Bahasa Arab Lebih Berkembang di Era Golobalisasi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Muhammad Nurdin

Gedung FITK, BERITA UIN Online - Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Dr Muhbib Abdul Wahab menjelaskan, di era globalisasi, bahasa Arab tetap eksis, bahkan cenderung mengalami perkembangan signifikan di negara-negara non-Arab. Karena itu, potensi pengembangan bahasa Arab dalam berbagai bidang kehidupan baik sosial, politik, bisnis, dan budaya, tetap besar dan terbuka lebar.

Hal itu dikatakan Muhbib dalam Studium General bertajuk “Jurusan Bahasa Arab Menjawab Tantangan Dunia Kerja” yang diselenggarakan  Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (BEMJ-PBA) FITK, di Teater lantai 3, Kamis (5/05).

Turut hadir Guru Besar FITK Prof Dr Ahmad Thib Raya, Dosen Tamu dari Mesir Dr Muhamed Ali Abdel Azeem, Kajur PBA Dr Ahmad Dardiri, serta sejumlah dosen, mahasiswa dan  peserta lomba Pekan Raya Bahasa dan Seni Arab (PARAB) se-Jabodetabek.

Menurut Muhbib, pencitraan atau stigma bahasa Arab sebagai bahasa yang sulit dan rumit dipelajari tidaklah sepenuhnya benar. Buktinya, banyak orang non-Arab dan sarjana non-muslim yang menekuninya. Mengapa? Ia melanjutkan, sebab bahasa Arab dianggap menarik dan sangat penting sebagai instrumen studi Islam maupun orientalis.

Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan itu menambahkan, setidaknya ada empat orientasi belajar bahasa Arab di era global ini. Pertama, orientasi religius, yaitu belajar bahsa Arab untuk tujuan memahami dan memahamkan ajaran Islam. Orientasi ini dapat berupa belajar keterampilan presentatif. Kedua, orientasi akademik ilmiah, yaitu belajar bahasa Arab untuk tujuan memahami ilmu dan keterampilan bahasa.

Ketiga, orientasi profesional yaitu belajar bahasa Arab untuk keterampilan profesi, praktis atau pragmatis. Dan keempat, orientasi ideologis dan ekonomis, yaitu belajar bahasa Arab untuk memahami dan menggunakan bahasa Arab sebagai media untuk kepentingan orientalisme atau hegemoni sosial, politik, dan ekonomi.

“Jika kita pandai berbahasa baik secara lisan maupun tulis, pekerjaan itu akan lebih mudah didapat. Oleh karena itu, pelajarilah ilmu secara komprehensif dan jangan pernah berputus asa,” pesan Muhbib di akhir perbincangan.

Senada dengan Muhbib, Abdel Azeem menjelaskan, bahasa Arab merupakan kunci utama untuk mengetahui pengetahuan dan kebudayaan Islam. Tanpa bahasa Arab ilmu pengetahuan dan literatur Arab sulit untuk dipahami.

Ia menambahkan, selain sebagai bahasa Agama, bahasa Arab merupakan bahasa pemersatu berbagai suku bangsa pada masa jahiliyyah hingga saat ini. “Bahkan bahasa Arab juga  sudah menjadi bahasa internasional, “ tuturnya.

Dosen Tamu dari Mesir ini menilai,  bahasa Arab bukanlah milik bangsa Arab atau umat Islam saja, tapi milik seluruh umat. Hal ini dapat dilihat dari penggunaanya dalam shalat dan komunikasi antar bangsa.

Di samping itu, ia menambahkan, orientasi belajar bahasa Arab itu banyak tinggal memilih di mana bidang dan kemampuan yang dimiliki. “Mau jadi penerjemah, kerja di Kedubes Arab, atau konsultan luar negeri semua itu harus dengan bahasa Arab,“ ungkapnya.

Acara ini merupakan rangkaian Pekan Raya Bahasa dan Seni Arab (PARAB) BEMJ-PBA ke-7 yang mengusung tema “Bangga dengan Bahasa Arab”. Kegiatan ini berlangsung selama sepekan. Selain studium general, kegiatan ini diisi dengan lomba pidato bahasa Arab, kaligrafi Arab, cerdas cermat, debat bahasa Arab, baca berita, drama bahasa Arab, adzan, seminar nasional, dan temu alumni PBA dari angkatan 1964 hingga tahun 2006. Informasi lengkap mengenai kegiatan ini dapat diakses di www.fitk-uinjkt.ac.id. []