Semua warga bangsa pasti mengharapkan keberkahan, kesuksesan, kemakmuran, kedamaian, dan kebahagiaan dalam hidupnya. Cita-cita mulia ini tentu tidak turun dari langit, tetapi harus direalisasikan melalui komitmen kuat semua pihak, usaha sungguh-sungguh, perjuangan tiada henti, bersyukur, perbaikan terus-menerus dan berdoa sepenuh hati.

Cita-cita negeri dan bangsa yang ideal itu pernah diwujudkan oleh negeri Saba’ di bawah pimpinan Ratu Balqis. Hal ini dijelaskan oleh Alquran, “Sungguh, bagi kaum Saba ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianeugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS Saba: [34]: 15).

Sayangnya, cita-cita mulia tersebut tidak selalu mudah diwujudkan karena sebagian kecil dari warga bangsa ini bermental serakah dan tuna peduli terhadap warga bangsa yang terpinggirkan dan termiskinkan akibat kebijakan yang cenderung memihak mereka yang menguasai aset strategis bangsa.

Di tengah melambungnya sejumlah bahan kebutuhan pokok seperti beras, merebaknya penyakit difteri dan gizi buruk, spirit perjuangan untuk mewujudkan baldah thayyibah, negeri yang gema ripah loh jinawi, tidak boleh surut dan melemah.

Salah satu kunci mewujudkan baldah thayyibah adalah menjadi bangsa yang pandai bersyukur. Aneka kekayaan yang melimpah ruah di negeri ini harus dapat disyukuri dan dinikmati oleh mayoritas warga, bukan dikuasai dan dimonopoli oleh segelintir orang yang serakah dan tamak. Ketahanan pangan tidak boleh diserahkan kepada pihak teretentu yang kemudian memonopoli dan mengendalikan harga-harga kebutuhan rakyat sesuka mereka, sehingga harga-harga kebutuhan pokok menjadi sangat mahal dan menyengsarakan rakyat.

Oleh karena itu, sebagai pemengang amanah rakyat, pemerintah harus pandai bersyukur dengan mengembangkan manajemen ketahanan pangan yang berpihak kepada rakyat, khususnya para petani dan nelayan, bukan menguntungkan para kapitalis mafia pangan yang serakah.

Negeri yang subur dengan sumber daya alam yang luar biasa ini hendaknya tidak “diingkari” dengan memiskinkan para petani dan nelayan karena kebijakan yang diambil tidak jarang menomorsatukan impor daripada memberdayakan para petani dan nelayan.

Pemiskinan para petani dan nelayan secara struktural dan kultural sejatinya merupakan indikator kurang bersyukurnya pemerintah terhadap karunia yang diberikan Tuhan pada negeri agraris dan maritim ini. (QS an-Nahl [16]: 112).

Baldah thayyibah bukanlah sebuah utopia. Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya sudah membuktikan bahwa negeri yang adil makmur, sejahtera dan bahagia lahir dan batin di Madinah benar-benar dapat diwujudkan secara bersama-sama dan penuh kebersyukuran, termasuk hiudup berdampingan secara harmoni dan toleransi dengan komunitas lain.

Oleh karena itu, ketimpangan dan kesenjangan sosial ekonomi di antara warga bangsa ini harus diatasi sehingga baldah thayyibah tidak sulit direalisasikan. Sikap peduli, saling empati dan simpati, gemar menolong dan berbagi kepada sesama harus menjadi karakter mulia bagi para pemimpin negeri dan mereka yang hidup berkecukupan, bahkan bergelimang kekayaan.

Alquran mengingatkan kita semua agar jangan sampai ada kelompok tertentu yang hidup bermewah-mewahan, sementara sebagian saudara kita menderita kelaparan, gizi buruk, dan hidup di bawah garis kemiskinan. (QS al-Isra [17]: 58).

Dengan demikian, baldah thayyibah harus diperjuangkan secara optimal dengan tidak membiarkan sekelompok warga bangsa yang bersikap tamak, rakus, korup, hidup bermewah-mewahan, hedonis dan permisif. (QS al-Qashas [28]: 58).

Jadi spirit pembangunan menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur itu harus menjadikan bangsa ini saleh: beriman, berilmu, bersyukur, dan berkarakter mulia, dan bukan sebaliknya.

Dr Muhbib A Wahab MA, dosen Program Magister FITK. Sumber: Republika, Sabtu, 20 Januari 2018 (mf)