Sekolah Pascasarajan UIN Jakarta – BERITA UIN Online: Radikalisme akan sulit berkembang di Indonesia. Kesulitan berkembangnya radikalisme ini karena ada beberapa organisasi besar seperti NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, yang mampu menjaga harmonisasi kehidupan keberagamaan di Indonesia.

Pikiran di atas digulirkan Prof Dr Azyumardi Azra, MA, CBE ketika memberi sambutan pada Konferensi Internasional bertajuk “Southeast Asian Islam, Religious Radicalism, Democrasy and Global Trends”, yang digelar PPIM UIN Jakarta pada 8-10 Agustus 2017, semalam.

Bagi Azra, Indonesia tidak seperti Tunisia dan Mesir. Di Tunisia dan Mesir, mengingat jumlah pendukunnya yang tidak sebanyak Indonesia, letupan radikalisme itu akan cepat meledak.

Lebih jauh Azra menjelaskan, di Tunisia dan Mesir letupan radikalisme akan cepat berkembang. Ini beda dengan di Indonesia. Sekitar 88,2 persen dari 240-an juta warga Indonesia adalah Muslim.

“Karena faktor demografi ini, kaum Muslimin menjadi faktor utama dari apakah demokrasi bisa diterima atau tidak. Tanpa penerimaan mereka, demokrasi sulit bertumbuh atau tanpa dukungan mereka, transisi dan konsolidasi demokrasi sulit berjalan baik,” ungkap Azra, perintis dan Editor-in-Chief jurnal Studia Islamika sejak 1994.

Yang menjadi persoalan adalah, ketika iklim demokrasi di Indonesia lebih baik daripada Tunisia dan Mesir tapi pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia berjalan cukup lamban. Situasi ini juga bisa dilihat lebih mencolok ketika perbandingan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan China dan Singapore.

“Di China dan Singapore, iklim demokrasinya tak lebih baik dari Indonesia. Tapi pertumbuhan dan perkembangan di kedua negara tersebut, jauh lebih baik daripada Indonesia,” tegas Azra, Guru Besar Sejarah Islam sekaligus Rektor UIN Jakarta periode 1998-2006.

Hadirkan 80 Peneliti dari 13 Negara

Pada kesempatan pembukaan Konferensi Internasional tersebut, Azra menjelaskan konferensi internasional ini, akan digelar selama dua hari,di PPIM UIN Jakarta pada 8-10 Agustus 2017 dalam 23 panel terpisah. Konferensi ini dihadiri sekitar 80 peneiti dari 13 negara. Para panelis akan membahas ancaman dan bahaya radikalisme keagamaan di Asia Tenggara.

“Jangan sampai peristiwa tragis di Marawi, Filipina, terjadi di wilayah lain, apalagi Indonesia. Konferensi kali ini terasa spesial karena para pembicara yang hadir merupakan pakar terkemuka dalam isu-isu keagamaan kontemporer di Indonesia dan ASEAN,” ujar Azra.

Para pakar terkemuka yang dimaksud Azra seperti Prof. Imtiyaz Yusuf (Mahidol University, Thailand), Dr. Sidney Jones (Institute for Policy Analysis of Conflict, IPAC) dan Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA (Independent Permanent Human Rights Commission/IPHRC).

“Tema konferensi yang membahas gerakan keagamaan radikal bukan hanya relevan, tapi sangat penting bagi masa depan agama dan kemanusiaan di ASEAN,” ucap Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini.

Di tepi lain, Dr. Saiful Umam, Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta,menyampaikan pesan pentingnya isu radikalisme agama ini dicermati secara serius.

“Konferensi ini merupakan bukti nyata bahwa para sarjana dan akademisi dunia sangat menaruh perhatian terhadap kondisi Indonesia terkini dan ingin berkontribusi bagi masa depan yang lebih baik di Indonesia dan ASEAN,” ungkap Saiful Umam. (Edy AE)

 

Share This