Azyumardi Azra: Pancasila Perlu Direvitalisasi Ulang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung Pascasarjana, UIN Online - Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Prof Dr Azyumardi Azra mengatakan, bangsa Indonesia perlu mengkaji ulang makna Pancasila. Menurutnya, seperti pada sila kelima, yakni Keadlilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, belum dirasakan bagi masyarakat bawah.

“Karena itu perlu revitalisasi ulang terhadap pemaknaan Pancasila dengan keadaan sekarang,” jelas Azra dalam seminar nasional bertema “Islam dan Wawasan Kebangsaan” yang digelar SPs UIN bekerja sama dengan Sekretariat Wakil Presiden RI di Gedung SPs, Rabu (25/11). Meski begitu, Azra mengingatkan bahwa Pancasila bagi bangsa Indonesia sudah harga mati yang tidak bisa diubah.

Revitalisasi Pancasila dapat dimulai dengan menjadikan Pancasila kembali sebagai wacana umum (public discourse), sehingga terjadi kembali kesadaran publik Pancasila dan posisinya yang krusial dalam kehidupan bernegara.

“Juga Pancasila dijadikan sebagai ideologi terbuka yang memungkinkannya dapat diperbaharui dan dimaknai agar tetap relevan,” tuturnya yang juga Dewan Penasehat Centre For the Study of Contemporary Islam (CSCI) University of Melbourne.

Sementara Deputi Direktur Bidang Akademik dan Kerjasama Dr Fuad Jabali mengatakan, pada zaman Nabi SAW Islam sangat menghormati keyakinan yang berbeda. Kedamaian serta kerukunan beribadah, sangat dirasakan tanpa mempermasalahkan agama tertentu. Hal Itu terlihat dalam piagam Madinah yang menjadi perjanjian antara kaum Quraisy dan penduduk Madinah.

“Saat itu kaum Quraisy dan penduduk Yastrib (Madinah) bersatu yang kita kenal dengan ummah,” kata Fuad. Ummah adalah, kumpulan beberapa kelompok masyarakat dengan budaya dan agama yang berbeda.

Fuad menjelaskan, meski ummah dibentuk tidak secara otomatis (butuh aturan) namun ketika masyarakat sudah berada didalamnya akan merasakan kedamaian. Di samping, juga memiliki batas wilayah tertentu.

“Ketika masyarakat sudah berada di dalamnya, ia akan merasa aman dengan perlindungan hukum yang ada. Berbeda ketika seseorang berada diluar dari ummah tadi,” jelas Fuad. Ia menyayangkan, ummah kini seakan telah hilang maknanya dari bangsa Indonesia.

Hadir dalam acara itu Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Prof Dr Dede Rosyada, Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Dr Jajat Burhanuddin, dan Deputi Wakil Presiden Bidang Politik Prof Dr Djohermansyah Djohan.

 

Azyumardi Azra: Pancasila Perlu Direvitalisasi Ulang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung Pascasarjana, UIN Online - Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Prof Dr Azyumardi Azra mengatakan, bangsa Indonesia perlu mengkaji ulang makna Pancasila. Menurutnya, seperti pada sila kelima, yakni Keadlilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, belum dirasakan bagi masyarakat bawah.

“Karena itu perlu revitalisasi ulang terhadap pemaknaan Pancasila dengan keadaan sekarang,” jelas Azra dalam seminar nasional bertema “Islam dan Wawasan Kebangsaan” yang digelar SPs UIN bekerja sama dengan Sekretariat Wakil Presiden RI di Gedung SPs, Rabu (25/11). Meski begitu, Azra mengingatkan bahwa Pancasila bagi bangsa Indonesia sudah harga mati yang tidak bisa diubah.

Revitalisasi Pancasila dapat dimulai dengan menjadikan Pancasila kembali sebagai wacana umum (public discourse), sehingga terjadi kembali kesadaran publik Pancasila dan posisinya yang krusial dalam kehidupan bernegara.

“Juga Pancasila dijadikan sebagai ideologi terbuka yang memungkinkannya dapat diperbaharui dan dimaknai agar tetap relevan,” tuturnya yang juga Dewan Penasehat Centre For the Study of Contemporary Islam (CSCI) University of Melbourne.

Sementara Deputi Direktur Bidang Akademik dan Kerjasama Dr Fuad Jabali mengatakan, pada zaman Nabi SAW Islam sangat menghormati keyakinan yang berbeda. Kedamaian serta kerukunan beribadah, sangat dirasakan tanpa mempermasalahkan agama tertentu. Hal Itu terlihat dalam piagam Madinah yang menjadi perjanjian antara kaum Quraisy dan penduduk Madinah.

“Saat itu kaum Quraisy dan penduduk Yastrib (Madinah) bersatu yang kita kenal dengan ummah,” kata Fuad. Ummah adalah, kumpulan beberapa kelompok masyarakat dengan budaya dan agama yang berbeda.

Fuad menjelaskan, meski ummah dibentuk tidak secara otomatis (butuh aturan) namun ketika masyarakat sudah berada didalamnya akan merasakan kedamaian. Di samping, juga memiliki batas wilayah tertentu.

“Ketika masyarakat sudah berada di dalamnya, ia akan merasa aman dengan perlindungan hukum yang ada. Berbeda ketika seseorang berada diluar dari ummah tadi,” jelas Fuad. Ia menyayangkan, ummah kini seakan telah hilang maknanya dari bangsa Indonesia.

Hadir dalam acara itu Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Prof Dr Dede Rosyada, Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Dr Jajat Burhanuddin, dan Deputi Wakil Presiden Bidang Politik Prof Dr Djohermansyah Djohan.