Bahasa, Agama, dan Budaya

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat*

Dari nama saja sudah bisa diduga bahwa saya seorang Muslim. Belajar Islam sejak kecil di lingkungan keluarga dan masjid. Setelah tamat pesantren lalu meneruskan ke Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1974, yang sekarang berkembang menjadi UIN, Universitas Islam Negeri.

Di samping sebagai anak kandung ayah-ibu, saya adalah anak kandung budaya yang mengasuh dan membesarkan diriku. Produk pengasuhan budaya itu terlihat paling nyata dalam aspek bahasa, yaitu bahasa Jawa dan Indonesia. Ada ungkapan klasik: language carries cultures. Dalam bahasa terkandung budaya. Dalam bahasa tersimpan nilai-nilai yang diekspresikan dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui tradisi.

Jadi, dalam diriku terekam dan tertanam nilai-nilai yang berakar kepada tradisi Jawa, Indonesia, dan Islam. Tradisi kejawaan dan keindonesiaan telah berbaur dan sulit dipisahkan. Mungkin juga antara keislaman dan kearaban di Timur Tengah juga saling terkait.

Dalam Pengasuhan Budaya

            Membayangkan keislamanku, pasti telah bercampur dengan nilai-nilai kejawaan, keindonesiaan, dan kearaban. Ditambah lagi mungkin pengaruh studi dan pengalaman saya tinggal di luar negeri non-Arab. Oleh karena itu, saya tak berani menyebut diriku menganut Islam murni.

            Bagi saya, istilah dan pembatasan Islam murni itu mengundang perdebatan. Konsepnya belum jelas. Meski terlahir sebagai orang Jawa, bagi saya yang namanya Jawa murni itu tidak ada. Seseorang itu tumbuh dalam pengasuhan budaya yang didalamnya terdapat unsur-unsur agama. terlebih sekarang kita hidup di era informasi yang telah memungkinkan terjadi banjir informasi merambah ke berbagai kelompok masyarakat tanpa bisa dibendung. Ditambah lagi informasi yang hadir dalam bentuk bahasa gambar membuat dunia terasa semakin sempit sekaligus plural. Perjumpaan antarbudaya dan agama telah melahirkan konflik, tetapi sekaligus juga pengayaan yang berlangsung setiap saat.

            Ketika membaca keislaman saya sendiri, sering kali saya merasakan terjadi dialog dan konflik antara pengaruh tradisi kejawaan, komitmen keindonesiaan, kesetiaan kepada Islam dan juga pengaruh keilmuan literatur filsafat Barat yang pernah saya pelajari. Hati saya sering tergetar dan kagum ketika membayangkan pemuda-pemuda angkatan 1928 yang telah berjuang untuk membangun dan merajut bangsa Indonesia, tetapi tetap menghargai dan menjaga identitas suku serta kekayaan daerah yang begitu beragam. Mereka menghadapi tantangan tidak saja dari imperialis Belanda, tetapi juga dari penguasa-penguasa lokal yang tengah menikmati kekuasaan dan bersahabat dengan penjajah. Cita-cita dan tekad mereka secara resmi menjelma dalam rumah besar negara yang berdaulat pada 17 Agustus 1945, meski proses pematangan konsep kebangsaan masih terus berlangsung hingga hari ini.

            Keterikatan saya kepada tradisi Jawa dan cita-cita keindonesiaan bertemu dengan komitmen keislaman saya dalam rumah epistemologis-ideologis yang bernama Pancasila. Jika sila ketuhanan diposisikan dalam titik sentral, maka yang dimaksudkan adalah kebertuhanan yang menumbuhkan komitmen kemanusiaan yang bermuara kepada kesejahteraan yang berkeadilan bagi rakyat Indonesia. Kalaupun sila kemanusiaan yang menjadi pijakan sentral, yang diharapkan adalah perilaku kemanusiaan yang berketuhanan dan yang peduli kepada agenda keadilan dan kesejahteraan bangsa.

            Dengan demikian, saya tidak mau memperhadapkan antara tradisi kejawaan saya dengan semangat keindonesiaan dan keislaman. Lebih dari itu, setiap ajaran agama selalu memerlukan rumah dan teritori negara sebagai tempat untuk tumbuh berkembang. Membayangkan dunia hanya diisi dan dikuasai satu bahasa, etnis, budaya, dan agama adalah mustahil. Di samping itu juga tidak menarik dihuni.

            Dengan segala keterbatasan yang melekat, saya belajar ilmu keislaman yang disajikan terutama dalam bahasa Arab dan Inggris. Meskipun Al-Quran saya yakini sebagai wahyu Allah, tetapi bahasa mediumnya adalah lisan Arab yang terikat dengan tradisi dan kaidah budaya.

            Oleh karena itu, jika disebutkan salah satu kemukjizatan Al-Quran terletak pada dimensi keindahan dan keunggulan bahasanya, terus terang saya tidak mudah menghayati dan menyelaminya karena saya bukan ahli sastra Arab. Saya cukup percaya saja kepada pendapat yang ahli bahasa Arab. Bahkan ketika berdoa dalam bahasa Arab, otak dan hati saya berbicara kepada Tuhan dengan bahasa Indonesia dan Jawa. Bibir saya mengucapkan bahasa Arab-Al Quran, tetapi hati saya berbahasa Indonesia. Dengan demikian, saya sembahyang menggunakan multibahasa. Jika kekhusyukan shalat itu di hati, maka hati saya jangan-jangan shalat dengan bahasa ibu. Agam dan budaya saling membantu dalam shalat saya.

            Mengingat kitab suci lahir dan terbakukan dalam ranah budaya, maka tanpa mengetahui bahasa dan budaya tempat lahir sebuah kitab suci banyak pesannya yang tidak tertangkap. Bagi diri saya yang lahir dan tumbuh di Indonesia, untuk memahami pesan Tuhan yang terkandung dalam kitab suci Al Quran terdapat banyak hambatan serius. Pertama, hambatan bahasa. Saya memahami dan mereproduksi ulang pesan Al Quran dalam benak saya yang menggunakan bahasa Indonesia. Padahal, karakter bahasa Arab dan Indonesia memiliki perbedaan serius. Jumlah kosa kata bahasa Arab lebih kaya dibandingkan bahasa Indonesia sehingga banyak sekali kata dan istilah dalam Al Quran yang tidak ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, terjadilah distorsi dan penyempitan makna ketika diterjemahkan mengingat banyak diksi dalam kitab suci yang bersifat konseptual sehingga memerlukan penjelasan panjang lebar.

Universalitas dan Lokalitas

            Yang sangat membantu diri saya untuk menangkap pesan dasar agama dan kemanusiaan adalah adanya konsep universalitas yang didukung penalaran rasional. Apa pun bahasa, agama, dan budaya seseorang mereka sepakat bahwa dalam perilaku dan pergaulan internasional terdapat nilai-nilai universal yang sama-sama ingin dijawa dan ditegakkan. Misalnya, konsep dan keinginan untuk menegakkan keadilan, kejujuran, perdamaian, dan hidup saling hormat-menghormati.

            Dalam kajian psikologi moral dikatakan, setiap pribadi ingin meraih well being, hidup yang baik, benar, dan bahagia. Untuk meraih itu, salah satu syarat mutlak yang mesti dipenuhi adalah mampu membangun a good relationship, hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya dan yang memiliki kepentingan dengannya. Hal ini meniscayakan sikap untuk selalu menghormati perbedaan, menerima perbedaan, dan merayakan perbedaan itu. Jadi, menghargai keragaman merupakan keniscayaan jika ingin hidup damai.

            Bahwa dalam sejarah terjadi konflik, peperangan dan kejahatan, semua itu kenyataan yang tak terhindarkan. Manusia terlahir dengan membawa nafsu dan kecenderungan egoistik serta tega memangsa yang lain. Namun, rasanya nalar sehat sepakat mengatakan bahwa kebaikan, kebenaran, keindahan, dan kedamaian serta keadilan merupakan realitas yang diidealkan dan selalu didambakan sepanjang sejarah. Semua itu sejalan dengan pesan agama, sehingga peperangan dan kejahatan dianggap melawan ajaran dasar agama dan peradaban.

            Mengingat semua agama diyakini datang dari Tuhan pencipta manusia, maka nilai-nilai dasar agama memiliki perhatian kepada agenda kemanusiaan universal, sekalipun agama lahir dan etrbentuk dalam jubah budaya dan bahasa yang bersifat lokal. Oleh karena itu, pesan universalitas agama terwadahi dalam format lokalitas bahasa dan budaya. Hanya saja ketika jumlah penduduk bumi semakin banyak, tak sebanding dengan jumlah penduduk di saat agama-agama itu lahir, dan perjumpaan lintas pemeluk agama juga berlangsung secara intensif, maka nilai-nilai universal agama sering kali tertutupi dengan bungkus lokalnya.

            Bungkus yang semula merupakan budaya lokal serta profan lalu disakralkan. Membela budaya seakan identik dengan membela agama. arabisme dan Islamisme lalu tak terpisahkan. Sementara itu, agama Kristen yang juga lahir di wilayah Timur Tengah sekarang ter-“Barat”-kan.

            Keberagamaan di Nusantara ini bisa menjadi dalam berbagai aspeknya lebih esensial, substantif, tetapi oleh sebagian orang dipandang dangkal, pinggiran. Mungkin sekali umat Islam Indonesia lebih bersemangat dalam melaksanakan ibadah. Lebih toleran dan senang menjaga keamanan ketimbang masyarakat Arab yang ribut bertengkar dan berperang dengan membawa jargon keagamaan.

            Misalnya saja konflik Sunni-Syiah, itu warisan lama perebutan kekuasaan politik umat Islam Arab sepeninggal Rasulullah. Sementara di Indonesia, para sultan rela membubarkan diri demi lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

            Jadi, mengapa perebutan politik di Timur Tengah mau dibawa-bawa ke Indonesia dengan baju keagamaan? Kita mesti bedakan antara universalitas Islam dan lokalitas bahasa serta budaya yang menjadi medium dan kendaraannya.

Penulis adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel dimuat dalam Kolom Opini, Kompas, Jumat 26 Juni 2015