Azyumardi: Luruskan Kekerasan Atas Nama Agama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Muhammad Nurdin

Auditorium, BERITA UIN Online - Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra mengatakan, saat ini masyarakat dan elemen sosial lebih mudah mengamuk dan melakukan berbagai tindakan kekerasan sosial. Semua itu disebabkan munculnya disintegrasi sosial politik dan aksi-aksi yang tidak jelas.

Hal itu dikemukakan cendekiawan Muslim kelahiran Lubuk Alung, Sumatera Barat itu, dalam acara seminar nasional bertajuk “Welfare Approach sebagai Kerangka Strategis Tangkal Kekerasan dan Teroris di Indonesia” yang diselenggrakan Prodi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Kessos-Fidikom) UIN Jakarta, di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Rabu (16/11).

Turut hadir Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komarudiin Hidayat, Dekan FIDKOM Dr Arief Subhan, Kabid Pencegahan Mabes Polri dan Perwira Densus 88 Kombes Pol Herwan Chaidir.

Lebih lanjut, Azra mengatakan, kekerasan sosial dan anarkisme terjadi karena euforia demokrasi yang hampir kebablasan. Selain itu, sudah lenyapnya kesabaran sosial dalam menghadapi realitas kehidupan yang kian sulit sehingga masyarakat mudah melakukan tindakan kekerasan, baik atas nama agama maupun golongan.

Ia menilai, saat ini, banyak masyarakat dan golongan yang menggunakan kedok agama sebagai benteng pelarian. Seperti aksi terorisme, dan kekerasan-kekerasan sosial yang terjadi belum lama ini.  “Semua ini harus diluruskan, sebab agama bukan tempat pelarian dan kedok terorisme, tapi agama adalah tempat perdamaian,” ujarnya.

Menurut Azra, dalam konteks agama, terdapat kalangan Muslim Indonesia yang lebih menonjolkan identitas Islam tradisionalnya, karena ia mendukung gagasan Islam tradisional. Implikasinya jelas, orang atau kelompok yang bersangkutan menganggap Muslim yang lebih menonjolkan identitas Islam Indonesia sebagai orang yang ‘tidak sempurna” keislamannya. Lebih jauh, penonjolan identitas tradisional dengan segera mengalami kontestasi dan konflik dengan identitas nasional keindonesiaan.

Sementara itu, Kamis (17/11), Wakil Menteri Agama Prof Dr Nasarudiin Umar mengatakan, sebenarnya persoalan terorisme sudah muncul cukup lama. Namun, persoalan ini timbul kembali dan mulai menggaung di tengah-tengah masyarakat dengan ditutupi oleh baju agama, yakni Islam.

“Agama hanya menjadi kedok, dan agama hanya menjadi tempat pelarian dari masalah,” kata Guru Besar Fakultas Ushuluddin itu.

Lebih lanjut, dari segi penamaan, Islam merupakan agama yang bernilai dan mempunyai ukuran-ukuran yang menghalagi atau membatasi hal-hal yang dilarang. Islam memerintahkan untuk selalu berdamai dan berbuat baik dengan alam raya maupun dengan Sang Khalik. Sikap yang memuliakan kemanusian sudah terjawab dalam al-Quran, walaqad karramna bani adam.

Ia melanjutkan, Islam memberikan toleransi yang sangat tinggi kepada setiap manusia dan tidak membedakan ras, agama, ataupun golongan. Karena itu wajarlah bila Allah mensakralkan manusia. Karena manusia merupakan makhluk yang paling mulia, bahkan ketika manusia meninggal kita harus memperlakukannya dengan baik yaitu dengan memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburnya atau diperlakukan dengan baik.[]