Kemenag, BERITA UIN Online – Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Arskal Salim yang ikut dalam workshop Islamic World Science Citation Center (ISC) di Shiraz, Iran, mengatakan  ada empat hal yang akan segera ditindaklanjuti sebagai hasil pertemuan workshop di Shiraz ini.

ISC menggelar Workshop on Increasing Impact of Research: Strategies and Practical Solution. Workhsop yang berlangsung dari 4 – 7 Maret 2018 di Shiraz-Iran,  menyepakati perlunya lembaga yang berkonsentrasi khusus di bidang sitasi jurnal yang mengakomodir negara-negara muslim yang tergabung dalam OKI (Organisasi Konferensi Islam).

Empat hal yang akan segera ditindaklanjuti Arskal Salim sebagai hasil pertemuan workshop itu, pertama, ISC meminta kesediaan Indonesia, dalam hal ini Kementerian Agama RI, untuk menjadi anggota Steering Committee pada lembaga penyedia sistem sitasi ini.

Hal kedua, menurut Arskal, lebih 800 jurnal yang terdapat dalam jaringan portal moraref, ada 65 (enam puluh lima) jurnal di lingkungan PTKI yang saat ini telah terakreditasi pada Kemenristek-Dikti dengan skor A dan B. Ke-65 jurnal ini diharapkan dapat diproses untuk internationally indexed melalui ISC.

Moraref adalah portal akademik yang diinisiasi oleh Kementrian Agama untuk mendorong dan membantu digitalisasi dan indeksasi jurnal ilmiah di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam. (info selengkapnya, sila klik: moraref)

“Ke depan, seluruh isi artikel yang terdapat di portal moraref@kemenag.go.id akan diusulkan untuk terindeks juga di ISC. Dengan demikian, pelan-pelan Moraref akan dapat menyusun sebuah klasifikasi atau tipologisasi jurnal di lingkungan PTKI,” ungkap Arskal.

Langkah ketiga, ISC memiliki publishing house dan bersedia untuk menerbitkan proceeding sejumlah konferensi internasional yang diselenggarakan oleh PTKI pada tahun 2018 ini. “Tawaran ISC ini cukup menarik karena tanpa biaya dari DIPA PTKIN ataupun Kementerian Agama RI”, ungkap Arskal.

Sedangkan tindaklanjut keempat, menurut Arskal, ISC telah menawarkan sejumlah workshop internasional tentang indeksasi publikasi dan teknik penulisan artikel jurnal internasional bagi dosen PTKIN ataupun jajaran editor jurnal. “Keempat hal ini akan segera kami persiapkan langkah tindaklanjutnya,” tandas Arskal.

Selain Arskal Salim, tim Diktis  yang ikut dalam workshop ISC adalah Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Suwendi, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama, Agus Sholeh, dan beberapa pimpinan LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian) UIN Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Aceh.

Pertemuan ini dihadiri Presiden ISC, M.J. Dehgahni dan sejumlah peneliti, termasuk dari Malaysia. ISC lahir sebagai tindak lanjut pertemuan “Islamic Conference of Ministeries of Higher Education and Scientific Research” yang dilaksanakan oleh ISESCO tahun 2008. (lrf/EAE)