Bassam Tibi: “Islam Progresif untuk Peradaban Tinggi Islam”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Irma Wahyuni

Syahida Inn, UINJKT Online – Guru besar University of Goettingen Jerman Prof Bassam Tibi PhD mengatakan, umat Islam perlu melakukan pemikiran Islam progresif karena Islam harus mengadakan perubahan.

“Islam progresif adalah pencerahan dalam perdamaian dan harmonisasi rasionalisme Islam. Karena itu, umat Islam membutuhkan Islam progresif untuk melakukan perubahan yang lebih baik dalam semua aspek untuk menciptakan peradaban tinggi Islam,” ujarnya dalam International Conference, Debating Progressive Islam: A Global Perspective yang digelar Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta-McGill University di Gedung Syahida Inn pada hari kedua, Minggu (26/7).

Menurutnya, selama ini yang banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia adalah Barat. Padahal, Islam sebenarnya juga mampu melakukan inovasi untuk kemajuan IPTEK dalam rangka membangun peradaban yang lebih tinggi.

Ia melanjutkan, selama ini Islam masih banyak dipahami sebagai sebuah ajaran yang terkait dengan nilai-nilai tradisi dan pemkiran lama. “Nampaknya masih minim sekali apresiasi orang-orang Islam di Indonesia terhadap ilmu pengetahuan sehingga makna ulama di mata mereka hanyalah orang-orang yang dikultuskan sebagai guru besar Islam di masyarakat dengan atribut-atribut khas Islam,” jelasnya.

Paradigma seperti inilah yang harus diubah dari masyarakat untuk menuju Islam yang lebih progresif.

Bassam Tibi mengatakan, memang pembahasan antara pemikiran Islam klasik dan Islam progresif perlu didiskusikan dalam bagian tersendiri. Namun, Muslim perlu mengetahui kunci menuju Islam progresif itu sendiri, yakni perubahan.

“Sebenarnya, perubahan dan peradaban itu sendiri merupakan bagian dari pemikiran Islam progresif,” kata Tibi.

Perubahan yang dia maksud adalah perubahan kebudayaa, perubahan cara berfikir, perubahan dalam hal apresiasi terhadap dunia pendidikan, Perubahan untuk membangkitkan rasionalitas Islam, mengimplementasikannya dalam ruang internal dan mensosialisasikannya di mata internasional.

Hal yang sama ditegaskan Rektor UIN Yogyakarta Prof Dr Amin Abdullah. Ia mengatakan, pemikiran Islam progresif meliputi perubahan dalam hal kemajuan pada bidang pengajaran Islam yang harus dimotivasi dengan respon-respon positif.

Selain itu, dia mengatakan, Islam progresif juga meliputi perubahan terhadap pemahaman Islam yang harus kontekstual, di mana perubahan waktu dan perbedaan tempat harus menjadi kunci untuk menginterpretasikan doktrin-doktin agama.

Yang tidak kalah penting, lanjutnya, adalah humanisme. “Humanisme dalam Islam dipahami sebagai sebuah ajaran yang memiliki kemampuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan kemanusiaan secara universal terlepas dari perbedaan agama dan suku,” tandasnya.

 

Bassam Tibi: “Islam Progresif untuk Peradaban Tinggi Islam”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Irma Wahyuni

Syahida Inn, UINJKT Online – Guru besar University of Goettingen Jerman Prof Bassam Tibi PhD mengatakan, umat Islam perlu melakukan pemikiran Islam progresif karena Islam harus mengadakan perubahan.

“Islam progresif adalah pencerahan dalam perdamaian dan harmonisasi rasionalisme Islam. Karena itu, umat Islam membutuhkan Islam progresif untuk melakukan perubahan yang lebih baik dalam semua aspek untuk menciptakan peradaban tinggi Islam,” ujarnya dalam International Conference, Debating Progressive Islam: A Global Perspective yang digelar Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta-McGill University di Gedung Syahida Inn pada hari kedua, Minggu (26/7).

Menurutnya, selama ini yang banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia adalah Barat. Padahal, Islam sebenarnya juga mampu melakukan inovasi untuk kemajuan IPTEK dalam rangka membangun peradaban yang lebih tinggi.

Ia melanjutkan, selama ini Islam masih banyak dipahami sebagai sebuah ajaran yang terkait dengan nilai-nilai tradisi dan pemkiran lama. “Nampaknya masih minim sekali apresiasi orang-orang Islam di Indonesia terhadap ilmu pengetahuan sehingga makna ulama di mata mereka hanyalah orang-orang yang dikultuskan sebagai guru besar Islam di masyarakat dengan atribut-atribut khas Islam,” jelasnya.

Paradigma seperti inilah yang harus diubah dari masyarakat untuk menuju Islam yang lebih progresif.

Bassam Tibi mengatakan, memang pembahasan antara pemikiran Islam klasik dan Islam progresif perlu didiskusikan dalam bagian tersendiri. Namun, Muslim perlu mengetahui kunci menuju Islam progresif itu sendiri, yakni perubahan.

“Sebenarnya, perubahan dan peradaban itu sendiri merupakan bagian dari pemikiran Islam progresif,” kata Tibi.

Perubahan yang dia maksud adalah perubahan kebudayaa, perubahan cara berfikir, perubahan dalam hal apresiasi terhadap dunia pendidikan, Perubahan untuk membangkitkan rasionalitas Islam, mengimplementasikannya dalam ruang internal dan mensosialisasikannya di mata internasional.

Hal yang sama ditegaskan Rektor UIN Yogyakarta Prof Dr Amin Abdullah. Ia mengatakan, pemikiran Islam progresif meliputi perubahan dalam hal kemajuan pada bidang pengajaran Islam yang harus dimotivasi dengan respon-respon positif.

Selain itu, dia mengatakan, Islam progresif juga meliputi perubahan terhadap pemahaman Islam yang harus kontekstual, di mana perubahan waktu dan perbedaan tempat harus menjadi kunci untuk menginterpretasikan doktrin-doktin agama.

Yang tidak kalah penting, lanjutnya, adalah humanisme. “Humanisme dalam Islam dipahami sebagai sebuah ajaran yang memiliki kemampuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan kemanusiaan secara universal terlepas dari perbedaan agama dan suku,” tandasnya.