Bangsa Indonesia Perlu Miliki Paradigma Kelautan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Ruang Sidang Utama, UIN Online – Bangsa Indonesia sudah lama dikenal sebagai bangsa bahari. Namun, predikat itu kini seakan terlupakan karena pembangunan lebih berorientasi kepada kedaratan (kontinental) atau terpusat di daratan. Padahal, sebagaimana halnya daratan, lautan banyak memiliki potensi dan solusi dalam upaya memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Hal itu dikemukakan penulis buku Al-Qur’an dan Lautan (diterbitkan Mizan tahun 2004) Agus S Djamil MSc dalam diskusi di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat, Jumat (17/12). “Kekeliruan besar jika menganggap lautan sebagai kendala pembangunan. Padahal lautan justru merupakan solusi bagi tumpukan persoalan hidup di negara kita,” katanya.

Dia mengatakan, secara tidak disadari, paradigma kedaratan telah mengental di benak bangsa Indonesia. Misalnya gagasan pembangunan jembatan antarpulau lebih mengemuka ketimbang membangun jaringan pelabuhan di 18.000 kepulauan nusantara yang tersebar di antara dua samudera. Kekeliruan cara pandang dan penentuan kebijakan pembangunan seperti itu perlu dikoreksi. Bangsa Indonesia perlu menggeser pemikiran dari paradigma pembangunan berwawasan kedaratan ke wawasan kelautan.

“Kekeliruan berpikir seperti itu tak hanya dialami bangsa dan umat Islam Indonesia, tetapi juga sejumlah negeri berpenduduk mayoritas muslim lain,” tandasnya.

Dia juga mengingatkan bahwa umat Islam mengalami kemunduran disebabkan kurang berwawasan kelautan. Dalam al-Qur’an sendiri, jelasnya, posisi kelautan itu sangat unik. Kata “laut” dalam al-Qur’an banyak disebut ketimbang kata “darat”. Sedikitnya ada 43 ayat yang menyebut kata “laut”, sedangkan kata “darat” hanya disebut 13 ayat. Artinya “ayat-ayat laut” merupakan salah satu mukjizat Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah SAW di padang pasir lebih dari 14 abad silam.

“Lautan” dan “ayat-ayat laut” itu selain dapat menambah keimanan dan ketakwaan umat Islam, juga menjadi petunjuk serta rahmat Allah SWT. Al-Qur’an dan lautan adalah dua sunnatullah yang saling menjelaskan. Karena itu bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, yang berada di negeri kepulauan selayaknya “membaca” sunnatullah ini agar mampu menuai karunia keduanya.

Paradigma kelautan, kata pria yang kini bermukim di Brunei Darussalam ini, adalah cara pandang dan pola pemikiran yang mengimani bahwa lautan tak lain sebagai sarana yang disediakan Allah SWT untuk manusia. Paradigma kelautan sangat diperlukan untuk menggeser paradigma kedaratan, sehingga dapat mengejewantahkan rahmat Allah SWT untuk membangun bangsa dan negara.

“Jadi, dalam paradigma baru (kelautan) yang belandaskan al-Qur’an, kita akan pandang sebagai solusi, dan bukan lagi sebagai kendala bagi pembangunan,” katanya.

Diskusi yang belangsung selama sekitar dua jam itu dihadiri  sejumlah guru besar dan pejabat UIN Jakarta. (ns)