Berburu Buka Puasa di Masjid Fathullah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Menjelang pukul lima sore takmir Masjid Fathullah UIN Jakarta telah sibuk mengumpulkan sejumlah nasi kotak ke ruang panitia di dalam masjid. Di dalam nasi kotak, menu berbuka siap disantap.

Suasana masjid semakin ramai. Jamaah mulai banyak berdatangan. Rak penitipan sepatu kian lama penuh dengan sepatu dan sandal. Tempat wudlu, sama saja, sudah ada antrean. Padahal, waktu Maghrib masih sejam lagi.

Di serambi masjid, jamaah duduk-duduk sembari berbincang. Ada yang  rebahan dengan berbantal tas, bersandar di dinding, membaca buku dan ada juga yang membaca al-Qur’an, dominasi yang hadir di masjid mahasiswa UIN Jakarta yang tinggal di sekitar Masjid Fathullah. “Di sini memang selalu ramai pas puasa,” kata Agus, salah seorang mahasiswa yang sering berkunjung untuk berbuka puasa. “Di sini makanannya lumayan enak, cuma kita harus hadir satu jam sebelum berbuka puasa, karena jika tidak, maka tak dapat kupon untuk ditukar dengan nasi boks, yang biasa dibagikan setelah shalat Maghrib,” katanya.

Agus adalah pengunjung mahasiswa masjid Fathullah yang kuliah di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Dia mengaku sering ke Masjid Fathullah untuk ikut buka puasa. “Kecuali kalau ngajar private, saya tidak ke sini,” ungkapnya.

Suara tadarus menggema dari dalam masjid melalui pengeras suara. Sayup-sayup juga terdengar suara orang banyak mengikuti tadarus. Menurut Abdul Wahid As, Panitia Bidang Operasional Harian Masjid, sebelum berbuka memang ada tadarus. “Jamaah bisa menyimak atau ikut mambaca,” terang Abdul.

Waktu berbuka hampir tiba. Takmir masjid dengan segera memberikan ta’jil berupa air mineral satu gelas beserta kurma tiga biji sebagai pembuka untuk membatalkan puasa dan menghilangkan rasa haus, setelah seharani penuh tanpa makan dan minum.

Tidak ada yang berebutan. Semua duduk di tempatnya masing-masing. Hanya takmir  yang terlihat wira-wiri. Jamaah tetap bisa menyimak tadarusan yang masih menggema.

Waktu berbuka tinggal beberapa menit lagi, tadarusan pun dihentikan. “Jamaah diminta berdoa bersama-sama yang dipandu langsung oleh pengeras suara untuk membaca doa berbuka puasa. Tak lama berselang buka puasa sudah saatnya, jamaah pun dengan lahap memakan kurma beserta air mineral yang telah dibagikan Takmir, bahkan jika mereka ada yang kurang bisa mengambil kembali, karena masih ada sisa di tempat kardus yang biasa digeletakkan di tengah-tengah jamaah.

Setelah para jamaah membatalkan puasanya, mereka ada yang langsung berwudlu, menunggu adzan selesai dan ada yang masih makan cemilan yang dibawa jamaah, seperti halnya gorengan, yang mungkin kesukaannya agar cepat-cepat kenyang, sebelum menunggu nasi box dibagikan.

Tak lama berselang jamaah pun melakukan sembahyang magrib, lima menit telah berlalu, jamaah pun dengan sigap segera keluar shaf, untuk menukar kupon dengan nasi yang telah disiapkan Takmir di setiap lorong pintu. Saat menukarkan kupon jamaah biasanya sampai ngantri menunggu kebagian nasi, setelah mereka mendapatkan nasi jamaah pun langsung menyantapnya bersama-sama di serambi masjid, tapi ada juga sebagian jamaah yang langsung dibawa ke rumahnya.

Menurut Abdul, Takmir menyediakan maksimal 700 nasi bok atau nasi bungkus setiap harinya untuk buka puasa jamaah. “Setiap harinya Masjid Fathullah selalu menggelar ta’jil dan ifthar yang biasanya menyediakan 300 hingga 700 bungkus ta’jil berupa kurma, air mineral dan nasi bungkus, selama 20 hari pertama pada bulan suci Ramadhan. Kadang ada hari istimewa saat berbuka puasa berupa nasi kotak berikut buah untuk cuci mulut jelang pertengahan puasa,” katanya.

Pelaksanaan kegiatan buka bersama dan ta’jil seperti ini, sasarannya, kaum muslimin yang kurang mampu, para siswa dan mahasiswa sekitar Masjid Fathullah, musafir dan kaum dhuafa, yang diperkirakan setiap harinya pesertanya mencapai 700 orang. “Kalau masih ada sisa nasi, biasanya panitia langsung mencari para jamaah keluar area masjid, seperti di depan jalanan, untuk memberikan nasi berikut lauk pauknya untuk diberikan kepada musafir, anak jalanan atau pemulung yang belum membatalkan puasanya,” kilahnya.

Sungguh nikmat sajian berbuka di Masjid Fathullah UIN Jakarta, sebelum membatalkan puasa, jamaah sudah dijamu dengan tadarusan dengan suara merdu dan tartil, yang biasanya tadarusan sampai satu juz setiap sorenya.

Kegiatan lain yang dilaksanakan Masjid Fathullah yaitu shalat tarawih berjamaah dan kultum yang penceramahnya melibatkan guru besar UIN Jakarta selama bulan suci Ramadhan. Namun Ramadhan kali ini, menurut Abdul, rencananya akan mendatangkan mantan Ketua MPR RI Dr Hidayat Nur Wahid dan Aam Aminudin untuk ceramah yang disiarkan langsung TV One. Acara tersebut dimulai pada 9 Agustus saat kultum Subuh dan menjelang buka puasa.

Shalat Maghrib sudah berlalu dan suasana area masjid lengang tak lama berselang hingga saatnya memasuki shalat Isya berjamaah, Masjid Fathullah kedatangan jamaah kembali, mereka akan melaksanakan shalat Isya dan Tarawih berjamaah serta disisipi dengan kultum.

Setelah melaksanakan shalat Isya, jamaah dijamu dengan kultum, yang penceramahnya guru besar UIN Jakarta, dosen dan kyai yang mempuyai kompeten dibidang ceramah. “Sebelum melaksanakan shalat sunat Tarawih, para jamaah setiap malam selalu dijamu ceramah kurang lebih 20 menit, selama tiga puluh hari selama Ramadhan, setelah kultum kemudian dilanjutkan dengan shalat Tarawih,” katanya.

Saat shalat Tarawih di Masjid Fathullah biasanya dilakukan dua tahapan, pertama jamaah shalat tarawih sebanyak delapan rakaat. Setelah selesai, kemudian bagi jamaah yang ingin melanjutkan jumlah rakaat tarawih agar 23 rakaat berikut witir, dihimbau mundur keluar shaf, dikarenakana ada jamaah yang sedang shalat witir.

Selesai shalat Witir  jamaah pun sebagian ada yang masih duduk-duduk, sebagian besar pulang ke rumah. Namun bagi jamaah yang ingin melanjutkan jumlah rakaat Tarawih memasuki shaf untuk melanjutkan kembali shalat Tarawih. “Biasanya saat sesi kedua shalat Tarawih yang jumlahnya hingga 23 rakaat ini, jamaah yang ikut paling satu baris hingga dua baris saja,” tuturnya.

Di samping itu, Masjid Fathullah pun, menggelar pesantren anak-anak dan remaja, pesertanya berasal sekitar Masjid Fathullah Ciputat dan Pamulang.

“Pesantren anak-anak dibawah umur tujuh tahun baru beberapa hari dilaksanakan selama tiga hari jelang Ramadhan kemarin hingga dua hari bulan suci Ramadhan, pesertanya mencapai 50 orang, sedang untuk pesantren remaja akan menyusul, peserta pesantren ini biasa dibina tenaga-tenaga yang berkompeten dan diisi para pakar yang ahli di bidangnya ,” kilahnya.

Peserta santri cilik ini biasa melakukan belajar mengajar di lantai dua yang telah disediakan panitia berikut peralatannya, jika mereka saatnya belajar, suasana gaduh sekali di area masjid, dikarenakan banyaknya santri cilik yang belajar, bermain sama temannya dan main lompat-lompatan.

Untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Masjid Fathullah pun menggelar dialog Ramadhan dan obrolan sekitar puasa (Obras) hal ini dimaksudkan guna meningkatkan pemahaman jamaah mengenai masalah aktual yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan jamaah.

Kegiatan kultum ini biasa dilaksanakan sebelum shalat lima waktu, adapun penceramahnya masih melibatkan dosen, guru besar UIN Jakarta, dan kadang mendatangkan kyai dari luar Ciputat, agar terasa beda.Para jamaah biasanya jika saatnya sesi tanya jawab, banyak yang melontarkan pertanyaan, namun kebanyakan yang bertanya para orang tua yang sudah sepuh yang muda-muda jarang, bahkan pertanyaannya orang tua cukup berbobot, membuat para jamaah lainnya, terhipnotis atas pertanyaannya para orang tua.

Kegiatan amaliah Ramadhan lainnya, yang biasa dilaksanakan masjid Fathullah yaitu malam Nuzulul Quran, menurut rencana, kata Abdul, akan diisi tausiahnya Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat.

Kegiatan amaliah Ramadhan selanjutnya, i’tikaf atau berdiam diri di masjiid yang biasa dilaksanakan sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan yang dilanjutkan dengan sahur berjamaah yang makanannya telah disiapkan panitia.

Untuk melancarkan program ini, menurut Abdul biasanya menghabiskan dana hingga Rp 600 juta selama bulan suci Ramadhan. Adapun biaya sebesar itu semuanya berasal dari para pendonor, sehingga pihak panitia dalam setiap kegiatannya selalu memaksimalkan dana tersebut agar terpenuhi hingga bulan Ramadhan berakhir.

Adapun biaya atau pendonor buka bersama serta untuk program lainnya menurut mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) ini, diantaranya berasal dari pengajuan proposal ke beberapa pengusaha maupun pejabat yang diantaranya pejabat UIN Jakarta, warga komplek UIN, Lembaga Pendidikan Kharisma Bangsa dan Ghulam Chair Turki serta pengusaha  Arifin Panigoro yang telah menjadi langganan setiap tahun sebagai pendonor. (Hamzah Farihin)