Auditorium Sekolah Pascasarjana, BERITA UIN Online – Asumsi yang berkembang selama ini, sikap intoleran itu hanya melekat pada umat Islam saja. Seolah-olah umat lain di luar umat Islam, selalu berada pada jalur toleransi. Padahal, umat lain pun, melakukan sikap intoleransi dengan terang benderang.

Pikiran di atas digulirkan Prof Dr Azyumardi Azra CBE pada sidang disertasi Arhanuddin Salim di Auditorium Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, pekan silam. Disertasi bertajuk “Pendidikan Agama Lintas Iman: Studi Komparatif Model Pendidikan Lintas Iman di Interfidei Yogyakarta, ICRP Jakarta, dan Jakataru – Bandung” ini, dianggap Azra tidak mengungkap fakta lain perihal intoleransi di ranah umat non Islam.

Promovendus Arhanuddin memberi paparan bahwa Manado tempat dia dibesarkan adalah kota paling toleran pada kurun waktu 2017. Data ini berdasarkan survei Setara Institute yang memosisikan Manado sebagai kota paling toleran. Dalam survei Setara Institute, skor toleransi tertinggi diraih Kota Manado 5,90 persen, dilanjutkan Pematangsiantar, Salatiga, Singkawang, Tual, Binjai, Kotamobagu, Palu, Tebing Tinggi, dan Surakata.

“Jangan suka bikin statemen sendiri bahwa Manado kota paling toleran. Itu kan menurut survei Setara Institute. Saya pernah ke Manado. Dan saya menemukan banyak fakta bahwa di Manado berkembang sikap intoleran terhadap kelompok agama lain,” ujar Azra kepada promovendus Arhanduddin.

Azra lebih jauh memaparkan fakta bahwa di birokrasi pemerintah Kota Manado, persentase umat Islam yang menduduki pos-pos strategis amat sedikit. Situasi seperti ini mempertegas bahwa sikap intoleran juga tumbuh subur di kalangan non Muslim. Sikap toleran dan sikap pluralis hanya dipahami dalam kaca mata sepihak.

Dalam konteks inilah, Arhanuddin menjelaskan bahwa perlunya penerapan konsep pluralisme agama di dalam materi pendidikan agama. Studi agama yang diajarkan di sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi sudah seharusnya direkonstruksi ulang. Peserta didik seharusnya bisa belajar agama, tidak hanya sebatas mengetahui agamanya saja.

“Dialog antar agama yang selama ini cenderung elitis, hanya dilakukan para pemimpin agama dan kadang kala menjadi alat politik pemerintah untuk mengkooptasi umat beragama dengan segala macam kebijakannya, harus mulai digeser ke dalam sistem pendidikan,” tegas Arhanuddin.

Dalam sidang ujian disertasi tersebut, Arhanuddin berhasil meraih prestasi Cumlaude dengan IPK 3.66. Selain Prof Dr Azyumardi Azra, penguji lain yang membedah disertasi Arhanduddin di antaranya; rof. Dr. Sutjipto; Prof. Dr. Armai Arief, M.Ag; Prof. Dr. Abuddin Nata, MA; Prof. Dr. Masykuri Abdillah; dan Prof. Dr. Didin Saepudin, MA. (Edy E)

Share This