Arief Rahman: Pola Pendidikan Tepat Cegah Bullying

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone





%%IEHACK%%PCEtLVtpZiBndGUgbXNvIDEwXT4KCjxzdHlsZT4KLyogU3R5bGUgRGVmaW5pdGlvbnMgKi8KdGFibGUuTXNvTm9ybWFsVGFibGUKe21zby1zdHlsZS1uYW1lOiJUYWJsZSBOb3JtYWwiOwptc28tdHN0eWxlLXJvd2JhbmQtc2l6ZTowOwptc28tdHN0eWxlLWNvbGJhbmQtc2l6ZTowOwptc28tc3R5bGUtbm9zaG93OnllczsKbXNvLXN0eWxlLXBhcmVudDoiIjsKbXNvLXBhZGRpbmctYWx0OjBpbiA1LjRwdCAwaW4gNS40cHQ7Cm1zby1wYXJhLW1hcmdpbjowaW47Cm1zby1wYXJhLW1hcmdpbi1ib3R0b206LjAwMDFwdDsKbXNvLXBhZ2luYXRpb246d2lkb3ctb3JwaGFuOwpmb250LXNpemU6MTAuMHB0Owpmb250LWZhbWlseToiVGltZXMgTmV3IFJvbWFuIjsKbXNvLWFuc2ktbGFuZ3VhZ2U6IzA0MDA7Cm1zby1mYXJlYXN0LWxhbmd1YWdlOiMwNDAwOwptc28tYmlkaS1sYW5ndWFnZTojMDQwMDt9Cjwvc3R5bGU+CgoKPCFbZW5kaWZdLS0+%%IEHACK%%

Reporter: Elly Afriany

 

Auditorium, UINJKT Online – Pakar pendidikan Prof Dr Arief Rahman menilai pola pendidikan yang tepat dapat mencegah bullying di lembaga pendidikan. Bullying  merupakan tindakan kekerasan atau intimidasi secara fisik, verbal, dan psikologis. Bullying biasanya terjadi pada pelajar di sekolah. Hal itu disampaikan Arief Rahman pada Parade Sosial Psikologi UIN 2008 (de’Saiko) yang diselenggarakan Fakultas Psikologi UIN Jakarta, Minggu (16/11) lalu, di Auditorium Utama.

 

Pada seminar yang mengangkat judul Stop Bullying, Arief Rahman menjelaskan kultur sekolah menjadi penting untuk mencegah kekerasan di sekolah. Karena, kultur merupakan nyawa sekolah  yang dapat menciptakan suasana pendidikan yang hidup. ”Tanpa kultur sekolah yang positif, sekolah hanya akan menjadi lembaga pengajaran bukan lembaga pendidikan,” jelasnya.

 

Untuk mendukung kultur sekolah yang positif diperlukan nilai-nilai seperti perasaan, akal dan iman, yang kesemuanya harus dibangun secara seimbang. Sekolah tidak boleh hanya menuntut akal saja. ”Jika itu yang terjadi, maka tidak heran jika kelulusan lebih penting daripada kejujuran,” imbuhnya.

 

Kultur sekolah positif yang dibangun atas tiga hal tadi harus dipahami oleh seluruh anggota sekolah, baik struktur organisasi maupun manajemen sekolahnya. [Nif/Ed]

 

Arief Rahman: Pola Pendidikan Tepat Cegah Bullying

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone





%%IEHACK%%PCEtLVtpZiBndGUgbXNvIDEwXT4KCjxzdHlsZT4KLyogU3R5bGUgRGVmaW5pdGlvbnMgKi8KdGFibGUuTXNvTm9ybWFsVGFibGUKe21zby1zdHlsZS1uYW1lOiJUYWJsZSBOb3JtYWwiOwptc28tdHN0eWxlLXJvd2JhbmQtc2l6ZTowOwptc28tdHN0eWxlLWNvbGJhbmQtc2l6ZTowOwptc28tc3R5bGUtbm9zaG93OnllczsKbXNvLXN0eWxlLXBhcmVudDoiIjsKbXNvLXBhZGRpbmctYWx0OjBpbiA1LjRwdCAwaW4gNS40cHQ7Cm1zby1wYXJhLW1hcmdpbjowaW47Cm1zby1wYXJhLW1hcmdpbi1ib3R0b206LjAwMDFwdDsKbXNvLXBhZ2luYXRpb246d2lkb3ctb3JwaGFuOwpmb250LXNpemU6MTAuMHB0Owpmb250LWZhbWlseToiVGltZXMgTmV3IFJvbWFuIjsKbXNvLWFuc2ktbGFuZ3VhZ2U6IzA0MDA7Cm1zby1mYXJlYXN0LWxhbmd1YWdlOiMwNDAwOwptc28tYmlkaS1sYW5ndWFnZTojMDQwMDt9Cjwvc3R5bGU+CgoKPCFbZW5kaWZdLS0+%%IEHACK%%

Reporter: Elly Afriany

 

Auditorium, UINJKT Online – Pakar pendidikan Prof Dr Arief Rahman menilai pola pendidikan yang tepat dapat mencegah bullying di lembaga pendidikan. Bullying  merupakan tindakan kekerasan atau intimidasi secara fisik, verbal, dan psikologis. Bullying biasanya terjadi pada pelajar di sekolah. Hal itu disampaikan Arief Rahman pada Parade Sosial Psikologi UIN 2008 (de’Saiko) yang diselenggarakan Fakultas Psikologi UIN Jakarta, Minggu (16/11) lalu, di Auditorium Utama.

 

Pada seminar yang mengangkat judul Stop Bullying, Arief Rahman menjelaskan kultur sekolah menjadi penting untuk mencegah kekerasan di sekolah. Karena, kultur merupakan nyawa sekolah  yang dapat menciptakan suasana pendidikan yang hidup. ”Tanpa kultur sekolah yang positif, sekolah hanya akan menjadi lembaga pengajaran bukan lembaga pendidikan,” jelasnya.

 

Untuk mendukung kultur sekolah yang positif diperlukan nilai-nilai seperti perasaan, akal dan iman, yang kesemuanya harus dibangun secara seimbang. Sekolah tidak boleh hanya menuntut akal saja. ”Jika itu yang terjadi, maka tidak heran jika kelulusan lebih penting daripada kejujuran,” imbuhnya.

 

Kultur sekolah positif yang dibangun atas tiga hal tadi harus dipahami oleh seluruh anggota sekolah, baik struktur organisasi maupun manajemen sekolahnya. [Nif/Ed]