BEM FSH Peringati 40 Hari Wafatnya Gus Dur

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Aula SC, UIN Online - Semangat perjuangan almarhum KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur harus ditiru masyarakat Indonesia. Kepemimpinan Gus Dur mudah diterima semua golongan dan dia dikenal sebagai penegak pluralisme yang menjunjung nilai keadilan membuatnya kini dikenang banyak kalangan.

Hal itu dikatakan menantu Gus Dur Dhohir Farisi kepada UIN Online saat Refleksi Pemikiran Gus Dur untuk Indonesia yang diadakan BEM Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) bekejasama DPP Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) di Aula Student Center, Senin (8/2). Acara refleksi diisi dengan pembacaan surat Yasin dan Tahlil bersama.

“Di samping mudah bergaul dengan civil society,. beliau (Gus Dur) adalah pemimpin yang berupaya memberikan rasa keadilan merata untuk rakyatnya,” kata Faris. Semangat Gus Dur membaca berbagai literature, lanjutnya, membuat pengetahuannya tentang demokrasi benar-benar diterapkan saat menjadi presiden keempat.

Sementara itu, putri Gus Dur Zannuba Arifah Chafsoh atau Yenny Wahid mangatakan Gus Dur merupakan sosok yang selalu menjunjung tinggi nilai demokrasi sesuai keadilan. Keadilan itu terbukti saat dia menghapuskan diskriminasi ras pada masyarakat Papua.

“Di samping sebagai orangtua, Gus Dur juga sebagai pemimpin yang berusaha mencari jawaban dari setiap masalah,” ujarnya. Menurut Direktur The Wahid Institute ini dalam satu abad ke depan belum tentu ada sosok yang seperti Gus Dur.

Gus Dur mengembuskan nafas terakhir di RSCM Jakarta pada 30 Desember 2009 dalam usia 69 tahun. Gus Dur wafat setelah didera komplikasi penyakit jantung, ginjal, dan gula darah. Sebelumnya dia sempat menjalani perawatan medis di RS Jombang Jawa Timur, karena kelelahan setelah melakukan kunjungan ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. []

BEM FSH Peringati 40 Hari Wafatnya Gus Dur

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Aula SC, UIN Online - Semangat perjuangan almarhum KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur harus ditiru masyarakat Indonesia. Kepemimpinan Gus Dur mudah diterima semua golongan dan dia dikenal sebagai penegak pluralisme yang menjunjung nilai keadilan membuatnya kini dikenang banyak kalangan.

Hal itu dikatakan menantu Gus Dur Dhohir Farisi kepada UIN Online saat Refleksi Pemikiran Gus Dur untuk Indonesia yang diadakan BEM Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) bekejasama DPP Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) di Aula Student Center, Senin (8/2). Acara refleksi diisi dengan pembacaan surat Yasin dan Tahlil bersama.

“Di samping mudah bergaul dengan civil society,. beliau (Gus Dur) adalah pemimpin yang berupaya memberikan rasa keadilan merata untuk rakyatnya,” kata Faris. Semangat Gus Dur membaca berbagai literature, lanjutnya, membuat pengetahuannya tentang demokrasi benar-benar diterapkan saat menjadi presiden keempat.

Sementara itu, putri Gus Dur Zannuba Arifah Chafsoh atau Yenny Wahid mangatakan Gus Dur merupakan sosok yang selalu menjunjung tinggi nilai demokrasi sesuai keadilan. Keadilan itu terbukti saat dia menghapuskan diskriminasi ras pada masyarakat Papua.

“Di samping sebagai orangtua, Gus Dur juga sebagai pemimpin yang berusaha mencari jawaban dari setiap masalah,” ujarnya. Menurut Direktur The Wahid Institute ini dalam satu abad ke depan belum tentu ada sosok yang seperti Gus Dur.

Gus Dur mengembuskan nafas terakhir di RSCM Jakarta pada 30 Desember 2009 dalam usia 69 tahun. Gus Dur wafat setelah didera komplikasi penyakit jantung, ginjal, dan gula darah. Sebelumnya dia sempat menjalani perawatan medis di RS Jombang Jawa Timur, karena kelelahan setelah melakukan kunjungan ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. []