Arti Dakwah Sangat Luas Cakupannya

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung FUF, UINJKT Online - Ketua Departemen Riset dan Kajian Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Samson Rahman mengatakan, untuk menjadi da’i di era global saat ini harus memiliki sarana yang digunakan dalam berdakwah. Dan sarana itu diantaranya dengan menguasai dua bahasa yaitu Bahasa Arab dan Inggris.

“Dua bahasa tersebut merupakan bahasa yang diakui di dunia. Di samping seorang da’i atau da’iah juga harus memiliki bidang keilmuan lainnya,” kata Rahman dalam seminar dan workshop dengan tema ‘Eksistensi Da’i dan Da’iah Muda Indonesia di Era Globalisasi’ yang diadakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Komisariat dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) di ruang teater FUF, Kamis (4/6). 

Lebih lanjut ia mengatakan, disamping seorang da’i berpidato di podium, da’i juga harus memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Ia mencontohkan da’i juga dapat berdakwah melalui seperti tulisan, film, dan produser.

“Karena itu arti dakwah sangat luas cakupannya. Dengan tentunya, seorang da’i harus memiliki multi talented dalam menyampaikan isi dakwah,” jelas Rahman.

Sementara itu dosen Ilmu Dakwah FDK Dr Fatmawati mengatakan, siapa pun bisa menjadi da’i asal ada kemauan dan berkeinginan untuk belajar. Bagi Fatma, bakat tidak menjadi penghalang untuk menjadi seorang da’i atau da’iah. 

“Siapa pun bisa menjadi da’i atau da’iah asal dapat memberi kebaikan untuk orang lain,” ujarnya yang juga mantan juri da’i dan da’iah di salah satu stasiun tv swasta pada 2006 itu.

 

Terkait di era globalisasi saat ini, Fatma mengatakan, menjadi seorang da’i dan da’iah memiliki delapan persyaratan seperti niat ikhlas karena Allah SWT, cocok antara perkataan-perbuatan dalam kehidupan, ada kemauan atau percaya diri untuk berdakwah, dan professional dalam mengelola dakwah.

Arti Dakwah Sangat Luas Cakupannya

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung FUF, UINJKT Online - Ketua Departemen Riset dan Kajian Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Samson Rahman mengatakan, untuk menjadi da’i di era global saat ini harus memiliki sarana yang digunakan dalam berdakwah. Dan sarana itu diantaranya dengan menguasai dua bahasa yaitu Bahasa Arab dan Inggris.

“Dua bahasa tersebut merupakan bahasa yang diakui di dunia. Di samping seorang da’i atau da’iah juga harus memiliki bidang keilmuan lainnya,” kata Rahman dalam seminar dan workshop dengan tema ‘Eksistensi Da’i dan Da’iah Muda Indonesia di Era Globalisasi’ yang diadakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Komisariat dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) di ruang teater FUF, Kamis (4/6). 

Lebih lanjut ia mengatakan, disamping seorang da’i berpidato di podium, da’i juga harus memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Ia mencontohkan da’i juga dapat berdakwah melalui seperti tulisan, film, dan produser.

“Karena itu arti dakwah sangat luas cakupannya. Dengan tentunya, seorang da’i harus memiliki multi talented dalam menyampaikan isi dakwah,” jelas Rahman.

Sementara itu dosen Ilmu Dakwah FDK Dr Fatmawati mengatakan, siapa pun bisa menjadi da’i asal ada kemauan dan berkeinginan untuk belajar. Bagi Fatma, bakat tidak menjadi penghalang untuk menjadi seorang da’i atau da’iah. 

“Siapa pun bisa menjadi da’i atau da’iah asal dapat memberi kebaikan untuk orang lain,” ujarnya yang juga mantan juri da’i dan da’iah di salah satu stasiun tv swasta pada 2006 itu.

 

Terkait di era globalisasi saat ini, Fatma mengatakan, menjadi seorang da’i dan da’iah memiliki delapan persyaratan seperti niat ikhlas karena Allah SWT, cocok antara perkataan-perbuatan dalam kehidupan, ada kemauan atau percaya diri untuk berdakwah, dan professional dalam mengelola dakwah.