Berbagi Sehat dengan Warga

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

BERBAGI dan berbagi. Itulah yang dilakukan mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Jakarta dalam memperingati hari perawat se-dunia pada 12 Mei kemarin yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Keperawatan se-Indonesia.

Udara pagi di ibu kota hari itu cukup bersahabat. Panas tidak, hujan pun tidak. Meski malam hari sempat hujan, untung paginya hanya terlihat sedikit genangan air yang membekas. Namun di balik itu ada sebagian mahasiswa yang justru bersiap-siap untuk membantu warga. Meski jam 09.00, kesibukan mulai mereka lakukan sesuai tugasnya masing-masing.

“Tolong, ibu dan bapak mengantre dengan tertib. Nanti maju satu persatu untuk periksa tekanan darah dan gula darah,” kata Zakki Husni M, salah seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan, menceritakan kesibukan yang terjadi di posko Stasiun KA Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Kegiatan mereka antara lain dalam bentuk pemeriksaan tekanan darah, gula darah, pemberian makanan, bunga, dan pembagian majalah tentang kesehatan. Untuk mahasiswa UIN Jakarta, sedikitnya diikuti sekitar 20 mahasiswa Ilmu Keperawatan FKIK.

Kegiatan itu tersebar di seluruh Indonesia, bergantung berdomisili mahasiswa. Di Jakarta dilaksanakan oleh mahasiswa UIN Jakarta, UI, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan organisasi-organisasi keperawatan se-Jakarta berkerjasama dengan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (Ilmiki) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Mereka disebar di hampir seluruh wilayah DKI Jakarta, seperti di Stasiun Pasar Senen, kawasan Monas, Blok M dan Jakarta Kota.

Tanpa mempersalahkan tempat di mana mereka mengabdi, dengan sabarnya mereka membantu warga yang ingin memeriksa tekanan darah dan gula darah. Tak sedikit di antara warga juga mengeluhkan kurangnya kinerja perawat rumah sakit selama ini. “Beragam pelayanan yang diberikan oleh perawat dalam membantu orang lain, pastinya ada yang baik dan ada yang tidak baik,” ujar mahasiswa semester VI itu.  

Tak ketinggalan pemberian bunga pun diberikan dalam kesempatan itu. Sebagaimana dilansir dalam www.mirifica.net, di Tokyo dikisahkan masing-masing ibu yang baru melahirkan di berbagai rumah sakit palang merah di Jepang, menerima hadiah berupa sebuah bunga dan pesan khusus duta Vatikan untuk Jepang.


Pesan itu tertera pada sebuah paket berisi benih bunga yang dibagi-bagikan oleh Himawari no Kai (sunflower society), sebuah organisasi non-profit yang dikelola oleh orang-orang Jepang. Menurut sumber itu, bunga adalah hadiah dari pencipta dan kecantikannya merupakan bahasa semua orang. Pemberian bunga merupakan tanda saling berbagi dan tanda adanya perhatian antara pemberi dan penerima. 

Arah jam terus berputar. Detik berganti menit, dan menit berganti jam. Bisingnya suara kereta api, pedagang yang menjajakan barang dagangannya, pejalan kaki yang hilir mudik, terlebih lalu lintas kendaraan tak menghiraukan mereka untuk membantu warga. Bagi mereka seseorang dapat dikatakan mulia dikarenakan akhlak yang baik terhadap orang lain.

Udara siang yang mulai menyengat, dengan berbagai kesibukan yang telah mereka lakukan setidaknya ada harapan buat orang-orang yang mereka bantu. “Terpenting buat kami, dapat membantu hal yang dapat kami bantu. Dan mereka menerimanya,” jelas Zakki Husni.  (Jaenuddin Ishaq)

                                                                                   

 

 

 

Berbagi Sehat dengan Warga

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

BERBAGI dan berbagi. Itulah yang dilakukan mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Jakarta dalam memperingati hari perawat se-dunia pada 12 Mei kemarin yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Keperawatan se-Indonesia.

Udara pagi di ibu kota hari itu cukup bersahabat. Panas tidak, hujan pun tidak. Meski malam hari sempat hujan, untung paginya hanya terlihat sedikit genangan air yang membekas. Namun di balik itu ada sebagian mahasiswa yang justru bersiap-siap untuk membantu warga. Meski jam 09.00, kesibukan mulai mereka lakukan sesuai tugasnya masing-masing.

“Tolong, ibu dan bapak mengantre dengan tertib. Nanti maju satu persatu untuk periksa tekanan darah dan gula darah,” kata Zakki Husni M, salah seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan, menceritakan kesibukan yang terjadi di posko Stasiun KA Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Kegiatan mereka antara lain dalam bentuk pemeriksaan tekanan darah, gula darah, pemberian makanan, bunga, dan pembagian majalah tentang kesehatan. Untuk mahasiswa UIN Jakarta, sedikitnya diikuti sekitar 20 mahasiswa Ilmu Keperawatan FKIK.

Kegiatan itu tersebar di seluruh Indonesia, bergantung berdomisili mahasiswa. Di Jakarta dilaksanakan oleh mahasiswa UIN Jakarta, UI, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan organisasi-organisasi keperawatan se-Jakarta berkerjasama dengan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (Ilmiki) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Mereka disebar di hampir seluruh wilayah DKI Jakarta, seperti di Stasiun Pasar Senen, kawasan Monas, Blok M dan Jakarta Kota.

Tanpa mempersalahkan tempat di mana mereka mengabdi, dengan sabarnya mereka membantu warga yang ingin memeriksa tekanan darah dan gula darah. Tak sedikit di antara warga juga mengeluhkan kurangnya kinerja perawat rumah sakit selama ini. “Beragam pelayanan yang diberikan oleh perawat dalam membantu orang lain, pastinya ada yang baik dan ada yang tidak baik,” ujar mahasiswa semester VI itu.  

Tak ketinggalan pemberian bunga pun diberikan dalam kesempatan itu. Sebagaimana dilansir dalam www.mirifica.net, di Tokyo dikisahkan masing-masing ibu yang baru melahirkan di berbagai rumah sakit palang merah di Jepang, menerima hadiah berupa sebuah bunga dan pesan khusus duta Vatikan untuk Jepang.


Pesan itu tertera pada sebuah paket berisi benih bunga yang dibagi-bagikan oleh Himawari no Kai (sunflower society), sebuah organisasi non-profit yang dikelola oleh orang-orang Jepang. Menurut sumber itu, bunga adalah hadiah dari pencipta dan kecantikannya merupakan bahasa semua orang. Pemberian bunga merupakan tanda saling berbagi dan tanda adanya perhatian antara pemberi dan penerima. 

Arah jam terus berputar. Detik berganti menit, dan menit berganti jam. Bisingnya suara kereta api, pedagang yang menjajakan barang dagangannya, pejalan kaki yang hilir mudik, terlebih lalu lintas kendaraan tak menghiraukan mereka untuk membantu warga. Bagi mereka seseorang dapat dikatakan mulia dikarenakan akhlak yang baik terhadap orang lain.

Udara siang yang mulai menyengat, dengan berbagai kesibukan yang telah mereka lakukan setidaknya ada harapan buat orang-orang yang mereka bantu. “Terpenting buat kami, dapat membantu hal yang dapat kami bantu. Dan mereka menerimanya,” jelas Zakki Husni.  (Jaenuddin Ishaq)