Auditorium Harun Nasution, BERITA UIN Online– Wisuda Sarjana ke-106 telah selesai dilaksanakan dengan sukses pada Sabtu-Ahad (4-5/11/2017 di Auditroium Harun Nasution. Bukan hanya wisuda kali ini, beberapa kali pelaksanaan wisuda di UIN Jakarta dapat terlaksana dengan baik, walaupun masih ada kekurangan di sana sini setiap wisudanya. Hal tersebut tidak terlepas dari kerja keras panitia wisuda sebulan bahkan dua bulan sebelum hari H.

Selain pemindahan toga oleh Rektor UIN Jakarta, salah satu acara yang paling ditunggu adalah penayangan Testimoni Lulusan Terbaik setiap fakultas yang dikemas dalam bentuk slide berisi narasi dan foto lulusan bersangkutan. Pasalnya, testimoni yang disampaikan berisi berbagai macam cerita menarik para lulusan  selama menyelesaikan studinya di UIN Jakarta.

“Biasanya kisahnya diawali dari kesedihan, kekecewaan, kesulitan, keprihatinan ketika menempuh kuliah, tapi berakhir bahagia karena bisa lulus bahkan jadi lulusan terbaik, diselingi dengan cerita-cerita lucu yang mengundang gelak tawa para hadirin. Bahkan pernah ada kisah sedih yang dituturkan, sampai ada yang menangis meneteskan air mata,” ujar Nanang Syaikhu, salah satu Tim Kreatif yang menangani proses editing tulisan dan harus sering begadang agar selesai tepat waktu.

Untuk mendapatkan feel yang bagus saat pembacaan testimoni, lanjut Nanang, tentunya harus didukung narator yang membacakan testimoni tersebut.

“Kalau bacanya datar dan intonasinya tidak pas, maka cerita yang bagus akan menjadi garing,” tandasnya.

Untuk membuat tayangan berdurasi sekira 15-20 menit itu, dibutuhkan waktu sekira dua sampai tiga minggu untuk pengumpulan datanya. Seperti yang dituturkan Farah Nurul Hikam kepada BERITA UIN Online usai acara wisuda pada Ahad (5/11/2017).

“Tahap pertama, kita minta data dari Bagian Akademik Pusat berupa draft SK Lulusan dan Lulusan Terbaik sesuai usulan Fakultas,” ujar Farah yang bertugas sebagai pembuat slide lulusan.

Setalah SK tersebut didapatkan, sambung Farah, seluruh lulusan terbaik yang ada di SK tersebut harus dihubungi satu persatu untuk diarahkan mengisi form biodata lulusan terbaik yang sudah dibuat Tim Kreatif.

“Itupun tidak langsung terhubung, kita harus coba beberapa kali, bisa jadi nomornya salah atau memang tidak diangkat sama yang bersangkutan, sehingga butuh waktu sekira seminggu lebih karena yang dihubunginya banyak sampai sekira 19 orang,” terang Farah mengenang proses tersebut dan harus selalu pulang jelang maghrib.

Setelah bersusah payah menghubungi mereka untuk mengisi biodata dan melengkapinya dengan foto, proses selanjutnya adalah membuat slide untuk ditayangkan saat acara wisuda nanti.

“Yang lama itu nunggu mereka menyerahkan biodata dan mengolah cerita mereka dengan narasi yang pas dan karakter huruf yang dibatasi,” imbuhnya.

Ditambahkannya, situasi yang paling menegangkan menurut Farah adalah saat pelaksanakan wisuda. Walaupun uji coba sudah dilakukan satu hari sebelumnya, ternyata masih saja terjadi unpredictable trouble.

“Seperti tadi, saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, playernya sudah kita klik, tapi suara tidak keluar, sementara dirigen sudah menunggu, padahal sebelumnya sudah kita coba and everything is okay,” kenang Farah yang sempat tegang saat kejadian itu karena merasa bakal kena teguran pimpinan.

Untungnya, lanjut pegawai Bagian Kemahasiswaan itu, Bu Eva cepat tanggap dengan meminta dirigen langsung menyanyi Indonesia Raya tanpa diiringi musik. Bukan hanya itu saja, masih menurut Farah, banyak lagi hal-hal lain yang luput dari perhatian saat persiapan.

Selain Farah, tim kreatif lain yang turut mendukung adalah Ketua Tim Feni Arifiani yang terus mendorong tim untuk terus bergerak agar selesai pada waktunya. Ada juga Hermanudin dan Ali Nasrun Meha sebagai photographer yang dengan sabar mengarahkan gaya para lulusan terbaik agar hasilnya bagus.

Tidak ketinggalan, Eva Nauli Aprila sebagai pengarah gaya sambutan dan pembacaan narasi, Samsudin pengarah tata letak slide yang ditampilkan, Muhammad Furqon penyusun testimoni lulusan terbaik, Luthfi Rijalul Fikri sebagai korektor SK Lulusan dan Zainal Muttaqin Yusuf sebagai pemimpin redaksi Jurnal Dinamika yang kerap kali harus menginap di kantor.

Diketahui, Tim Kreatif ini terbentuk sejak 2012 dan terhitung sudah sekira 20 kali mengikuti pelaksanaan wisuda, sehingga sangat memahami seluk beluk pelaksanaan wisuda di UIN Jakarta.

“Yang terpenting dari semua itu adalah We are a team nothing more important than our friendship,” tutup Farah. (mf)

Share This