirinya.

Karenanya, bila ingin menebar sikap cinta kasih, damai kepada sesama, maka tugas pertama adalah cintailah dulu diri sendiri dengan cara menatanya dan berdamailah dengan segala kekurangannya.(*)