Belajar Bahasa Arab itu Mudah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Banyak orang yang beranggapan belajar bahasa Arab sulit dan rumit. Padahal bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an dan bahasa Internasional. Sebagai produk budaya, bahasa bisa dipelajari. Sulit atau mudahnya belajar bahasa sebenarnya tergantung dari orang yang menyikapinya. Pada kenyataannya banyak orang yang menguasai bahasa Inggris. Jadi manakah lebih mudah dipelajari, bahasa Arab atau bahasa Inggris? Haruskah bahasa Arab terus menjadi momok yang mengerikan dan sulit dipelajari? Untuk mengetahuinya, berikut petikan wawancara Muhammad Nurdin dari Berita UIN Online dengan Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Dr Muhbib Abdul Wahab di ruang kerjanya, Rabu (22/12).

Sekarang ini, banyak orang yang beranggapan bahwa belajar bahasa Arab itu sulit. Padahal bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an, bagaimana Anda menyikapinya?

Seperti yang saya tulis dalam disertasi, bahwa setiap bahasa mempunyai tingkat kesulitan atau kerumitan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa menyimpulkan secara mutlak bahwa belajar bahasa Arab itu sulit. Bahkan ada suatu pernyataan dari seorang Guru Besar Universitas di Brunei sekaligus pakar bahasa Arab  Prof. Dr.  Abdul Karim Awad Hayaza, MA. mengatakan, bahasa termudah adalah bahasa Arab. Saya ingin menegaskan, bahwa belajar bahasa Arab itu ada yang sulit ada yang mudah, namun  harus kita posisikan netral-netral saja tergantung dari sudut mana memandangnya.  Saya sering memberi contoh dalam bahasa Inggris juga ada hal-hal yang  kita anggap sulit, karena antara yang ditulis dengan yang dibaca itu tidak sama. Sedangkan bahasa Arab apa adanya, antara yang dibaca dan ditulis itu sama.

Jadi kesimpulan saya bahwa pencitraan bahasa Arab sulit karena ada beberapa faktor.      Faktor internal (psikologis) dan faktor eksternal atau (pihak-pihak tertentu) yang ingin menggiring opini publik agar kita jauh dari al-Qur’an alias kita  dijauhkan dulu dari bahasa Arab. Karena agenda semacam ini sudah muncul di zaman kolonial Belanda. Bahkan di negara Timur Tengah pun sudah muncul.  Jika kita jauh dari bahasa Arab maka baca al-Qur’an pun jadi setengah-setengah, dan jika baca al-Qur’annya setengah-setengah maka kita mudah diombang-ambing. Jadi citra bahasa Arab sulit adalah karena faktor psikologi sekaligus faktor internal bahasa Arab dan ada sekelompok  orang yang ingin memojokan bahasa Arab di tengah persaingan bahasa yang lain. Bahasa adalah produk budaya, karena itu produk budaya bisa dipelajari, dan setiap bahasa itu kan ada yang sulit ada juga yang mudah tergantung dari orang yang mensikapinya

Lantas, bagaimana idealnya pembelajaran bahasa Arab di UIN Jakarta?

Ada dua orietasi yang berbeda, yang pertama belajar bahasa Arab bagi mahasiswa yang notabene menggeluti bahasa Arab, seperti Pendidikan Bahasa Arab, Bahasa dan Sastra Arab, dan di Fakultas Dirasat Islamiyah.  Mestinya  mahasiswa yang menggeluti bidang ini berorientasi pada empat keterampilan antara lain, keterampilan menyimak, kalam, membaca, dan kitabah. Bahkan tidak hanya itu, mahasiswa harus mempunyai keterampilan lebih yaitu bisa menerjemah dan menulis buku berbahasa Arab.

Sedangkan bagi mahasiswa selain itu (Pendidikan Bahasa Arab, Bahasa dan Sastra Arab , dan Fakultas Dirasat Islamiyah,) hanya berorientasi  pada keterampilan membaca saja. Karena hal ini dilihat dari kebutuhan mahasiswa lebih banyak untuk memahami literatur seperti membaca berita, membaca sumber-sumber literaur dari internet maupun majalah berbahasa Arab. Kalau pun pembelajarannya diarahkan pada keterampilan produktif seperti berbicara itu tidak apa-apa tergantung pada kebijakan masing-masing fakultas. Tapi saya lebih condong pada keterampilan membaca saja, sebab kalau diarahkan semuanya pada empat keterampilan  menurut saya itu agak sulit.

Lantas, apakah lulusan PBA UIN Jakarta sudah memenuhi standar pasar?

Menurut hemat saya, masih belum memenuhi standar. Tetapi hanya sebagian saja yang sudah kita anggap bagus, hal ini dapat dilihat dari tes TOEFL / TOAFL kalau kurang dari standar yang ditetapkan 400 atau 450 maka mahasiswa tersebut masih harus meningkatkan kualitas, mengapa? Karena mereka ini mengkaji belum matang, ibarat buah nangka setengah matang alias belum menguasai secara baik. Teorinya paham tapi aplikasinya kurang. Karena  itu saya melihat dalam praktik berbahasanya masih kurang.

Padahal, kita maklum bahwa belajar bahasa itu yang harus diperbanyak adalah praktik. Sebab dengan praktik semua akan ketahuan sejauhmana kemampuan seseorang. Baik praktik berbicara, membaca teks, maupun menulis. Kalau teorinya rata-rata sudah mengetahui tetapi kan praktiknya belum tentu. Oleh karena itu belajar bahasa Arab adalah praktik yang harus ditekankan.

Bagaimana dengan lembaga-lembaga kursus bahasa Arab, apakah sudah memenuhi standar pembelajaran bahasa Arab?

Kalau lembaga kursus saya belum mengamati secara langsung, tapi saya ingin berpendapat bahwa setiap lembaga kursus itu kan berbeda-beda orientasinya. Ada yang berorientasi pada profit (pemasukan), dan ada juga yang berorientasi pada penyelenggaraan tes. Sejauh ini saya belum melihat ada lembaga bahasa Arab yang sudah kredibel.

Hal ini dapat dibuktikan banyak lembaga-lembaga yang cenderung rontok di tengah jalan atau tidak bisa bertahan lama, mungkin karena  pelayanannya kurang, atau peminatnya tidak ada. Berbeda dengan lembaga bahasa Inggris yang relatif sudah ada nama-nama yang mapan dan sudah mempunyai sistem yang  bagus seperti Lembaga Indonesia Amerika (LIA), dan Internasional Language Program (ILP). Sedangkan lembaga kursus bahasa Arab yah cenderung patah tumbuh hilang berganti, yang muncul hanya musiman saja, seperti menawarkan  tes TOAFL. Saya berharap, harus ada pembenahan-pembenahan baik dari Sumber Daya Manusia (SDM), sistem pengelolaan, maupun programnya.

Sebagai mantan Kajur PBA sekaligus PUDEK III Bidang Kemahasiswaan, adakah program khusus dari FITK untuk menciptakan bi’ah lughawiyah?

Sebetulnya pernah digagas zona berbahasa khususnya di lantai empat  FITK.  Sebab lantai tersebut dikuasai oleh orang-orang yang berbahasa, yaitu jurusan PBA dan PBI.  Akan tetapi dalam perjalananannya itu tidak semudah yang kita harapkan. Walaupun belum sesuai harapan kami masih optimis untuk menciptakan lingkungan berbahasa baik dalam acara diskusi antardosen, seminar nasional, internasional, maupun dalam bahasa pengantar perkuliahan.  Ada beberapa kendala untuk menciptakan lingkungan berbahasa antara lain komitmen yang belum terbangun secara kuat dan kurangnya pembiasaan dari sivitas akademika.

Tapi setidaknya kami telah menciptakan cara lain yaitu dengan cara pembinaan kelompok –kelompok studi. Tujuannya untuk melatih berbahasa baik secara lisan maupun tulisan.  Walaupun secara umum belum maksimal akan tetapi setidaknya memberikan citra bahwa belajar bahasa Arab itu mudah dan perlu pembiasaan.  Pada waktu itu konsepnya (lingkungan berbahasa) tidak di kampus akan tetapi pembinaan langsung dari asrama, karena kalau di kampus kita disibukan pada jam-jam perkuliahan.

Secara pribadi saya berusaha ingin menjadikan  bahasa Arab sebagai bahasa pengantar perkuliahan.  Tapi belum ada komitmen khususnya mahasiswa sendiri. Sebab secara umum mahasiswa belum sepenuhnya siap untuk diajak berbahasa Arab. Ke depan saya rasa bisa untuk menciptakan lingkungan berbahasa, hal  ini harus didukung dari sistem, tenaga pengajar, dan seluruh sivitas akademika.  Di antara ide yang pernah digagas adalah khutbah jumat di masjid al-Jamiah dengan tiga bahasa. Paling  tidak hal ini menjadi inspirasi bagi kampus –kampus lain. Tujuan khutbah tiga bahasa ini antara lain, pertama, menciptakan lingkungan berbahasa Arab, Inggris, maupun Indonesia. sehingga para civitas akademika akan terbiasa dengan bahasa Asing. Kedua, mendukung program UIN Jakarta menjadi World Class University. Ketiga, sebagai ajang memberanikan diri dan mencari dosen-dosen dan mahasiswa yang ahli dalam tiga bahasa baik secara tulis, maupun tulisan.

Lantas bagaimana kedudukan dan fungsi Laboratorium Bahasa pada Pusat Bahasa UIN Jakarta?

Pusat Bahasa mempunyai tugas utama yaitu melayani di bidang pengujian bukan bidang pengajaran, atau remedial (untuk program Pascasarjana), dan penerjemahan. PBB tidak membawahi masing-masing fakultas tapi hanya memberikan pelayanan dan  fasilitas saja, termasuk kursus bahasa Indonesia untuk warga asing.

Bagaimana pendapat Anda tentang metodologi Pembelajaran Bahasa Arab sekarang?

Kalau dilihat dari perkembangan ilmu, banyaknya metode itu menandakan banyaknya peminat dan pengkaji bahasa Arab. Sehingga mereka berupa untuk mencari metode baru sebagai solusi untuk menutupi kekurangan  maupun memperbaharui metode yang lama. Karena metode kan itu tidak harus satu, kalau satu itu lucu dan  itu kan harus disesuaikan dengan kepentingan dan tujuan pada setiap pembelajaran. Misalnya pembelajaran Qawaid dan terjemah maka metode yang digunakan adalah metode qowaid wa al-tarjamah sebab tujuan dari pembelajaran ini adalah mengetahui struktur dan bisa menterjemahkan.

Dari segi ilmiah banyak metode yang perlu dikritisi dan diuji kembali kecuali metode-metode  yang sudah mapan. Contoh metode Alwan, Granada, Tamyiz, kalau menurut saya belum dikatakan sebagai metode, hanya baru gagasan saja sebab perlu diuji secara empirik. Oleh karena itu,  kalau tidak diuji akan timbul pada seseorang atau kelompok yang main klaim saja  bahwa ini adalah metode yang bagus.  Dalam hal ini UIN Jakarta harus memberikan kesempatan dan memfasilitasi para peneliti maupun pakar bahasa untuk melengkapi metode-metode yang belum sempurna.

Menurut Anda  penggunaaan buku Ajar bahasa Arab di UIN seperti apa?

Kalau ditingkat UIN Jakarta khususnya,  masih bervariasi. Hal ini tergantung orientasi dan kebijakan setiap fakultas. Bisa jadi fakultas A menggunakan buku ini, dan fakultas B menggunakan buku yang lain lagi, karena  mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Yang terpenting adalah silabi atau Satuan Acara Perkuliahan (SAP) diarahkan kepada apa, dan tujuannnya apa. Kalau memang buku yang dipilih sesuai tujuan maka itu sudah relevan, tapi kalau belum maka belum dikatakan relevan. Masih ada yang harus ditinjau dan dikritisi kembali. Secara umum saya melihat,  buku –buku berbahasa Arab agak sedikit tertinggal dari bahasa Inggris baik pada tingkat perguruan tinggi maupun pada tingkat madrasah.

Harapan kami, kita harus serius menangani ketertinggalan dengan bahasa Inggris. Sebab saat ini, kita masih cenderung berkiblat ke bahasa Inggris. Ke depan yang harus digalakkan dan harus diujicoba adalah bahan ajar agar lebih valid dan terbukti. Saya tegaskan lagi, selama ini pembelajaran bahasa Arab terutama dari sisi kontennya masih cenderung ke arah fikih, keislaman, dan bobotnya jauh lebih kental dibandingkan bobot keilmuanya. Ke depan jangan sampai ada kesan bahwa belajar bahasa Arab itu hanya agamis saja, padahal bahasa apapun itu netral bobot budaya, maupun muatan keilmuan dan sejarahnya, nah itu menurut saya yang harus dibenahi atau revesi di kemudian hari.

Menurut Anda, adakah tips dalam mempelajari bahasa Arab?

Tidak ada. Akan tetapi ada suatu ungkapan “ Jarrib wala hizhtakun ‘arifan” dari ungkapan ini dapat disimpulkan pertama, bahwa  belajar itu adalah dengan mencoba, artinya tidak takut salah, terus menerus, tidak pernah putus asa, tidak pernah patah arang di tengah jalan, selalu mencatat, dan bila perlu sering-sering bergaul dengan orang asing (native speaker). Maka saran saya yaitu harus mencari bahan-bahan istima, atau  lainnya di internet, buku, maupun pada narasumber atau pakar bahasa.  Sehingga kita akan selalu terpacu untuk berlatih, dan terus berlatih.

Yang kedua, berlatih berbicara sendiri baik di kamar belajar, ruang makan, dan  di kantin. Yang orientasinya apabila bertemu teman langsung dipraktekan baik ketika mengajukan pertanyaan maupun menjawab pertanyaaan pada diskusi, atau acara seminar dengan bahasa Arab walaupun masih terbata-bata atau belum lancar. Ketika sudah terbiasa berbicara dengan bahasa Arab harus diseimbangkan dengan menulis, intinya belajar bahasa itu harus melalui proses dan bertahap bukan instan atau asal bisa. Sebab belajar adalah berlatih dari yang mudah sampai pada yang sulit, kompleks, dan itu mungkin butuh waktu, tidak seperti bikin mie instan yang sekali diaduk langsung jadi.  Dan terus-menerus mencari, dan berlatih karena dengan semangat maka akan timbul kebiasaan berbahasa baik lisan maupu  tulisan.

Disertasi Anda mengangkat tentang tokoh pemikir bahasa Arab, bisa Anda jelaskan?

Ya, disertasi saya mengangkat tentang pemikir bahasa yaitu Tammam Hasan. Teori linguistik Tammam Hasan mengenai nahwu merupakan hasil ijtihad linguistiknya yang memadukan antara warisan khazanah pemikiran klasik, terutama pemikiran nahwu ‘Abd al-Qohir al-Jurjani, dan teori –teori linguistik modern, terutama teori konteks J.R. Firth. Dalam mengembangkan analisis nahwu, Tammam berusaha mengapresikan pemikiran klasik sambil memperbaharui dan mencari relevansi pengembangannya dengan pemikiran linguistik modern.

Karena itu, tidak sepenuhnya benar pendapat sebagaian ulama nahwu bahwa ilmu nahwu itu telah matang dan tuntas. Menurut Tammam, ilmu nahwu tidak statis, dan dinamis dan terus dapat dikembangkan. Tammam adalah  tokoh yang dianggap berpengaruh di Timur Tengah, karena pemikirannya banyak membawa angin segar, maupun wawasan di negara tersebut terutama tentang bahasa, tentang hal baru yang belum pernah terpikirkan oleh ulama nahwu  sebelumnya. []