Ruang Diorama, BERITA UIN Online –  Sebanyak 50 mahasiswa penerima beasiswa mengikuti pelatihan penulisan karya ilmiah di Ruang Diorama, Jumat (13/4/2018). Pelatihan yang diselenggarakan Bagian Kemahasiswaan ini merupakan salah satu program pembinaan bagi para penerima beasiswa agar mereka memiliki keahlian tertentu..

Kepala Sub Bagian Administrasi Kemahasiswaan Budi Purwati SPd mengatakan, tujuan pelatihan di antaranya untuk mengembangkan potensi dan bakat mahasiswa dalam menulis karya ilmiah. Selain itu juga guna meningkatkan pemahaman kepada mahasiswa bagaimana cara menulis karya ilmiah dengan baik dan memiliki nilai jual.

“Kegiatan (pelatihan) ini merupakan program rutin tahunan Bagian Kemahasiswaan bagi para mahasiswa penerima beasiswa, baik dari Bidikmisi maupun Badan Layanan Umum UIN Jakarta,” ujarnya.

Menurut Budi, jumlah mahasiswa penerima beasiswa setiap tahun cukup besar. Mereka rata-rata berasal dari daerah dan kurang mampu secara ekonomi namun berprestasi. Hanya saja, untuk membina mereka, prestasi saja tidak cukup, sehingga perlu ada penguatan dalam bidang keterampilan yang akan menjadi bekal saat lulus.

“Jadi, kami juga tetap membina dan mengarahkan mereka (para penerima beasiswa, Red). Ini bagian dari tanggung jawab kami,” jelasnya.

Materi pelatihan disampaikan praktisi riset telekomunikasi Dedi Kurnia Syah Putra dari Universitas Telekomunikasi Bandung, Jawa Barat. Doktor lulusan Universitas Sahid Jakarta di bidang media dan diplomasi politik tersebut selain banyak melakukan penelitian juga termasuk penulis produktif.

Dedi banyak memaparkan mengenai pengenalan teori penulisan karya ilmiah. Ia juga membedakan antara karya ilmiah, artikel, dan feature sesuai karakteristik masing-masing.

“Karya ilmiah bersifat empiris dan obyektif, sedangkan artikel dan feature bersifat subyektif,” jelasnya.

Menurut Dedi, kaidah menulis karya ilmiah berbeda dengan karya populer. Tapi untuk dapat menulis perlu didukung dengan penguasaan kosa kata dan diksi. Syaratnya adalah dengan banyak membaca.

“Secara teknis juga banyak kaidah. Jadi, harus baku sesuai pedoman dan kaidah penulisan karya ilmiah. Apakah mau pakai standar dan gaya Kanada atau Amerika,” kata alumnus Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta itu. (ns)

Share This