UIN Jakarta, BERITA UIN Online – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan penghargaan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture (SML) tahun 2017 kepada Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam UIN Jakarta, Prof Dr Azyumardi Azra, MA, CBE pada Rabu (23/8). Penghargaan ini diberikan atas prestasinya di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kemanusiaan.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala LIPI-Bambang Subiyakto, kegiatan ini dilaksanakan atas pertimbangan LIPI sebagai lembaga keilmuan terbesar yang sudah semestinya menyelenggarakan kegiatan keilmuan setiap tahunnya. “Di usia genap 50 tahun ini kami wujudkan dengan memberikan anugerah dan penyampaian orasi ilmiah kepada ilmuwan, salah satunya Prof Azyumardi Azra,” ujarnya.

Bambang menambahkan, penghargaan terhadap Azra diberikan atas dasar dedikasinya di bidang keilmuan yang ia geluti, sejarah peradaban Islam Indonesia. “”Dedikasi dan konsistensi beliau dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sejarah dan peradaban Islam di Indonesia, yang membuatnya layak memperoleh apresiasi dari LIPI,” jelasnya.

Menurut informasi yang dihimpun BERITA UIN Online, penghargaan SML adalah bentuk apresiasi LIPI kepada perorangan atas pencapaiannya yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kemanusiaan. Diantara ilmuwan telah diberi anugerah yang sama seperti Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Tjia May On Tjia May On (2016) atas kiprahnya ysebagai satu-satunya ilmuwan Indonesia yang mengembangkan teori relativitas dan riset mengenai laser di awal abad 20 dan Prof Dr Harry Truman Simanjuntak, DEA atas kiprah risetnya di bidang arkeologi.

Bagi Azra sendiri, penghargaan ini mendambah daftar penghargaan yang didapatnya. Sebelumnya ia di tahun 2010, ia memperoleh gelar Commander of the Order of British Empire, sebuah gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris. Di tahun 2015, ia juga dianugerahi penghargaan Cendekiawan Berdedikasi dari Harian Kompas atas konsistensi dan produktifitasnya menuliskan gagasan.

Seperti diketahui, Azra yang lahir di Lubuk Alung, Sumatra Barat, 4 Maret 1955 ini merupakan ilmuwan yang produktif dan aktif dalam pengembangan pendidikan dan keilmuan di tanah air. Ia menjadi Rektor (1998-2006) dan Direktur Sekolah Pascasarjana (2006-2015) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebelumnya di 1993, Ia mendirikan jurnal Studia Islamika, sebuah jurnal Indonesia untuk studi Islam di Asia Tenggara, dan pada tahun 1994, Ia mempelopori berdirinya PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) UIN Jakarta.

Lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta (1982) ini menyelesaikan Master of Art (MA) pada  Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah (1988) dan Master of Philoshophy pada Depertemen Sejarah (1990), di Columbia University. Di Kampus yang sama, ia juga meraih gelar doktor sejarah dengan disertasi The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama ini the Seventeenth and Eighteenth Centuries. Belakangan disertasi tersebut dipublikasikan di Canberra, Honolulu, dan juga Leiden, Belanda juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII.

Sebagai akademisi, Azra pernah menjadi profesor tamu pada University of Philippines, Philipina dan University Malaya, Malaysia, keduanya pada tahun 1997. Dan antara tahun 1997-1999 Ia merupakan anggota dari Selection Committee of Southeast Asian Regional Exchange Program (SEASREP) yang diorganisasi oleh Toyota Foundation dan Japan Center, Tokyo. Ia juga pernah menjadi orang Asia Tenggara pertama yang diangkat sebagai Professor Fellow di Universitas Melbourne, Australia pada 2004-2009, dan anggota Dewan Penyantun (Board of Trustees) International Islamic University Islamabad Pakistan pada tahun 2004-2009.

Menanggapi penghargaan yang didapat Azra, Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada MA menyampaikan selamat dan berharap komitmen dan konsistensinya dalam ranah akademik bisa menjadi contoh bagi sivitas akademi UIN Jakarta lainnya. “Semoga komitmen dan konsistensinya di ranah keilmuan yang digeluti menjadi contoh bagi akademisi UIN Jakarta lainnya,” katanya. (Farah NH/syarifaeni fahdiah/zm)

Share This