Bangsa Indonesia Harus Bercermin pada Akhlak Rasulullah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah

Masjid Al Jamiah, UINJKT Online- Bangsa Indonesi saat ini tidak hanya krisis ekonomi yang berkepanjangan akan tetapi sudah memasuki krisis akhlak. Merajalelalanya kemaksiatan dan tingginya tingkat kriminalitas merupakan bukti bangsa ini mengidap dekadensi moral yang akut, untuk itu bangsa Indonesia harus bercermin pada akhlak Rasulallah.

“Terpaan berbagai krisis dan bencana yang melanda Indonesia saat ini, mulai dari krisis ekonomi-moneter, kerusuhan antar etnis-sara, perebutan jabatan, krisis hukum-keamanan, sosial politik serta berbagai krisis multidimensional lainnya, membuat masyarakat kehilangan panutan yang tidak bisa menyelesaikan masalah,” ujar Dr Ahmad Dardiri MA saat memberikan tausiahnya kepada sivitas akademika di Masjid Al Jamiah SC, Jumat (6/2).

Atas kejadian ini, sehingga membuat masyarakat Indonesia memudar kepercayaan terhadap para pemimpin bangsa ini. Karena itu, bangsa yang berpenduduk mayoritas Muslim ini perlu bercermin kepada akhlak Rasulullah SAW agar bangsa menjadi sehat dan masyarakat menjadi makmur dan sejahtera.

“Rasulullah memerintah kita untuk bersatu, tapi kita malah bercerai berai. Tidak hanya berbecerai-berai, kita malah “gontok-gontokan” sesama kita sendiri. Satu kelompok menyatakan dirinya lebih unggul untuk mengemban tanggungjawabnya terhadap masyarakat yang lebih bijaksana daripada kelompok lain,” katanya.

Padahal semua kejadian di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti, dengan hal itu para pemimpin diupayakan jangan hanya bisanya memanfaatkan jabatannya saja, akan tetapi lebih dari itu karena para pemipmpin harus professional dalam menangani permasalahan yang ada.

“Para pemimpin umat dan para ulama. Jangan sibuk mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara daripada memikirkan kepentingan umat. Kemudian bersilat lidah dan bermain-main dengan kebohongan bukanlah hal yang baik untuk dijadikan sebagai panutan masyarakat,” tuturnya.

Para pemimpin diupayakan harus bercermin pada akhlah Rasulallah SAW yang dikenang hingga kini di seluruh jagad oleh miliaran manusia, bukan saja karena ajaran keagamaan yang diembannya, melainkan terutama karena kemuliaan akhlak yang dimilikinya.

Rasulullah merupakan seorang yang lemah lembut, sopan,pemaaf. Akan tetapi malah umatnya yang sering marah-marah, berbuat anarkis tidak professional dalam menjalankan tanggungjawabnya. Bukankah hal itu bertentangan secara diametral dengan akhlak Rasulullah Saw. (Nif/Ed)

Bangsa Indonesia Harus Bercermin pada Akhlak Rasulullah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah

Masjid Al Jamiah, UINJKT Online- Bangsa Indonesi saat ini tidak hanya krisis ekonomi yang berkepanjangan akan tetapi sudah memasuki krisis akhlak. Merajalelalanya kemaksiatan dan tingginya tingkat kriminalitas merupakan bukti bangsa ini mengidap dekadensi moral yang akut, untuk itu bangsa Indonesia harus bercermin pada akhlak Rasulallah.

“Terpaan berbagai krisis dan bencana yang melanda Indonesia saat ini, mulai dari krisis ekonomi-moneter, kerusuhan antar etnis-sara, perebutan jabatan, krisis hukum-keamanan, sosial politik serta berbagai krisis multidimensional lainnya, membuat masyarakat kehilangan panutan yang tidak bisa menyelesaikan masalah,” ujar Dr Ahmad Dardiri MA saat memberikan tausiahnya kepada sivitas akademika di Masjid Al Jamiah SC, Jumat (6/2).

Atas kejadian ini, sehingga membuat masyarakat Indonesia memudar kepercayaan terhadap para pemimpin bangsa ini. Karena itu, bangsa yang berpenduduk mayoritas Muslim ini perlu bercermin kepada akhlak Rasulullah SAW agar bangsa menjadi sehat dan masyarakat menjadi makmur dan sejahtera.

“Rasulullah memerintah kita untuk bersatu, tapi kita malah bercerai berai. Tidak hanya berbecerai-berai, kita malah “gontok-gontokan” sesama kita sendiri. Satu kelompok menyatakan dirinya lebih unggul untuk mengemban tanggungjawabnya terhadap masyarakat yang lebih bijaksana daripada kelompok lain,” katanya.

Padahal semua kejadian di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti, dengan hal itu para pemimpin diupayakan jangan hanya bisanya memanfaatkan jabatannya saja, akan tetapi lebih dari itu karena para pemipmpin harus professional dalam menangani permasalahan yang ada.

“Para pemimpin umat dan para ulama. Jangan sibuk mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara daripada memikirkan kepentingan umat. Kemudian bersilat lidah dan bermain-main dengan kebohongan bukanlah hal yang baik untuk dijadikan sebagai panutan masyarakat,” tuturnya.

Para pemimpin diupayakan harus bercermin pada akhlah Rasulallah SAW yang dikenang hingga kini di seluruh jagad oleh miliaran manusia, bukan saja karena ajaran keagamaan yang diembannya, melainkan terutama karena kemuliaan akhlak yang dimilikinya.

Rasulullah merupakan seorang yang lemah lembut, sopan,pemaaf. Akan tetapi malah umatnya yang sering marah-marah, berbuat anarkis tidak professional dalam menjalankan tanggungjawabnya. Bukankah hal itu bertentangan secara diametral dengan akhlak Rasulullah Saw. (Nif/Ed)