Beda Pemilu dan Pasar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

KETIKA kecil,saya sering jalan-jalan ke pasar. Pada hari-hari tertentu, pasar sangat ramai. Dari kejauhan sudah terdengar suara riuh bagaikan suara gerombolan lebah.

Pengunjung berdesakan di tengah suara celoteh sahut-menyahut, tawar-menawar harga. Di sudut pasar yang agak lapang, biasanya ada tontonan komedi, sulap, dan akrobat sepeda. Setelah pengunjung berdatangan, mulailah pemain tadi membuka dagangannya menawarkan obat yang, katanya, bisa menyembuhkan seratus satu macam penyakit.Jadi,di balik penampilan sulap, akrobat, dan cerita soal kehebatannya pernah berkeliling Indonesia dengan sepeda, ujungnya ia menawarkan obat kuat dengan harga murah,terjangkau.

Meski pasar itu meriah dan hiruk-pikuk, cirinya yang menonjol adalah setiap pengunjung hanya berpikir untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri.Mereka berkumpul di satu tempat, tidak untuk berserikat, dan kehadirannya tidak disatukan oleh visi dan misi.Berapa mereka hendak membelanjakan uang, tergantung kemampuannya dan perhitungan untung ruginya,juga seleranya.

Politik dan Pemilu

Adapun politik dan kegiatan pemilu sangat berbeda prinsipprinsip dasarnya. Ini penting dipahami bersama mengingat sekarang ini Indonesia sah-sah saja disebut sebagai ”negara pilkada”. Hitung saja berapa jumlah provinsi dan berapa jumlah kabupaten,maka praktis tiada hari tanpa pilkada kalau saja diselenggarakan secara terpisah-pisah. Lucunya, sekarang ini pemilu sudah mendekati seperti pasar.

Dalam politik, orang maju bukan mewakili dirinya sendiri, tetapi ada komunitas yang dibela. Ada agenda yang diperjuangkan untuk memenuhi hajat masyarakat banyak. Makanya di situ ada istilah keterwakilan, bukannya setiap calon menjajakan dirinya. Yang terjadi sekarang ini, banyak calon legislator (caleg) menjajakan diri dengan memasang baliho, di bawah bayang-bayang foto tokoh yang dianggap berpengaruh, lalu didukung oleh logo partai politik (parpol).

Pertanyaannya, apakah para caleg itu betul-betul paham dan sejalan dengan visi dan misi parpol yang telah memberikan tiket untuk maju? Agak nakal lagi, apakah parpol itu juga memiliki visi, misi, dan program yang jelas untuk membela dan memperbaiki nasib masyarakat? Apakah parpol selama ini melakukan pendidikan dan pembelaan pada nasib rakyat yang dibujuk untuk memilih dirinya?

Kalau semua pertanyaan itu jawabannya negatif, politik dan pemilu tak ubahnya dengan pasar karena yang dominan adalah agenda kepentingan individu. Bahkan situasinya lebih buruk. Mengapa? Karena transaksi dalam pasar ada unsur transparansi dan ekuivalensi antara uang dan barang, keduanya saling menerima secara suka rela dan unsur bohong-membohongi sangat kecil.Baik pembeli maupun penjual ketika pulang dari pasar tidak merasa ada yang menipu dan ditipu.

Saya sendiri selalu berusaha berpikir positif dan penuh harap bahwa politik kita akan semakin sehat meski butuh proses lama. Namun mengamati mereka yang aktif di politik sebagian tidak begitu meyakinkan kualitas intelektual dan integritasnya, yang kemudian mengemuka adalah perilaku para elite bangsa ini yang terkesan semakin bodoh. Cara menarik simpati rakyat tidak terlihat elegan. Tak ada gagasan cemerlang, yang magnetis dan memiliki daya gravitasi sehingga gagasannya menjadi bahan pembicaraan dalam masyarakat.

Padahal suasana krisis Indonesia di penghujung era Soeharto dan kondisi saat ini tak jauh beda.Bahkan dalam beberapa aspek justru ke depan ini potensinya lebih gawat setelah perubahan UUD dan ekses euforia demokrasi yang vibrasinya sulit distop. Belum lagi ekses krisis keuangan global. Namun semua itu tenggelam oleh riuh-rendah dan hiruk-pikuk pasar politik yang para aktor utamanya tengah saling menjajaki dan tawarmenawar untuk merger.

Pasar politik diramaikan oleh para aktor lama yang mengejar the last flight, bahkan kemudian merakit pesawat sendiri berupa parpol baru, tetapi dikhawatirkan kandas begitu take off. Tidak cukup bahan bakar dan cuaca tidak mendukung. Berpolitik tanpa agenda yang jelas untuk memperjuangkan rakyat, dengan nurani dan nalar sehat, sama halnya mengkhianati demokrasi dan jati diri sebuah parpol. Panggung politik lalu berubah menjadi opera sabun dengan ongkos produksi yang amat mahal,alur cerita yang konyol,penonton semakin berkurang, dan aktor-aktornya pun akan turun pamornya.

Proses politik yang tengah berlangsung ini menyiratkan suatu hal bahwa negara itu begitu dominan perannya dalam kehidupan masyarakat. Maka orang harus masuk dan mengendalikan pemerintahan melalui instrumen negara kalau ingin membangun bangsanya.Kenyataan ini mestinya disadari oleh para intelektual dan tokoh-tokoh agama. Jika mereka hanya sibuk membangun institusinya sendiri tanpa memberikan kontribusi konstruktif pada penguatan dan kemajuan negara, kohesi sosial kita sebagai sebuah bangsa akan rapuh dan stagnan.

Salah satu pintu menyumbangkan gagasan dan perwakilannya adalah melalui mekanisme pemilihan umum. Namun, lagi-lagi disayangkan,instrumen peraturan dan perundang-undangan politik yang ada malah menghambat putra-putra terbaik bangsa ini untuk masuk ke parlemen. Jika parpol tidak sehat, bahkan berubah menjadi pasar yang dipenuhi calocalo, copet, dan penjual obat yang senang membual, aset institusi sosial kita malah saling bertabrakan, bukannya bersinergi.

Di sana ada lembaga parpol, lembaga perguruan tinggi, lembaga agama, lembaga ekonomi, dan sekian lembaga lain yang merupakan aset sosial yang lalu saling mengkritik dan menghujat dalam rumah yang sama: Indonesia. Kita perlu belajar dari pengalaman bangsa Jerman yang dikenal sangat maju, rasional, dan melahirkan pemikir besar dunia. Tapi justru di negara itu pernah muncul Nazi sebagai antitesis kebebasan berpikir dan berserikat tanpa saling berendah hati menciptakan sinergi dan simfoni kultur politik.

Maka terjadilah antiklimaks,from rationality into irrationality. Dalam bahasa prokem, para elite itu menjadi pin-pin-bo, pinterpinter bodo. Persis petinju yang sudah laku dan terkenal lalu bernafsu untuk menggilas lawan secepatnya, maka nalar sehat, penampilan indah, dan cerdas lalu hilang. Di situlah yang membedakan Muhammad Ali dari petinju lain.Dia main dengan memadukan otak dan seni serta menghibur penontonnya. Dia the real boxer, bukannya brutal fighter.(*)

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Seputar Indonesia, 27 Maret 2009

Beda Pemilu dan Pasar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

KETIKA kecil,saya sering jalan-jalan ke pasar. Pada hari-hari tertentu, pasar sangat ramai. Dari kejauhan sudah terdengar suara riuh bagaikan suara gerombolan lebah.

Pengunjung berdesakan di tengah suara celoteh sahut-menyahut, tawar-menawar harga. Di sudut pasar yang agak lapang, biasanya ada tontonan komedi, sulap, dan akrobat sepeda. Setelah pengunjung berdatangan, mulailah pemain tadi membuka dagangannya menawarkan obat yang, katanya, bisa menyembuhkan seratus satu macam penyakit.Jadi,di balik penampilan sulap, akrobat, dan cerita soal kehebatannya pernah berkeliling Indonesia dengan sepeda, ujungnya ia menawarkan obat kuat dengan harga murah,terjangkau.

Meski pasar itu meriah dan hiruk-pikuk, cirinya yang menonjol adalah setiap pengunjung hanya berpikir untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri.Mereka berkumpul di satu tempat, tidak untuk berserikat, dan kehadirannya tidak disatukan oleh visi dan misi.Berapa mereka hendak membelanjakan uang, tergantung kemampuannya dan perhitungan untung ruginya,juga seleranya.

Politik dan Pemilu

Adapun politik dan kegiatan pemilu sangat berbeda prinsipprinsip dasarnya. Ini penting dipahami bersama mengingat sekarang ini Indonesia sah-sah saja disebut sebagai ”negara pilkada”. Hitung saja berapa jumlah provinsi dan berapa jumlah kabupaten,maka praktis tiada hari tanpa pilkada kalau saja diselenggarakan secara terpisah-pisah. Lucunya, sekarang ini pemilu sudah mendekati seperti pasar.

Dalam politik, orang maju bukan mewakili dirinya sendiri, tetapi ada komunitas yang dibela. Ada agenda yang diperjuangkan untuk memenuhi hajat masyarakat banyak. Makanya di situ ada istilah keterwakilan, bukannya setiap calon menjajakan dirinya. Yang terjadi sekarang ini, banyak calon legislator (caleg) menjajakan diri dengan memasang baliho, di bawah bayang-bayang foto tokoh yang dianggap berpengaruh, lalu didukung oleh logo partai politik (parpol).

Pertanyaannya, apakah para caleg itu betul-betul paham dan sejalan dengan visi dan misi parpol yang telah memberikan tiket untuk maju? Agak nakal lagi, apakah parpol itu juga memiliki visi, misi, dan program yang jelas untuk membela dan memperbaiki nasib masyarakat? Apakah parpol selama ini melakukan pendidikan dan pembelaan pada nasib rakyat yang dibujuk untuk memilih dirinya?

Kalau semua pertanyaan itu jawabannya negatif, politik dan pemilu tak ubahnya dengan pasar karena yang dominan adalah agenda kepentingan individu. Bahkan situasinya lebih buruk. Mengapa? Karena transaksi dalam pasar ada unsur transparansi dan ekuivalensi antara uang dan barang, keduanya saling menerima secara suka rela dan unsur bohong-membohongi sangat kecil.Baik pembeli maupun penjual ketika pulang dari pasar tidak merasa ada yang menipu dan ditipu.

Saya sendiri selalu berusaha berpikir positif dan penuh harap bahwa politik kita akan semakin sehat meski butuh proses lama. Namun mengamati mereka yang aktif di politik sebagian tidak begitu meyakinkan kualitas intelektual dan integritasnya, yang kemudian mengemuka adalah perilaku para elite bangsa ini yang terkesan semakin bodoh. Cara menarik simpati rakyat tidak terlihat elegan. Tak ada gagasan cemerlang, yang magnetis dan memiliki daya gravitasi sehingga gagasannya menjadi bahan pembicaraan dalam masyarakat.

Padahal suasana krisis Indonesia di penghujung era Soeharto dan kondisi saat ini tak jauh beda.Bahkan dalam beberapa aspek justru ke depan ini potensinya lebih gawat setelah perubahan UUD dan ekses euforia demokrasi yang vibrasinya sulit distop. Belum lagi ekses krisis keuangan global. Namun semua itu tenggelam oleh riuh-rendah dan hiruk-pikuk pasar politik yang para aktor utamanya tengah saling menjajaki dan tawarmenawar untuk merger.

Pasar politik diramaikan oleh para aktor lama yang mengejar the last flight, bahkan kemudian merakit pesawat sendiri berupa parpol baru, tetapi dikhawatirkan kandas begitu take off. Tidak cukup bahan bakar dan cuaca tidak mendukung. Berpolitik tanpa agenda yang jelas untuk memperjuangkan rakyat, dengan nurani dan nalar sehat, sama halnya mengkhianati demokrasi dan jati diri sebuah parpol. Panggung politik lalu berubah menjadi opera sabun dengan ongkos produksi yang amat mahal,alur cerita yang konyol,penonton semakin berkurang, dan aktor-aktornya pun akan turun pamornya.

Proses politik yang tengah berlangsung ini menyiratkan suatu hal bahwa negara itu begitu dominan perannya dalam kehidupan masyarakat. Maka orang harus masuk dan mengendalikan pemerintahan melalui instrumen negara kalau ingin membangun bangsanya.Kenyataan ini mestinya disadari oleh para intelektual dan tokoh-tokoh agama. Jika mereka hanya sibuk membangun institusinya sendiri tanpa memberikan kontribusi konstruktif pada penguatan dan kemajuan negara, kohesi sosial kita sebagai sebuah bangsa akan rapuh dan stagnan.

Salah satu pintu menyumbangkan gagasan dan perwakilannya adalah melalui mekanisme pemilihan umum. Namun, lagi-lagi disayangkan,instrumen peraturan dan perundang-undangan politik yang ada malah menghambat putra-putra terbaik bangsa ini untuk masuk ke parlemen. Jika parpol tidak sehat, bahkan berubah menjadi pasar yang dipenuhi calocalo, copet, dan penjual obat yang senang membual, aset institusi sosial kita malah saling bertabrakan, bukannya bersinergi.

Di sana ada lembaga parpol, lembaga perguruan tinggi, lembaga agama, lembaga ekonomi, dan sekian lembaga lain yang merupakan aset sosial yang lalu saling mengkritik dan menghujat dalam rumah yang sama: Indonesia. Kita perlu belajar dari pengalaman bangsa Jerman yang dikenal sangat maju, rasional, dan melahirkan pemikir besar dunia. Tapi justru di negara itu pernah muncul Nazi sebagai antitesis kebebasan berpikir dan berserikat tanpa saling berendah hati menciptakan sinergi dan simfoni kultur politik.

Maka terjadilah antiklimaks,from rationality into irrationality. Dalam bahasa prokem, para elite itu menjadi pin-pin-bo, pinterpinter bodo. Persis petinju yang sudah laku dan terkenal lalu bernafsu untuk menggilas lawan secepatnya, maka nalar sehat, penampilan indah, dan cerdas lalu hilang. Di situlah yang membedakan Muhammad Ali dari petinju lain.Dia main dengan memadukan otak dan seni serta menghibur penontonnya. Dia the real boxer, bukannya brutal fighter.(*)

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Seputar Indonesia, 27 Maret 2009