Dalam mengajar sebuah materi pelajaran, baik oleh guru, dosen, maupun oleh siapapun yang melakukan tugas mengajar, ada tiga hal pokok yang berkaitan dengan proses pengajaran yang harus diperhatikan, yaitu pendekatan (approach), metode (methode), dan teknik (technique). Setiap pengajar harus memiliki persiapan yang berkaitan dengan tiga hal itu.

Pendekatan adalah filosofi yang berkaitaan dengan apa yang harus diajarkan. Dengan pendekatan ini seorang pengajar harus mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam pengajaran itu. Metode adalah cara yang dilakukan untuk menyampaikan materi pelajaran. Pengajar harus mencari cara yang tepat untuk menyampaikan sebuah materi pelajaran kepada peserta didik. Ada sekian banyak metode yang dapat dipilih dan disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Dengan metode, sebuah pelajaran akan dapat disampaikan dengan baik kepada peserta didik. Untuk setiap pelajaran, bahkan setiap materi boleh jadi berbeda metode pengajarannya. Teknik adalah strategi yang dilakukan oleh pengajar dalam menyampaikan pelajaran sesuai dengan konteks dan situasi pada saat pelajaran itu diajarkan.

Dengan pendekatan, seorang pengajar dapat memahami, menentukan dan mempersiapkan apa yang harus dipersiapkannya sebelum memasuki kelas untuk mengajar. Metode adalah cara yang dipilih untuk menyampaikan pelajaran yang sesuai dangan materi yang akan diajarkan. Teknik adalah strategi yang dilakukan pada saat pelajaran diajarkan. Dua hal pertama, pendekatan dan metode adalah dua hal yang harus dipersiapkan sebelum memasuki kelas. Sedangkan teknik adalah suatu yang harus dilakukan pada saat pengajaran sedang berlangsung. Kalau ketiga hal ini dapat dilakukan dengan baik, maka proses pengajaran akan berjalan dengan baik, dan pelajaran yang disampaikan akan mudah diterima oleh peserta didik.

Di samping ketiga hal itu, ada beberapa hal lain lagi yang harus dilakukan oleh pengajar, yaitu hal-hal berikut:

Pertama, sebelum masuk kelas, berniatlah melakukan tugas mengajar itu untuk memberikan ilmu kepada mereka. Dengan niat yang tulus, setiap guru akan dapat melaksanakan tugasnya itu dengan sabar dan tekun meski dia mendapatkan banyak tantangan dalam mengajar. Berniatlah untuk mengajar dan mendidik, bukan berniat untuk yang lain.

Kedua, sebelum masuk kelas persiapkan bahan-bahan yang diajarkan itu dengan baik. Saat itu sudah kita tentukan apa yang harus dilakukan di awal jam pelajaran itu, apa yang harus dilakukan di tengah pengajaran, dan apa pula yang harus diberikan di akhir pelajaran. Rencana pemberian materi itu sudah ditata dan diurutkan dengan baik secara tertib, beruntun, dan sistematik.

Ketiga, sebelum masuk kelas kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Bagaimana seharusnya kita berpakaian, bagaimana seharusnya kita berpenampilan di dalam kelas, dan bagaimana pula seharusnya kita bersikap ketika kita berada di dalam kelas. Penampilan yang baik akan menimbulkan kesan yang baik dari peserta didik. Penampilan yang tidak teratur akan menimbulkan kesan buruk bagi peserta didik.

Keempat, di dalam kelas kita harus menunjukkan kepada mereka sikap disiplin, ketepatan dalam kehadiran di dalam kelas, ketepatan dalam menyajikan materi pelajaran, dan ketepatan kita mengakhiri waktu mengajar sesuai dengan waktu yang ditentukan. Sikap ini melahirkan kesan bahwa kita disiplin.

Kelima, kita harus memandang bahwa semua murid yang kita ajar bagaikan anak kita sendiri. Kalau kita memandang bahwa mereka adalah anak kita, maka pastilah kita akan menyayangi dan mencintai mereka layaknya kita menyayangi dan mencintai anak kita sendiri. Kalau kita menyayangi dan mencintai mereka, maka pasti mereka menyayangi, mencintai, dan bahkan menghormati kita. Kita akan dipandangnya sebagai ayah mereka, orang tua mereka, dan orang yang harus mereka hormati.

Keenam, kita harus menyamakan mereka, tidak boleh diskriminatif terhadap mereka. Mereka semua harus sama dalam pandangan kita. Tidak boleh ada perbedaan di antara semua pelajar dan mahasiswa yang kita ajar. Yang pintar, yang kurang pintar, dan tidak pintar, kita harus berlakukan sama. Yang memiliki kekebihan dan yang tidak memiliki kelebihan, kita harus berlakukan sama di mata kita. Yang keluarga kita dan bukan keluarga kita, kita harus berlakukan sama. Dengan begitu, mereka merasa bahwa gurunya adalah orang yang adil bagi mereka.

Ketujuh, pengetahuan yang mereka miliki berbeda-beda. Ada yang lebih tinggi pengetahuannya tentang materi yang kita ajarkan, dan ada pula yang lebih rendah. Kita harus menyeimbangkan dalam memberikan pengetahuan itu. Sekali-sekali kita layani yang tinggi pengetahuan, sekali-sekali kita layani yang rendah pengetahuannya. Jangan hanya mengikuti yang lebih tinggi ilmunya, dan jangan pula kita mengikuti yang kebuh rendah pengetahuan.

Kedelapan, dalam menyampaikan materi pelajaran, gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka. Jangan menggunakan kata-kata yang sulit dipahami mereka, dan jangan pula menggunakan kalimat yang panjang-panjang. Kata Rasulullah, “Bicaralah dengan orang lain sesuai dengan kemampuan mereka.”

Kesembilan, kita harus menunjukkan sikap demokratis, toleran, dan apa adanya kepada mereka. Jadikanlah murid-murid itu adalah mitra kita dalam pembelajafan. Sebab, kita busa menjadi guru karena ada murid, dan mereka bisa menjadi murid karena ada guru. Kalau murid tidak ada, maka guru pun tidak ada. Tunjukkanlah kepada mereka, bahwa kita adalah orang yang sangat dekat dengan mereka, bukan orang yang asing dari mereka. Dengan begitu, mereka tidak takut tehadap kita, tetapi merasa segan kepada kita.

Terakhir, yang tidak kalah pentingnya adalah berdoa. Setiap guru harus berdoa kepada Allah agar ilmu yang diajarkannya ditanamkan Allah di dalam hati sanubari mereka. Berdoa tidak harus secara terbuka dan ramai-ramai dengan semua pelajarnya. Tetapi cukup dengan berdoa di dalam hati, baik sebelum memulai pengajaran maupun sesudahnya.

Dengan langkah-langkah ini, in syaa Allah, ilmu yang diajarkan kepada mereka akan mudah masuk, mudah dipahami, dan mudah dimengerti oleh para pelajar. Semoga Allah menjadikan ilmu yang kita ajarkan menjadikan para murid kita orang-orang yang berilmu. Pendidikan yang kita berikan menjadikan mereka orang-orang terdidik dan berpendidikan. Semoga kita menjadi guru yang tabah, sabar, dan tekun dalam melaksanakan tugas mulia sebagai guru, dosen, atau apa pun namanya. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawaab.

Ahmad Thib Raya, Guru Besar Bahasa Arab dan Dekan FITK UIN Jakarta