Azyumardi: Secara Politik Indonesia Bisa Jadi Mitra Sejajar AS

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hanifudin Mahfuds

Jakarta, UIN Online – Kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Hussein Obama ke Indonesia memunculkan berbagai harapan dan hujatan. Sebagian kalangan berharap agar kunjungan Obama dapat meningkatkan posisi tawar Indonesia di mata negeri Paman Sam itu. Namun, tak sedikit kalangan yang pesimis pemerintah Indonesia dapat menjadi mitra sejajar AS.

Menurut cendekiawan Muslim yang juga Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta, Prof Dr Azyumardi Azra, secara politik Indonesia bisa menjadi mitra yang sejajar AS, karena Indonesia cenderung tidak memiliki ketergantuangan pada negeri adidaya itu, setidaknya jika dibandingkan dengan negara-negera Timur Tengah. Namun secara ekonomi dan ilmu pengetahuan, masih butuh waktu lama untuk bisa sejajar dengan Amerika Serikat.

“Indonesia masih butuh watu lama untuk sejajar dengan Amerika Serikat. Sepuluh atau dua puluh tahun ke depan tidaklah cukup untuk bisa sejajar dengan Amerika Serikat dalam hal ekonomi dan ilmu pengetahuan. Namun, secara politik Indonesia dapat sejajar dengan Amerika,” kata Azra dalam talkshow Apa Kabar Indonesia di TV ONE, Selasa (9/11) pagi.

Seperti diketahui, Presiden Obama akan tiba  ke Indonesia sore ini. Ia akan berada di Indonesia selama dua hari Selasa-Rabu (9-10/11). Selama di Jakarta Obama dijadwalkan akan mengunjungi sejumlah tempat, seperti Universitas Indonesia, Masjid Istiqlal, dan Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Kunjungan Obama ke Indonesia merupakan yang pertama kali sejak terpilih menjadi presiden Amerika Serikat yang ke-44. Sebelumnya, Obama telah dua kali membatalkan kunjungannya ke Indonesia, yakni pada Maret  dan Juni lalu. Tak heran jika publik menilai kunjungan itu setengah hati dan sudah kehilangan momentum.

“Pandangan itu bisa dibenarkan. Tapi seharusnya Indonesia sangat penting untuk dikunjungi Obama, karena merupakan contoh paling nyata dari kompatibilitas Islam dan demokrasi,” kata pria yang belum lama ini meraih penghargaan CBE dari Ratu Inggris itu.

Menurut Azyumardi, jika Obama ingin menjembatani hubungan antara dunia Islam dengan Barat, negeri yang paling utama dikunjungi adalah Indonesia, bukan Mesir maupun Turki. Sebab, Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di dunia yang berhasil menerapkan sistem demokrasi.

Sementara di Timur Tengah, lanjut Azyumardi, AS telah gagal memaksakan demokrasi. “Seharusnya Amerika bisa menunjukkan ke dunia, ini lho Indonesia, negeri yang mayoritas Muslim tapi berhasil menerapkan demokrasi. Agar dunia internasional bisa belajar dari Indonesia,” katanya.

Terkait realisasi dari Kemitraan Komprehensif antara Indonesia dan AS yang akan diresmikan Presiden Obama dan Susilo Bambang Yudhoyono, Azyumardi menilai pesimis. “Saya tidak terlalu optimis terhadap realisasi kemitraan komprehensif. Karena perlu waktu lama. Sekarang AS sedang kekurangan uang, bantuan AS tahun kemarin saja hanya sedikit, jadi AS sepertinya tidak mau mengeluarkan banyak dana. Kalau mau sukses kemitraan komprehensif, maka Indonesia harus mengalokasikan dana yang besar,” jelasnya.

Singkatnya kunjungan Obama ke Indonesia, dikhawatirkan tidak ada agenda dialog dengan tokoh Islam. Menurut Azyumardi, Obama perlu berdialog dengan tokoh Islam moderat di Indonesia. Sebab, jika membicarakan tentang Islam moderat dan demokrasi di Indonesia, peranan organisasi dan kelompok civil society berbasis Islam seperti NU dan Muhammadiyah tidak dapat diabaikan. []