Arkeologi Islam Akan Alami Kemajuan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Bertepatan dengan hari ulang tahun arkeolog perkotaan Islam nusantara, Uka Tjandrasasmita ke 80, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) menggelar peluncuran buku Arkeologi Islam Nusantara. Buku yang dinilai pakar arkeologi, filologi dan sejarah ini sebagai karya mutakhir pada masa lalu dan sangat relevan untuk masa kini merupakan kumpulan karya-karya Uka selama 80 tahun. Peluncuran dihadiri Rektor UIN Prof Dr Komaruddin Hidayat, mantan Dirjen Kebudayaan Depdiknas Prof Dr Edi Sedyawati, Dekan FAH Dr Abdul Choir serta sejumlah kerabat dekat Uka. Acara dilakukan di Gedung Syahida Inn, Kamis (8/10). Berikut cuplikan wawancara Jamilah dari UIN Online dengan Prof Dr Uka Tjandrasasmita.

Bagaimana pengalaman Anda dalam menggeluti arkeologi Islam?

Dulu ketika saya sekolah, intelektual arkeolog sangat jarang yang berbicara tentang arkeologi Islam. Kebanyakan dari mereka hanya membicarakan masalah Hindu, Budha dan prasejarah. Hal ini terjadi mungkin karena memang sangat terkait dengan sosiopolitik bangsa ketika itu. Dari segi zaman penjajahan sosiopolitik kurang berkenan dan Islam saat itu memang sangat diperhitungkan. Sehingga penelitian tentang arkeologi Islam memang sangat terbatas. Walaupun ada seorang ilmuan yang keilmuannya sangat hebat, tapi pada akhirnya mereka membantu kolonial juga.

Lantas, bagaimana penelitian bidang arkeologi ketika itu?

Saat itu, penelitian dan penulisan arkeologi lebih menggunakan sistem yang bersifat kebendaan. Para peneliti banyak meneliti dan menulis benda-benda asing saja, Sangat sedikit bahkan hampir tidak ada yang meneliti arkeologi dengan pendekatan sosiologi. Padahal dengan pendekatan sosiologi, penelitian bisa lebih komprehensif karena di dalamnya selain meneliti benda, peneliti juga menggunakan aspek lain dalam meneliti benda tersebut. Di dalamnya peranan masyarakat harus tampak sehingga ilmu lain juga harus dipakai. Sebagai contoh, untuk membedakan identitas Islam Indonesia dan Islam Arab sangat dibutuhkan metode ini, karena kalau dari segi akidah memang keduanya sama, tapi kalau dari praktek kehidupan budaya karena ekspresi masjid, itu butuh penelitian lagi. Karena itu diambil dari akar yg sudah ada, jadi kontinuitas dan itu adalah alat jalan masuknya Islam ke Indonesia sehingga bisa tahu apa dibalik itu.

Anda optimis, ke depan arkeologi Islam akan berkembang?

Alhamdulillah, karena sekarang sudah ada Jurusan Sejarah Peradaban Islam di berbagai Perguruan Tinggi Agama Islam, juga di pasca sarjana UIN dan saya pun sudah mengajar di program ini sejak 1963. Sehingga saya yakin ke depan arkeologi Islam akan progres. Belum lama ini saja ada desertasi peninggalan arkeologi Islam di Fak-Fak, Irian Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Arkeologi Islam Akan Alami Kemajuan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Bertepatan dengan hari ulang tahun arkeolog perkotaan Islam nusantara, Uka Tjandrasasmita ke 80, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) menggelar peluncuran buku Arkeologi Islam Nusantara. Buku yang dinilai pakar arkeologi, filologi dan sejarah ini sebagai karya mutakhir pada masa lalu dan sangat relevan untuk masa kini merupakan kumpulan karya-karya Uka selama 80 tahun. Peluncuran dihadiri Rektor UIN Prof Dr Komaruddin Hidayat, mantan Dirjen Kebudayaan Depdiknas Prof Dr Edi Sedyawati, Dekan FAH Dr Abdul Choir serta sejumlah kerabat dekat Uka. Acara dilakukan di Gedung Syahida Inn, Kamis (8/10). Berikut cuplikan wawancara Jamilah dari UIN Online dengan Prof Dr Uka Tjandrasasmita.

Bagaimana pengalaman Anda dalam menggeluti arkeologi Islam?

Dulu ketika saya sekolah, intelektual arkeolog sangat jarang yang berbicara tentang arkeologi Islam. Kebanyakan dari mereka hanya membicarakan masalah Hindu, Budha dan prasejarah. Hal ini terjadi mungkin karena memang sangat terkait dengan sosiopolitik bangsa ketika itu. Dari segi zaman penjajahan sosiopolitik kurang berkenan dan Islam saat itu memang sangat diperhitungkan. Sehingga penelitian tentang arkeologi Islam memang sangat terbatas. Walaupun ada seorang ilmuan yang keilmuannya sangat hebat, tapi pada akhirnya mereka membantu kolonial juga.

Lantas, bagaimana penelitian bidang arkeologi ketika itu?

Saat itu, penelitian dan penulisan arkeologi lebih menggunakan sistem yang bersifat kebendaan. Para peneliti banyak meneliti dan menulis benda-benda asing saja, Sangat sedikit bahkan hampir tidak ada yang meneliti arkeologi dengan pendekatan sosiologi. Padahal dengan pendekatan sosiologi, penelitian bisa lebih komprehensif karena di dalamnya selain meneliti benda, peneliti juga menggunakan aspek lain dalam meneliti benda tersebut. Di dalamnya peranan masyarakat harus tampak sehingga ilmu lain juga harus dipakai. Sebagai contoh, untuk membedakan identitas Islam Indonesia dan Islam Arab sangat dibutuhkan metode ini, karena kalau dari segi akidah memang keduanya sama, tapi kalau dari praktek kehidupan budaya karena ekspresi masjid, itu butuh penelitian lagi. Karena itu diambil dari akar yg sudah ada, jadi kontinuitas dan itu adalah alat jalan masuknya Islam ke Indonesia sehingga bisa tahu apa dibalik itu.

Anda optimis, ke depan arkeologi Islam akan berkembang?

Alhamdulillah, karena sekarang sudah ada Jurusan Sejarah Peradaban Islam di berbagai Perguruan Tinggi Agama Islam, juga di pasca sarjana UIN dan saya pun sudah mengajar di program ini sejak 1963. Sehingga saya yakin ke depan arkeologi Islam akan progres. Belum lama ini saja ada desertasi peninggalan arkeologi Islam di Fak-Fak, Irian Barat.