Belajar dari Jepang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
 
TRADISI dan keberanian bunuh diri untuk melawan musuh sesungguhnya merupakanceritalamayang mudah dijumpai di berbagai bangsa.

Dulu yang menjadi sasaran dan target adalah militer karena perang pun memiliki etika bahwa masyarakat sipil yang tidak ikut perang tidak boleh diserang.Berbagai peperangan yang mendorong sikap radikalisme serta berani mati itu alasan utamanya bukanlah agama,melainkan persoalan sekuler, terutama perebutan wilayah tanah air.

Kalau muncul persoalan agama sebagai sumber terorisme dan masyarakat sipil menjadi target, itu merupakan perkembangan baru yang mengagetkan kita semua. Radikalisme yang terjadi di Sri Lanka oleh gerilyawan Macan Tamil, misalnya, bersifat lokal dan tidak menonjolkan ideologi keagamaan. Begitu juga radikalisme yang pernah dilakukan tentara Jepang pada perang dunia melawan musuh-musuhnya tidak melibatkan isu keagamaan.

Aksi terorisme juga pernah terjadi di Irlandia.Yang sangat fenomenal tentu saja yang dilakukan rakyat Vietnam dalam melawan tentara Amerika Serikat. Mengaitkan terorisme dan isu keagamaan mengemuka ketika Israel menguasai tanah milik warga Palestina yang di situ ada Masjid Al-Aqsha sehingga terorisme dan radikalisme yang semula bersifat lokal dan sekuler lalu berkembang melibatkan sentimen keagamaan dan membangkitkan solidaritas global.

Israel kuat bertahan karena berhasil menggalang dukungan solidaritas warga Yahudi yang tersebar di berbagai negara Barat.Di lain pihak,Palestina pun mendapatkan dukungan dari umat Islam sedunia. Hanya saja soliditas jaringan Israel jauh lebih kuat ketimbang jaringan Palestina meskipun sentimen keislaman dilibatkan.

Sebelum Uni Soviet bubar, konflik antara dunia Islam dan Barat (AS) memang belum mengeras. Bahkan dunia Islam, khususnya Timur Tengah, merasa bersahabat dan memperoleh perlindungan dari Barat dalam menghadapi kekuatan komunis. Dunia Arab masih memandang positif masyarakat Barat yang beragama Kristen sebagai ahlul kitab ketimbang komunis yang kafir.

Oleh karenanya banyak pejuang muslim yang rela mati melawan Uni Soviet dengan menjadikan Afghanistan sebagai pangkalannya. Dalam hal ini banyak juga pemuda Indonesia dan Malaysia yang bergabung, sekelompok jamaah yang antiterhadap pemerintahan Soeharto dan Mahathir yang dianggapnya membatasi gerakan mereka untuk memperjuangkan Islam garis keras.

Keadaan dan suasana batin berubah drastis setelah Uni Soviet bubar.Beberapa kelompok radikal Timur Tengah yang semula berkawan dengan AS merasa dikecewakan. Mereka beranggapan justru dunia Islam malah dijadikan pesaing ideologi baru yang berhadapan dengan Barat setelah komunis ambruk.Persoalan Palestinatakkunjungselesai, padahalkuncinya ada di tangan Gedung Putih.

Kemudian Irak diporakporandakan meski banyak orang Islam tidak senang kepada Saddam. Dalam suasana batin yang lelah, kondisi ekonomi dan politik yang tidak mandiri karena intervensi Barat,maka mantan pejuang Afghanistan tadi akhirnya merasa kesepian, kecewa, sakit hati, dan marah.Para gerilyawan muslim itu mirip film Rambo. Pertempuran sudah berakhir,tetapi nafsu untuk menghancurkan lawan masih menggelegak.

Merasa sudah berjuang membela harga diri bangsa dan negara dengan taruhan nyawa, ketika pulang kampung alih-alih dihargai, malahan disakiti dan dilecehkan. Memori dan kesiapan untuk mati melawan musuh ini sudah mendarah-daging, sementara medan tempurnya sudah beralih dari “battle”(pertempuran) ke “war” (peperangan).

Maka ketika mendapatkan stimulasi sedikit saja akan berkobar lagi memori dan semangat tempurnya. Mirip pecandu narkoba,meskipun sudah dinyatakan sembuh, kalau memperoleh stimulus sedikit saja akan mudah kambuh penyakit lamanya. Dalam medan “tempur”sasaran dan target lawan sangat jelas dan sifatnya fisikal.

Namun dalam konteks “perang”, sosok musuh tidak selalu bersifat personal dan kelihatan langsung karena medan perang bisa berlangsung dalam dunia ekonomi, politik, dan ideologi. Oleh karena itu mental prajurit yang tampil gagah berani dan siap mati dalam medan tempur belum tentu siap dan mahir ketika masuk ke medan perang karena sifat dan strateginya sangat berbeda.

Semasa Perang Dunia tentara Jepang dikenal sangat hebat dan berani mati dalam medan pertempuran. Mereka siap bunuh diri dengan kalkulasi pihak musuh akan jatuh korban berlipat-lipat. Demikian juga logika dan kalkulasi para teroris itu. Nyawa seorang dikorbankan untuk menakuti musuh yang lebih kuat. Namun bangsa Jepang telah memberikan pelajaran berharga kepada kita.Bahwa di zaman modern ini perang mengandalkan fisik akan dikecam dunia, dianggap menghancurkan peradaban.

Dunia Islam mestinya belajar dari Jepang.Kehancuran Nagasaki dan Hiroshima menyadarkan mereka bahwa jalan tempur beradu fisik dan senjata mesti diakhiri kalau Jepang ingin maju dan meraih kemenangan di masa depan. Mereka tidak mungkin melawan Barat dengan mengerahkan pasukan berani mati.

Lalu diambillah strategi perang jangka panjang, lintas generasi, dengan membangun pendidikan, teknologi, dan ekonomi.Kemarahan kepada Barat dikompensasikan dalam bentuk perang mengandalkan produk kekuatan ilmu dan teknologi, khususnya automotif. Sesungguhnya bagi Jepang teramat mudah untuk membuat senjata ultramodern,jauh lebih mampu ketimbang Korea Utara.

Namun Jepang memilih “perang” teknologi dan ekonomi dan langkah ini juga dilakukan oleh China serta Korea Selatan sehingga Barat merasa kewalahan menghadapi kekuatan China, Jepang, dan Korea Selatan yang tengah bangkit. Dalam konteks ini posisi dunia Islam terlihat sangat ketinggalan, padahal di abad tengah dikenal sebagai perintis dan penyumbang terbesar ilmu dan peradaban kepada dunia.

Negara-negara Islam, Arab khususnya, saat ini masih terninabobokan oleh warisan kejayaan masa lalu dan belas kasih alamnya yang kaya akan kandungan minyak.Padahal bangsa lain sudah memasuki kompetisi dan inovasi dunia industri modern meski alamnya tidak sekaya mereka. Rakyatnya pun lebih makmur, hidup damai dan kesenian serta olahraganya jauh lebih maju.

Sementara dunia Islam masih heboh dengan isu teror, gerilya, pemerintahan yang tiran,dan perang mazhab. Karena pendidikan dan industrinya maju, Jepang, meski kecil negaranya, disegani Barat sehingga yang terjalin adalah hubungan kemitraan. Mestinya dunia Islam mau belajar dari pengalaman Jepang.

Menghadapi Barat yang memiliki institusi kuat dalam bidang riset keilmuan, teknologi, media massa,ekonomi,militer,dan intelijen, apa yang dilakukan jaringan radikalisme-terorisme keagamaan tak akan sanggup mengalahkan mereka. Barat terlalu kokoh kalau hanya dilawan dengan meledakkan bom bunuh diri.

Bunuh diri itu pengecut,hanya berani mati, tetapi tidak berani hidup. Mereka tidak memiliki institusi yang kuat, wibawa, dan berjangka panjang. Sekali lagi, Jepang memberikan pelajaran,mereka mengakhiri semangat berani mati, lalu mengubahnya dengan semangat membangun kehidupan dengan pilar pendidikan, ekonomi,dan industri maju sehingga tampil ke panggung peperangan global dengan terhormat.(*)
 

Belajar dari Jepang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
 
TRADISI dan keberanian bunuh diri untuk melawan musuh sesungguhnya merupakanceritalamayang mudah dijumpai di berbagai bangsa.

Dulu yang menjadi sasaran dan target adalah militer karena perang pun memiliki etika bahwa masyarakat sipil yang tidak ikut perang tidak boleh diserang.Berbagai peperangan yang mendorong sikap radikalisme serta berani mati itu alasan utamanya bukanlah agama,melainkan persoalan sekuler, terutama perebutan wilayah tanah air.

Kalau muncul persoalan agama sebagai sumber terorisme dan masyarakat sipil menjadi target, itu merupakan perkembangan baru yang mengagetkan kita semua. Radikalisme yang terjadi di Sri Lanka oleh gerilyawan Macan Tamil, misalnya, bersifat lokal dan tidak menonjolkan ideologi keagamaan. Begitu juga radikalisme yang pernah dilakukan tentara Jepang pada perang dunia melawan musuh-musuhnya tidak melibatkan isu keagamaan.

Aksi terorisme juga pernah terjadi di Irlandia.Yang sangat fenomenal tentu saja yang dilakukan rakyat Vietnam dalam melawan tentara Amerika Serikat. Mengaitkan terorisme dan isu keagamaan mengemuka ketika Israel menguasai tanah milik warga Palestina yang di situ ada Masjid Al-Aqsha sehingga terorisme dan radikalisme yang semula bersifat lokal dan sekuler lalu berkembang melibatkan sentimen keagamaan dan membangkitkan solidaritas global.

Israel kuat bertahan karena berhasil menggalang dukungan solidaritas warga Yahudi yang tersebar di berbagai negara Barat.Di lain pihak,Palestina pun mendapatkan dukungan dari umat Islam sedunia. Hanya saja soliditas jaringan Israel jauh lebih kuat ketimbang jaringan Palestina meskipun sentimen keislaman dilibatkan.

Sebelum Uni Soviet bubar, konflik antara dunia Islam dan Barat (AS) memang belum mengeras. Bahkan dunia Islam, khususnya Timur Tengah, merasa bersahabat dan memperoleh perlindungan dari Barat dalam menghadapi kekuatan komunis. Dunia Arab masih memandang positif masyarakat Barat yang beragama Kristen sebagai ahlul kitab ketimbang komunis yang kafir.

Oleh karenanya banyak pejuang muslim yang rela mati melawan Uni Soviet dengan menjadikan Afghanistan sebagai pangkalannya. Dalam hal ini banyak juga pemuda Indonesia dan Malaysia yang bergabung, sekelompok jamaah yang antiterhadap pemerintahan Soeharto dan Mahathir yang dianggapnya membatasi gerakan mereka untuk memperjuangkan Islam garis keras.

Keadaan dan suasana batin berubah drastis setelah Uni Soviet bubar.Beberapa kelompok radikal Timur Tengah yang semula berkawan dengan AS merasa dikecewakan. Mereka beranggapan justru dunia Islam malah dijadikan pesaing ideologi baru yang berhadapan dengan Barat setelah komunis ambruk.Persoalan Palestinatakkunjungselesai, padahalkuncinya ada di tangan Gedung Putih.

Kemudian Irak diporakporandakan meski banyak orang Islam tidak senang kepada Saddam. Dalam suasana batin yang lelah, kondisi ekonomi dan politik yang tidak mandiri karena intervensi Barat,maka mantan pejuang Afghanistan tadi akhirnya merasa kesepian, kecewa, sakit hati, dan marah.Para gerilyawan muslim itu mirip film Rambo. Pertempuran sudah berakhir,tetapi nafsu untuk menghancurkan lawan masih menggelegak.

Merasa sudah berjuang membela harga diri bangsa dan negara dengan taruhan nyawa, ketika pulang kampung alih-alih dihargai, malahan disakiti dan dilecehkan. Memori dan kesiapan untuk mati melawan musuh ini sudah mendarah-daging, sementara medan tempurnya sudah beralih dari “battle”(pertempuran) ke “war” (peperangan).

Maka ketika mendapatkan stimulasi sedikit saja akan berkobar lagi memori dan semangat tempurnya. Mirip pecandu narkoba,meskipun sudah dinyatakan sembuh, kalau memperoleh stimulus sedikit saja akan mudah kambuh penyakit lamanya. Dalam medan “tempur”sasaran dan target lawan sangat jelas dan sifatnya fisikal.

Namun dalam konteks “perang”, sosok musuh tidak selalu bersifat personal dan kelihatan langsung karena medan perang bisa berlangsung dalam dunia ekonomi, politik, dan ideologi. Oleh karena itu mental prajurit yang tampil gagah berani dan siap mati dalam medan tempur belum tentu siap dan mahir ketika masuk ke medan perang karena sifat dan strateginya sangat berbeda.

Semasa Perang Dunia tentara Jepang dikenal sangat hebat dan berani mati dalam medan pertempuran. Mereka siap bunuh diri dengan kalkulasi pihak musuh akan jatuh korban berlipat-lipat. Demikian juga logika dan kalkulasi para teroris itu. Nyawa seorang dikorbankan untuk menakuti musuh yang lebih kuat. Namun bangsa Jepang telah memberikan pelajaran berharga kepada kita.Bahwa di zaman modern ini perang mengandalkan fisik akan dikecam dunia, dianggap menghancurkan peradaban.

Dunia Islam mestinya belajar dari Jepang.Kehancuran Nagasaki dan Hiroshima menyadarkan mereka bahwa jalan tempur beradu fisik dan senjata mesti diakhiri kalau Jepang ingin maju dan meraih kemenangan di masa depan. Mereka tidak mungkin melawan Barat dengan mengerahkan pasukan berani mati.

Lalu diambillah strategi perang jangka panjang, lintas generasi, dengan membangun pendidikan, teknologi, dan ekonomi.Kemarahan kepada Barat dikompensasikan dalam bentuk perang mengandalkan produk kekuatan ilmu dan teknologi, khususnya automotif. Sesungguhnya bagi Jepang teramat mudah untuk membuat senjata ultramodern,jauh lebih mampu ketimbang Korea Utara.

Namun Jepang memilih “perang” teknologi dan ekonomi dan langkah ini juga dilakukan oleh China serta Korea Selatan sehingga Barat merasa kewalahan menghadapi kekuatan China, Jepang, dan Korea Selatan yang tengah bangkit. Dalam konteks ini posisi dunia Islam terlihat sangat ketinggalan, padahal di abad tengah dikenal sebagai perintis dan penyumbang terbesar ilmu dan peradaban kepada dunia.

Negara-negara Islam, Arab khususnya, saat ini masih terninabobokan oleh warisan kejayaan masa lalu dan belas kasih alamnya yang kaya akan kandungan minyak.Padahal bangsa lain sudah memasuki kompetisi dan inovasi dunia industri modern meski alamnya tidak sekaya mereka. Rakyatnya pun lebih makmur, hidup damai dan kesenian serta olahraganya jauh lebih maju.

Sementara dunia Islam masih heboh dengan isu teror, gerilya, pemerintahan yang tiran,dan perang mazhab. Karena pendidikan dan industrinya maju, Jepang, meski kecil negaranya, disegani Barat sehingga yang terjalin adalah hubungan kemitraan. Mestinya dunia Islam mau belajar dari pengalaman Jepang.

Menghadapi Barat yang memiliki institusi kuat dalam bidang riset keilmuan, teknologi, media massa,ekonomi,militer,dan intelijen, apa yang dilakukan jaringan radikalisme-terorisme keagamaan tak akan sanggup mengalahkan mereka. Barat terlalu kokoh kalau hanya dilawan dengan meledakkan bom bunuh diri.

Bunuh diri itu pengecut,hanya berani mati, tetapi tidak berani hidup. Mereka tidak memiliki institusi yang kuat, wibawa, dan berjangka panjang. Sekali lagi, Jepang memberikan pelajaran,mereka mengakhiri semangat berani mati, lalu mengubahnya dengan semangat membangun kehidupan dengan pilar pendidikan, ekonomi,dan industri maju sehingga tampil ke panggung peperangan global dengan terhormat.(*)