BAN-PT Akreditasi Program Doktor

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung SPs, UIN Online – Tim Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) mengadakan visitasi ke Sekolah Pascasarjana (SPs), Jumat (14/5). Visitasi dilakukan terkait pengakreditasian Program Doktor (S3) dalam bidang Kajian Islam.

Pertemuan Tim Asesor yang terdiri atas Prof Dr Yusni Saby dan Prof Dr Allef Theria Wasim itu berlangsung di Ruang Resource Center lantai dua Gedung SPs. Tim didampingi Deputi Direktur Bidang Akademik dan Kerja Sama Dr Fuad Jabali, Deputi Direktur Bidang Pengembangan Lembaga Prof Dr Suwito, dan Deputi Bidang Kemahasiswaan Dr Ujang Thalib. Pejabat UIN Jakarta lainnya yang hadir adalah Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Prof Dr dr MK Tadjudin, Dekan Fakultas Ushuluddin Prof Dr Zainun Kamaluddin Fakih, dan Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Dr Arief Subhan. Juga tampak mantan Menteri Pendidikan Nasional dan mantan Menteri Agama Prof Dr A Malik Fadjar.

Fuad Jabali menyatakan, SPs dalam empat tahun belakangan telah mengalami beberapa perubahan kebijakan dan orientasi. Dalam bidang akademik misalnya, perubahan tak hanya menyangkut kurikulum tetapi juga dalam metodologi pembelajarannya.

“Kita menggunakan kurikulum berbasis riset, sementara metodologi pengajaran di antaranya menggunakan team teaching, yakni satu mata kuliah diampu oleh beberapa tenaga pengajar,” ujarnya.

Kebijakan lain, menurut Fuad, proses rekrutmen calon mahasiswa dilakukan sedikit “ketat”. Hal ini dimaksudkan agar SPs memperoleh calon-calon mahasiswa unggulan, baik dalam hal penguasaan bahasa asing maupun kemampuan di bidang riset. Karena itu, pada awal-awal perkuliahan mahasiswa SPs tak diperkenankan mengambil mata kuliah sebelum lulus kemampuan bahasa asing atau syarat-syarat lain yang ditentukan.

“Pada semester awal setiap mahasiswa kita adakan matrikulasi dan remedial bahasa. Memang terkesan ketat tetapi SPs membutuhkan mahasiswa yang berkualitas,” katanya. Bahkan, lanjut dia, untuk dapat diterima di SPs, calon mahasiswa harus memiliki nyali tinggi.

Program Doktor di SPs dibuka tahun 1984 dengan Program Studi Pengkajian Islam. Mulai tahun akademik 1998/1999 dibuka konsentrasi Syari’ah dan kemudian konsentrasi Tafsir Hadis, serta Pemikiran Islam.(ns)

BAN-PT Akreditasi Program Doktor

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung SPs, UIN Online – Tim Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) mengadakan visitasi ke Sekolah Pascasarjana (SPs), Jumat (14/5). Visitasi dilakukan terkait pengakreditasian Program Doktor (S3) dalam bidang Kajian Islam.

Pertemuan Tim Asesor yang terdiri atas Prof Dr Yusni Saby dan Prof Dr Allef Theria Wasim itu berlangsung di Ruang Resource Center lantai dua Gedung SPs. Tim didampingi Deputi Direktur Bidang Akademik dan Kerja Sama Dr Fuad Jabali, Deputi Direktur Bidang Pengembangan Lembaga Prof Dr Suwito, dan Deputi Bidang Kemahasiswaan Dr Ujang Thalib. Pejabat UIN Jakarta lainnya yang hadir adalah Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Prof Dr dr MK Tadjudin, Dekan Fakultas Ushuluddin Prof Dr Zainun Kamaluddin Fakih, dan Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Dr Arief Subhan. Juga tampak mantan Menteri Pendidikan Nasional dan mantan Menteri Agama Prof Dr A Malik Fadjar.

Fuad Jabali menyatakan, SPs dalam empat tahun belakangan telah mengalami beberapa perubahan kebijakan dan orientasi. Dalam bidang akademik misalnya, perubahan tak hanya menyangkut kurikulum tetapi juga dalam metodologi pembelajarannya.

“Kita menggunakan kurikulum berbasis riset, sementara metodologi pengajaran di antaranya menggunakan team teaching, yakni satu mata kuliah diampu oleh beberapa tenaga pengajar,” ujarnya.

Kebijakan lain, menurut Fuad, proses rekrutmen calon mahasiswa dilakukan sedikit “ketat”. Hal ini dimaksudkan agar SPs memperoleh calon-calon mahasiswa unggulan, baik dalam hal penguasaan bahasa asing maupun kemampuan di bidang riset. Karena itu, pada awal-awal perkuliahan mahasiswa SPs tak diperkenankan mengambil mata kuliah sebelum lulus kemampuan bahasa asing atau syarat-syarat lain yang ditentukan.

“Pada semester awal setiap mahasiswa kita adakan matrikulasi dan remedial bahasa. Memang terkesan ketat tetapi SPs membutuhkan mahasiswa yang berkualitas,” katanya. Bahkan, lanjut dia, untuk dapat diterima di SPs, calon mahasiswa harus memiliki nyali tinggi.

Program Doktor di SPs dibuka tahun 1984 dengan Program Studi Pengkajian Islam. Mulai tahun akademik 1998/1999 dibuka konsentrasi Syari’ah dan kemudian konsentrasi Tafsir Hadis, serta Pemikiran Islam.(ns)